jasa penambang-pasir

jasa penambang-pasir

Hampir saban kali menghidupkan televisi, selalu saja tersaji berita-berita monoton dan berulang tiap tahun, Jakarta banjir lagi. Heh, sebuah bencana tahunan yang konon sudah menjadi “Musibah” rutinan warga ibu kota tersebut, menurut akal sehat sungguh sangat disayangkan. Bagaimana tidak, telah 6 kali pergantian presiden dan beberapa kali pergantian gubernur, nyatanya Jakarta masih saja tetap bernasib sama, alias tak berubah selalu kebanjiran tiap tahun. Kalau ada yang bertanya apa urusan saya memikirkan nasib Jakarta segala, toh saya juga bukan warga sana. Jawabannya mudah saja. Karena saya adalah anak Indonesia. Dan seperti yang diketahui bersama bahwa ibu kota negeri ini masih saja ngotot dipertahankan di kota kelahiran Si Pitung tersebut. Jadi mau tak mau saya juga harus memikirkan nasib Jakarta sebisa yang saya lakukan. Karena inilah salah satu bentuk kecintaaan saya kepada bangsa yang hebat ini. Jakarta, beberapa tahun lagi akan tenggelam, demikian yang santer terdengar dari ramalan-ramalan yang banyak beredar di media massa tanah air. Wah, saya tidak bisa membayangkan jika Jakarta benar-benar tenggelam sedangkan Indonesia belum memutuskan untuk mendirikan ibu kota baru pengganti kota busway tersebut. Bagaimana kelanjutan perjalanan bangsa ini selanjutnya, dalam sejarah dunia nampaknya belum ada satupun negara yang tak memiliki ibu kota, ibu kota yang ideal tentunya. Maksudnya ibu kota yang ideal adalah, kota yang mana letak pusat pemerintahan seperti lembaga Eksekutif, Yudikatif dan Legislatif dan kantor Departemen-departemen lainnya dalam pemerintahan dapat berdiri dengan nyaman dan aman tanpa kekhawatiran akan adanya gangguan bencana alam, selain itu ibu kota yang baru juga harus strategis posisinya dan akses informasi serta transportasi dari dan ke dalam ibu kota juga harus baik agar koneksi dengan daerah-daerah juga dapat berjalan lancar. Entah kota atau wilayah mana menurut anda yang pantas dijadikan sebagai ibu kota RI yang baru. Toh wilayah negara kita juga sangat luas. Namun menurut saya pribadi seyogyanya ibu kota yang baru juga harus bebas dari banjir. Dan ngomong-ngomong soal banjir, ada satu hal menarik yang dari dulu mengganjal di benak saya. Yaitu mengenai betapa lebih vital mana peran seorang Presiden dan penguasa-penguasa turunannya (Gubernur, bupati dll) dengan seorang penambang/pencari pasir kali “illegal” yang mana kedua-duanya baik Presiden maupun Penambang Pasir Kali Ilegal adalah sama-sama anak bangsa ini. Dengan catatan bahwa yang saya maksud dengan istilah Ilegal adalah tidak resmi atau diakui oleh negara. Toh belum pernah ada kan penambang pasir sungai mendaftarkan profesinya ke instansi negara terkait guna mendapat stempel resmi agar mata pencahariannya mencari pasir di sungai diakui negara sebagai profesi legal.

