Bayi Premature RAMADHAN

Bayi Premature RAMADHAN

Ramadhan memang telah lewat, segala bibit kebaikan yang ditanam secara telaten dan kontinyu di bulan mulia itu selama sebulan diharapkan akan tetap tumbuh subur hingga di hari-hari biasa selepas Ramadhan. Dan semoga segenap nilai-nilai kebajikan agung yang didengungkan di bulan suci itu juga tetap bergema syahdu meresap hingga ke dalam sanubari para anak Adam yang telah menempuh pendidikan rohani di universitas Ramadhan tersebut. Diklat spiritual yang diberikan selama sebulan di Universitas Ramadhan itu juga diharapkan tidak hanya bergaung sesaat selayak bunyi merdu dawai gitar karena lubang Resonansi yang memantulkannya dan sekejap berikutnya irama indah itu segera lenyap saat tak ada gesekan dawai yang memantulkan bunyinya ke lubang resonansi. Karena jikalau hati kita selayak lubang resonansi maka dapat dipastikan bahwa hati kita adalah jenis hati yang hampa nan kosong. Hampa dari nasihat kebajikan, spiritual dan nilai-nilai keindahan yang lain. Seperti lubang resonansi yang hanya memantulkan bunyi dawai yang bergetar, seperti itu pula hati yang hampa akan nilai-nilai kebaikan. Ia hanya akan dapat memantulkan nasihat dan ajaran-ajaran spiritual yang digesekkan oleh tangan-tangan suci melalui dawai-dawai agama, tanpa pernah bisa menyimpan sejejak saja bekas-bekas ajaran kebaikan itu. Hati yang seperti ini juga dapat diibaratkan sebagai tempat transit (singgah) nilai-nilai kebaikan saja tanpa pernah memperbolehkannya menetap lebih lama di dalamnya.

Baiklah, anda boleh saja menganggap semua penjelasan di atas mbulet – njelimet, namun saya yakin anda tentu tak akan mengelak jika saya berkata bahwa yang lebih njelimet dari penjelasan saya itu adalah kondisi nurani kita selaku penghuni rumah besar yang bernama Indonesia ini. Maka tanpa berniat sok-sok an keminter perkenankanlah saya mem-preteli sedikit demi sedikit penjelasan saya yang njelimet di atas.

Seperti yang sering kita dengar dari lisan para ustadz bahwa kala idul fitri tiba maka saat itu lah para Shoimin (Manusia beriman yang berpuasa) meraih kemenangannya dan terlahir kembali seperti seorang bayi suci yang belum tertumpahi sedikitpun noda tinta dosa dalam buku catatan amalnya. Karena barangsiapa yang berpuasa selama bulan Ramadhan dengan iman dan mengharap ridho Allah, maka diampuni dosanya yang telah lampau (HR. Bukhari dan Muslim). Nah, menilik sabda suci nabi tersebut maka benar saja jika dikatakan bahwa ketika Idul Fitri tiba maka saat itu pula iblis/setan menangis sejadi-jadinya karena dosa segenap anak adam pada Tuhan dihapuskan dan dosa kepada sesamanya akan dilebur bila diantara mereka mau saling memberi maaf. Sehingga logis jika dikatakan bahwa saat itu para manusia beriman seolah terlahir kembali tanpa dosa seperti bayi. Dan wajar juga jika setan cs pecah tangisnya karena usaha mereka selama 11 bulan dalam melumuri anak Adam terasa sia-sia karena Tuhan telah “memandikan” manusia dan membersihkannya dengan “sabun” puasa Ramadhan. Namun bukan setan namanya jika mudah menyerah. Memanfaatkan kurva keimanan anak Adam yang kodratnya naik turun, setan tentu akan segera menodai kembali bayi-bayi yang baru lahir dari rahim Ramadhan itu dengan segala cara pasca Idul Fitri usai. Dan ternyata bukan hanya setan saja yang patut diwaspadai dalam hal ini, karena ada yang lebih jahat lagi dari setan yang tetap mendampingi kita saat puasa dan tak dikekang seperti setan, dia adalah nafsu. Nafsu sejoli dengan setan, dia selalu menggoda kita agar menyimpang dari ajaran Tuhan. Buktinya? Selama Ramadhan, tempat manakah yang lebih ramai dikunjungi kaum Muslim. Masjid kah atau Pusat-pusat perbelanjaan. Jika anda jujur maka anda tentu akan menjawab bahwa kebanyakan kita lebih sering ber-I’tikaf di Mall/pasar/depan televisi daripada berlama-lama meramaikan Masjid, bukan begitu? Bukti lain adalah bahwa ternyata banyak dari kita yang malah nafsu belanjanya (konsumerisme) lebih besar daripada semangat bersedekahnya dan tentunya masih seabrek contoh lainnya. Selain daripada itu, nampaknya di bulan Ramadhan yang lalu banyak dari kita yang hanya mampu menahan lapar, nafsu seksual serta dahaga saja (puasa jasmani) namun belum mampu menjalankan puasa yang maqomnya lebih tinggi, yaitu puasa rohani (hati). Kita memang berlapar-lapar puasa namun di saat yang sama pula mulut kita sering berkata kotor, menggunjing, adu domba dan berbagai ucapan kalimat suci setan lainnya Inilah puasa awam, demikian para Ulama menjelaskan. Padahal “Barangsiapa yang tidak mau meninggalkan omongan bohong maka tidak ada kebutuhan bagi Allah dalam diri orang yang berpuasa itu meninggalkan makanan dan dahaganya “(HR. Bukhari). Namun kita sebagai rakyat kecil nampaknya tak usah terlalu risau dengan semua dusta yang mungkin sering kita ucapkan selama ramadhan lalu, karena toh dusta yang lebih berat dosanya daripada dusta kita adalah dustanya para petinggi negeri ini. Mereka lah yang lebih sering mengkibuli kita, rakyatnya, dengan segala omong kosong mereka. Entah Tuhan mau menerima puasa mereka apa tidak itu urusan Tuhan, yang jadi urusan kita selaku rakyat kecil adalah tetap selalu mengingatkan, mengontrol dan mengawasi segala tingkah polah para wakil rakyat kita itu yang kian hari kian nyeleneh saja. Bukan hanya nyeleneh, tapi juga unik. Karena meskipun sudah jelas-jelas mereka yang banyak salah pada rakyat eh malah rakyat yang mereka undang untuk meminta maaf pada mereka. Lihatlah, Open House yang rutin mereka adakan tiap Idul Fitri. Mereka yang banyak dosa namun rakyat yang berbondong-bondong berebut bersalaman bersilaturahim minta maaf pada mereka, unik bukan. Bukankah yang namanya orang meminta sudah semestinya lebih pantas mendatangi mereka yang menurutnya telah banyak dia dosai, namun yang terjadi di negeri ini malah sebaliknya. Yang berhajat meminta maaf malah “minta” didatangi oleh mereka yang merupakan korban ke-dosa-an dan ke-khilafan mereka. Dan yang lebih miris lagi adalah saat acara open house alias dagelan maaf-maafan itu disisipi bagi-bagi angpao. Rakyat makin dihinakan sebenarnya dengan semua itu. Apalagi jika acara open house nya sampai memakan korban jiwa (Jawa Pos,12/09/10) seperti yang terjadi di Istana Negara kita yang padahal pada hari-hari normal selalu menjadi closed house bagi rakyat. Ah Idul Fitri yang unik memang. Yang nampaknya jarang kita temui di negara mana pun di planet ini.

