Islamnya Napoleon Bonaparte

Islamnya Napoleon Bonaparte

Napoleon Bonaparte. Apa yang ada di benak anda kala mendengar nama besar itu? Mungkin segera terlintas di pikiran anda tentang negeri Prancis yang sangat terkenal dengan sejarah revolusi prancisnya yang heroik itu. Atau bisa saja yang ada dalam bayangan anda mengenai sosok jenderal sekaligus kaisar Prancis ini adalah sosok gagah dengan kuda putih sebagai tunggangannya. Semua bayangan itu sah-sah saja karena telah menjadi sebuah kelumrahan yang terdoktrin semenjak kecil dalam otak kita bahwa sosok pahlawan besar memang seperti itu adanya. Ksatria Prancis yang lahir pada 1769 di Ajaccio, Corsica ini bahkan masuk dalam daftar 100 tokoh paling berpengaruh sepanjang masa di dunia dalam buku Michael H. Heart. Dalam buku tersebut ia masuk dalam peringkat ke 34 urutan tokoh paling berpengaruh di planet ini. Banyak goresan tinta yang mencatat kehebatan sosok yang satu ini mulai dari kepiawaiannya memimpin perang, menata negara, dan mengatur wilayah jajahannya – ingat bagaimanapun indahnya Prancis namun takkan mampu menghapus sejarah bahwa mereka adalah salah satu negeri penjajah di muka bumi ini-. Dan banyak lagi sejarah mengenai tokoh yang telah berkuasa penuh di Prancis sejak Agustus 1793. Namun dibalik itu semua ternyata banyak yang alpha dari pengamatan kita selama ini mengenai sejarah kehidupan pribadi Napoleon yang lain, terutama di akhir-akhir hayatnya. Bahwa sang tokoh besar kebanggaan Prancis tersebut adalah seorang Muslim, tepatnya seorang Muallaf. Segala kemegahan dan popularitas sebagai salah seorang penguasa Eropa ternyata tak mampu membuat jiwanya sumringah dan puas. Karena apalah artinya gemerlap dunia jikalau hati gulita akan sesuatu yang disebut kedamaian dan ketenangan. Napoleon ternyata merasa hampa hatinya mengenai agama yang dianutnya selama separuh masa hidupnya dulu. Dan dengan berbagai pergulatan batin dan pencarian spiritual yang panjang akhirnya pada 02 Juli 1798 tepatnya 23 tahun sebelum tutup usianya, sang penguasa Eropa tersebut menyatakan ke-Islaman nya di depan dunia internasional. Dia yakin dan mantap untuk kembali ke fitrahnya sebagai manusia yang pada mulanya adalah seorang Muslim.

Majalah Genuine Islam terbitan Singapura pada edisi Oktober 1936 memuat penuturan dan pernyataan resmi Napoleon Bonaparte kepada dunia tentang alasannya memeluk Islam.

“I read the Bible; Moses was an able man, the Jews are villains,

cowardly and cruel. Is there anything more horrible than the story of

Lot and his daughters ?”

“Saya membaca Bible; Musa adalah orang yang cakap, sedang orang Yahudi

adalah bangsat, pengecut dan jahat. Adakah sesuatu yang lebih dahsyat

daripada kisah Lut beserta kedua puterinya ?”

(Lihat Kejadian 19:30-38)*

*Ayat bible kitab kejadian pasal 19 ayat 30 hingga 38 tersebut menceritakan kisah pornografi dahsyat antara seorang bapak (dalam hal ini adalah seorang nabi yang seharusnya disucikan) dengan kedua putrinya dimana dikisahkan bahwa putri pertama Luth meminumkan anggur kepadanya dan ketika Luth sudah mabuk dia menyetubuhi putrinya tersebut dan trik serupa dilakukan kedua putrinya keesokan harinya agar bapaknya menyetubuhi putri keduanya. Alasan kedua putri Luth melakukan hal ini adalah agar mereka mendapatkan keturunan dari benih yang ditanam bapaknya sendiri.

Sebuah ayat yang menurut Napoleon sangat tidak mungkin ada dalam sebuah kitab suci yang diklaim sebagai wahyu dari Tuhan. Apakah mungkin Tuhan mengajarkan kebejatan? Dan apakah mungkin seorang Nabi akan melakukan hal yang biadab tersebut. Inilah satu dari sekian banyak ayat dalam kitab “suci” yang diyakininya selama ini yang tak bisa diterima oleh akal sehat orang waras. Hal ini berbeda dengan Al Qur’an yang sangat memuliakan para nabi dan rasul karena mereka Ma’shum alias dilindungi oleh Allah melalui petunjukNya sehingga mereka tidak melakukan hal hal dosa.