Baiklah kita mulai perbandingan yang saya maksudkan. Presiden, manusia dengan jabatan tertinggi di negeri ini tentunya mempunyai kuasa atau setidak-tidaknya suaranya akan didengar oleh masyrakat jika saja dia membuat kebijakan-kebijakan. Dalam hal ini misalnya bapak Presiden yang terhormat membuat program nasional bersih-bersih selokan/got/parit dan sungai-sungai di sekitar tempat tinggal masing-masing guna melakukan tindakan preventif akan bahaya banjir. Seperti kata Almarhum Benyamin S. dalam lagunya yang terkenal, bahwa salah satu penyebab Jakarta banjir adalah karena Got yang mampet. Itu baru got, bagaimana dengan kali/sungai. Jika parit yang kecil itu saja telah mampu membuat sebuah kota Megapolitan seperti Jakarta kebanjiran, tentunya sungai akan dapat lebih hebat lagi dalam hal menyumbang andil dalam musibah banjir. Bukan hanya sampah yang menumpuk, karena ternyata fakta di lapangan memperlihatkan dengan sangat nyata bahwa pendangkalan sungai akibat pasir yang mengendap di dalam sungai ternyata juga sangat besar andilnya dalam musibah banjir. Secara logika pun hal ini dapat dibenarkan. Karena jika endapan lumpur sungai dibiarkan semakin mengendap maka permukaan sungai akan semakin naik. Air sungai akan semakin naik dan bisa mencapai batas normalnya. Dan jika terjadi hujan lebat atau aliran sungai dari hulu datang dengan arus yang deras maka akibatnya akan sangat fatal. Permukaan air sungai yang telah naik tersebut arusnya akan dapat menyapu daratan sekitarnya yang tak jarang merupakan tempat pemukiman warga. Dari hal ini saja kita tentu telah dapat menyimpulkan bahwa salah satu tindakan preventif untuk menanggulangi banjir adalah dengan cara pengerukan pasir di dalam sungai. Dan tindakan yang “mulia” itu setidaknya telah diemban oleh para pencari pasir sungai “illegal” yang dengan alat seadanya telah sedikit banyak mampu “menjinakkan” sungai-sungai sekitar kita yang meskipun kelihatan ramah namun memiliki potensi “membunuh” kita jika tidak diperlakukan dengan baik. Dan salah satu tindakan baik yang dimaksud adalah mengeruk pasirnya agar tidak terjadi pendangkalan yang dapat berpotensi menimbulkan banjir. Demi melihat jasa-jasanya bagi lingkungan, maka sungguh sangat layak jika ada penghargaan bagi mereka –para pencari pasir kali “illegal” karena mereka juga secara tidak langsung adalah para penyelamat lingkungan. Tanpa basa-basi dan koar-koar seperti para pejabat-pejabat kita yang konon peduli lingkungan namun nihil program nyata, mereka –para pencari/pengeruk pasir kali ”illegal”- bekerja menyelamatkan kita dari bahaya banjir yang berpotensi terjadi jika sungai/kali mengalami pendangkalan akibat penumpukan endapan pasir. Kalpataru nampaknya bukan hal yang berlebihan jika diberikan kepada mereka karena jasa nyata mereka bagi lingkungannya. Meskipun saya yakin mereka bekerja mengeruk dan mengangkut pasir dari dalam sungai ke tepian kali secara tradisional seperti itu tak pernah sedikitpun terlintas di benak mereka untuk mengharap imbalan pujian maupun penghargaan. Karena bagi mereka yang terpenting adalah asap dapur dapat tetap mengepul, tunggakan SPP sekolah anak mereka dapat tercicil, uang saku anak cukup, dapat membeli kopi dan rokok di warung itu sudah merupakan kepuasan tersendiri yang patut disyukuri. Toh apa yang dapat mereka harapkan selain itu di negeri ini. Negeri yang penguasanya tak dapat menghargai keringat dan kehormatan rakyatnya. Negeri yang penguasanya doyan plesiran ke luar negeri dengan dalih studi banding namun pulang tak membawa apa-apa selain isi koper yang banyak dan rekaman Happy-happy mereka di dalam Video yang mereka abadikan selama Wisata di sana. Negeri yang penguasanya pandai berdalih dan berkilah tentang kegagalan mereka dalam mengelola tanah surga yang kian me-neraka ini (salah satu contohnya adalah dalam musibah banjir bandang dan longsor di Wasior, Papua Barat) yang mana dalam kasus itu sang menteri yang bersangkutan membantah bahwa banjir itu diakibatkan oleh Illegal Logging dan menganggapnya hanya fenomena alam biasa. Padahal telah sangat jelas bahwa Illegal Logging lah penyebab semua itu karena banyak ditemukan kayu gelondongan berserakan di TKP setelah banjir itu reda. Ah, biarlah semua kebenaran itu diungkap kelak di akhirat agar para penanggungjawab masalah banjir Wasior itu berkilah dan bersilat lidah dengan Tuhan sendiri yang tentunya tak bisa dikibuli seperti rakyat negeri ini.

Menutup Tulisan ini, saya hanya dapat menyimpulkan bahwa ternyata begitu banyak hal sepele dan yang sering diremehkan di sekitar kita yang pada hakikatnya sangat besar dan mulia di mata Tuhan dan besar jasanya bagi keberlangsungan hidup manusia dan keseimbangan alam. Dan salah satu contoh dari hal remeh itu adalah jasa para pencari/penambang pasir kali “illegal”. Karena meskipun tak pernah dianggap berharga sekalipun namun jasa mereka ternyata sungguh sangat besar bagi lingkungan. Dan satu hal yang pasti, ternyata para penambang/pencari pasir kali itu bukanlah orang sembarangan. Karena Tuhan hanya memilih mereka para manusia yang perkasa dan berhati tulus guna mengemban pekerjaan “mulia” tersebut. Satu hal yang sering luput dari perhatian kita yang tanpa sadar telah menikmati manfaat dari pekerjaan mereka.

Akhir kata, terima kasih kepada anda para Pencari pasir kali. Semoga Tuhan membalas jasa-jasa anda dan memberi Award tersendiri yang tentunya lebih hebat dari penghargaan yang mampu diberikan oleh manusia, termasuk oleh para penguasa negeri ini. Dan terima kasih kepada Bapak Presiden yang telah berkenan dibuat sebagai perbandingan dalam tulisan ini. Dan semoga Bapak Presiden mampu mengubah nasib negeri ini lebih baik lagi melalui kekuasaan yang diamanahkan pada Bapak seperti keberhasilan Bapak Presiden menyingkirkan Tahi Lalat di Dahi kanan Bapak yang terhormat.

Diseduh Oleh : Musyaf  Senyapena (senyapena@gmail.com)

Diseduh Di      : Senyapandaan