Jika melihat tingkah polah kita –termasuk rakyat dan pejabatnya- selama Ramadhan yang ternyata masih banyak melakukan puasa secara ritual saja, maka patut kita pertanyakan kembali status keberlahiran kembali diri kita saat Idul Fitri tiba. Karena meskipun dinyatakan bahwa kita telah terlahir kembali seperti bayi yang suci namun akan lebih bijak nampaknya jikalau kita menganggap diri kita ini terlahir kembali namun sebagai bayi yang premature, ya, kita kini masih lebih layak disebut sebagai bayi premature yang dilahirkan melalui rahim Ramadhan. Dan selayak bayi premature pada umumnya, maka kita masih perlu di tempatkan di Inkubator. Dalam hal ini kita masih perlu menempatkan diri pada lingkungan atau suasana yang kondusif bagi keberhasilan pematangan rohani/spiritual dan jasmani kita, inilah proses inkubasi spiritual yang perlu kita lakukan terus menerus selepas Ramadhan agar imunitas kita sebagai bayi-bayi Ramadhan makin meningkat sehingga kita mampu memulai kembali langkah baru guna memperbaiki bangsa ini dalam segala lini kehidupannya.

Kini Idul Fitri telah menyambangi kita. Saatnyalah kita memaknai lebih dalam lagi arti kata kembali ke Fitrah. Fitrah kita adalah seorang khalifah, manusia yang dilahirkan sebagai wakil Tuhan di muka bumi guna memakmurkannya dan menyebarkan kedamaian. Kita tidak dilahirkan sebagai perusak bumi dan isinya, serta menggasak hak-hak sesama dan menebar permusuhan, karena hal itu adalah perbuatan setan, dan siapa yang melakukan perbuatan-perbuatan setan tersebut maka nyatalah bahwa dia adalah wakilnya. Semoga kita dapat mengamalkan ajaran-ajaran Ramadhan yang telah lewat itu dalam kehidupan kita dan memaknai Idul Fitri ini sebaik-baiknya. Karena ternyata betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya melainkan lapar dan dahaga saja (HR. Ahmad). Dan semoga nilai-nilai suci Ramadhan selalu membekas di hati kita dan dapat kita lanjutkan di kehidupan sehari-hari. Amin.

Diseduh Oleh : Musyaf  Senyapena (senyapena@gmail.com)

Diseduh Di      : Senyapandaan