Cidera Ramadhan

Cidera Ramadhan

Di sabtu (04/09) pagi yang cerah kebetulan saat itu aku sedang berada di sekitaran kawasan Pasar Pandaan yang sedang rame-ramenya. Apalagi saat mendekati hari raya seperti sekarang, wuih kemacetan ala kota kecil ini tentu bukan hal yang mengejutkan bagi kami warga Pandaan. Oh iya, kota kecil ku ini sangatlah unik, meski kecil namun perkembangannya sangatlah pesat, mulai dari sektor industrinya, ekonominya dan juga infrastruktur yang mendukung pembangunannya. Maklumlah, karena selain sebagai kota penghubung utama 2 kota Metropolitan Jatim (Surabaya-Malang) konon Pandaan juga digadang-gadang sebagai calon ibu kota baru Provinsi Jatim kelak karena menilik segala potensi yang ada pada kota ini.

Kembali ke cerita awal ku tadi. Di tengah hiruk pikuk suasana sekitaran pasar yang khas, aku yang saat itu ada di pinggiran sebuah toko tepi jalan tiba-tiba didatangi oleh 3 orang ibu yang dandanan dan aksesori yang menempel di tubuhnya sama. Namun tak dinyana ternyata mereka datang kepadaku dengan menengadahkan tangannya seolah menodongku agar menyerahkan sekeping sedekah ala kadarnya bagi mereka. Yang unik adalah ketika salah seorang ibu peminta itu kuberi selembar uang 2 ribuan, di saat itu juga dia langsung membagi uang sedekahku yang tidak seberapa itu kepada 2 orang temannya sama rata. Dan setelah kuamati dari jauh saat mereka juga tengah meminta sedekah di tempat lain yang tak jauh dariku, hal yang sama juga tetap mereka terapkan, uang sedekah yang saat itu mereka dapat langsung mereka bagi sama rata saat itu juga dan di depan sang pemberi sedekah. Melihat hal ini, dapat kuambil sebuah kesimpulan bahwa dibalik kesetiakawanan ala kaum marginal itu, ternyata meminta/mengemis adalah sebuah alternatif baru yang dapat dijadikan profesi penyambung hidup saat ini, di tengah kehidupan yang serba susah ini. Tak sedikit dari penduduk bangsa ini yang kebetulan secara fisik masih mampu bekerja ternyata malah memilih jalur profesi terendah dalam pandangan sosial masyarakat tersebut. Terlepas dari dalih apa yang melandasi mereka menempuh cara ini dan dapat dibenarkan oleh agama ataupun tidak, yang jelas hal ini telah menjadi fakta tersendiri betapa kian susahnya hidup di negeri ini. Namun sebagai manusia yang masih memiliki harkat dan martabat seyogyanyalah kita mencari nafkah hidup yang lebih terhormat dan halal terutama di mata Tuhan. Mengemis seperti kesepakatan sosial bersama yang tak tertulis adalah sebuah profesi yang masuk daftar “hitam”. Dan menurut sabda Nabi SAW nanti di hari akhir seorang pengemis (yang sesungguhnya tak layak jadi pengemis) adalah manusia yang dibangkitkan kembali dalam keadaan tidak memiliki secuil dagingpun di wajahnya.

Momentum Ramadhan yang mulia ini nampaknya juga dijadikan ladang panen raya bagi para kaum peminta ini. Mereka seakan di/me -koordinir dirinya untuk sedapat mungkin merengkuh “Tunjangan Hari Raya” mereka. Karena seperti yang kita ketahui bersama bahwa bulan Ramadhan adalah bulan berbagi, dan Rasul pun menyuruh kita agar lebih giat dalam bersedekah yang bahkan oleh nabi dicontohkan bahwasanya beliau yang sangat dermawan itu makin menjadi-jadi kedermawanannya kala Ramadhan yang dalam Hadis diibaratkan kedermawanan (sedekah) beliau seperti angin yang berhembus. Nah, momen ini yang nampaknya disadari betul oleh para “oknum” pengemis untuk berlomba-lomba memanfaatkan peng-implementasi-an (perwujudan dalam tindakan nyata) dalih agama tersebut. Mereka dapat kita jumpai dengan mudah dan dalam jumlah besar di sekitaran Masjid-masjid besar dan tempat-tempat lain pusat berkumpulnya umat. Jikalau ada sensus pengemis, tentulah jumlah mereka saat bulan ramadhan pasti akan melonjak tajam dari jumlah di hari-hari biasa. Itu karena banyak “pemain” baru yang terjun di bidang ini alias pengemis musiman/temporer dan oportunis. Inilah fenomena unik ramadhan dalam kehidupan republik kaya namun miskin ini. Yang mungkin akan jarang kita temui di belahan bumi lain fenomena yang se-unik ini.

Jadi memang tak salah bahwa Ramadhan adalah bulan berkah bagi semua. Berkah bagi para manusia yang giat beribadah, berkah bagi para pedagang, berkah bagi para pekerja dan ternyata juga berkah bagi para pengemis dan koruptor. Masing-masing mendapat THR (Tunjangan Hari Raya) nya sendiri. Kaum beriman mendapat peluang besar memperoleh ampunan dan berjuta pahala lainnya, pedagang memperoleh laba yang makin besar, pekerja mendapat THR, pengemis pun seolah panen raya di bulan ini. Dan bahkan seorang Koruptor yang layak masuk neraka dunia dan akhirat pun ternyata juga mendapat berkah di bulan Ramadhan ini. Mereka juga termasuk dalam daftar NAPI yang diberi Remisi (pengurangan) hukuman. Dan bagi mereka yang menjadi koruptor di negeri (yang konon) ber Tuhan ini, nampaknya ramadhan dan idul fitri adalah hai-hari yang indah bagi mereka. apalagi jika mereka adalah orang dekat petinggi-petinggi negeri ini (misalnya besan penguasa) maka dengan mudah mereka akan mendapatkan remisi hukuman sekalipun mereka telah merampok duit rakyat dan menjadikan banyak rakyat menjadi melarat dan mungkin juga akhirnya terpaksa jadi pengemis. Dan hal berbeda tentunya bagi mereka yang menjadi manusia Muslim yang lurus dan ikhlas dalam memperjuangkan Islam (Ulama/Aktivis Muslim/Dai/Mujahidin) yang dituduh sebagai Teroris (padahal belum jelas terbukti), maka keadilan hukum (remisi misalnya) seolah mustahil mereka dapat. Padahal mereka bukanlah sosok manusia yang merugikan bangsa ini dan bahkan dapat dikatakan bahwa mereka sangat berjasa besar bagi masyarakat dan bangsa ini. Ah, unik nan aneh memang bangsa ini.

Nampaknya inilah salah satu contoh berkah Ramadhan yang juga penuh cidera di sana-sini nya. Semoga kita tidak menjadi bagian dari mereka yang menciderai kesakralan Ramadhan ini. Amin.
Wallahu A’lam.

Diseduh Oleh : Musyaf  Senyapena
Diseduh Di      : Senyapandaan