“The science which proves to us that the earth is not the centre of

the celestial movements has struck a great blow at religion. Joshua

stops the sun ! One shall see the stars falling into the sea… I say

that of all the suns and planets,…”

“Sains telah menunjukkan bukti kepada kita, bahwa bumi bukanlah pusat

tata surya.

Yosua menghentikan matahari (Yosua 10: 12-13). Orang akan melihat

bintang-bintang berjatuhan kedalam laut…. saya (Napoleon) katakan, semua

matahari dan planet-planet ….”

Ayat yang juga sangat bertentangan dengan akal sehat, dan hal ini dipahami betul oleh Napoleon. Bagaimana mungkin Matahari dihentikan? Karena seperti yang diketahui bersama bahwa sumber kehidupan utama di bumi adalah matahari dan jika matahari berhenti beraktivitas tentu akan buyar pula kehidupan di bumi saat itu juga. Sedangkan Al Qur’an menjelaskan bahwa bumi bukanlah pusat tata surya. Namun di abad pertengahan siapa yang berani membantah gereja yang mengklaim bahwa bumi adalah pusat tata surya maka dia akan dihukum. Dan salah satu korban kekejian gereja saat itu adalah salah seorang ilmuwan besar dunia yang dengan tegas membantah bahwa bumi adalah pusat tata surya. Dia dapat meyakini teorinya karena dia melakukan penelitian melalui alat ciptaannya, teropong, yang dengannya dia dapat membuktikan bahwa mataharilah sebenarnya pusat tata surya. Dan konsekuensi dari pendapatnya adalah dia harus dihukum. Dan hukuman di akhir hayatnya inilah yang pada akhirnya menutup lembaran hidupnya secara kelam, dia menutup usia setelah mengalami hukuman yang keji. Siapakah ilmuwan tersebut? ya, dia adalah Galileo Galilei. Sekarang setelah berabad lamanya. Dunia –termasuk gereja- mengakui bahwa bumi bukanlah pusat tata surya melainkan mataharilah poros tata surya kita. Namun sayangnya gereja telah dengan sangat ceroboh sudah “membunuh” sang ilmuwan yang dulu teorinya mereka bantah sedemikian rupa dan yang kini malah mereka banggakan setinggi langit. Menyesalkah gereja? Entahlah. Namun yang jelas Napoleon semakin ragu dengan agama lamanya tersebut.

Kemudian Napoleon Bonaparte berkata :

“Religions are always based on miracles, on such things than nobody

listens to like Trinity. Yesus called himself the son of God and he

was a descendant of David. I prefer the religion of Muhammad. It has

less ridiculous things than ours; the turks also call us idolaters.”

“Agama-agama itu selalu didasarkan pada hal-hal yang ajaib, seperti

halnya Trinitas yang sulit dipahami. Yesus memanggil dirinya sebagai

anak Tuhan, padahal ia keturunan Daud. Saya lebih meyakini agama yang

dibawa oleh Muhammad. Islam terhindar jauh dari kelucuan-kelucuan

ritual seperti yang terdapat didalam agama kita (Kristen); Bangsa

Turki juga menyebut kita sebagai orang-orang penyembah berhala dan

dewa.”

Selanjutnya :

“Surely, I have told you on different occations and I have intimated

to you by various discourses that I am a Unitarian Musselman and I

glorify the prophet Muhammad and that I love the Musselmans.”

“Dengan penuh kepastian saya telah mengatakan kepada anda semua pada

kesempatan yang berbeda, dan saya harus memperjelas lagi kepada anda

disetiap ceramah, bahwa saya adalah seorang Muslim, dan saya

memuliakan nabi Muhammad serta mencintai orang-orang Islam.”

Dan di akhir pengakuannya dia menutup dengan perkataan :

“In the name of God the Merciful, the Compassionate. There is no god

but God, He has no son and He reigns without a partner.”

“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tiada Tuhan

selain Allah. Ia tidak beranak dan Ia mengatur segala makhlukNya tanpa

pendamping.”

Napoleon meninggal dalam pelukan Islam dan sudah sepantasnya pula kita sebagai saudara sesama Muslim mendoakannya agar Allah mengampuni khilafnya dan menerima amal baiknya selama hidupnya.

I'm Muslim

I'm Muslim

“…Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.” (QS. Al Fajr [89] : 27-30)

Diseduh Oleh : Musyaf  Senyapena (senyapena@gmail.com)

Diseduh Di      : Senyapandaan