negeri bencana

negeri bencana

Ada apa dengan negeri ini??? Bertubi-tubi negeri yang konon gemah ripah loh jinawi ini mendapatkan musibah bencana. Mulai dari banjir bandang Wasior – Papua Barat, meletusnya gunung Merapi di tanah kelahiran Mbah Maridjan, hingga Tsunami di Pulau Mentawai. Dalam kacamata agama memang dijelaskan bahwa bencana yang menyambangi sebuah negeri setidak-tidaknya dapat digolongkan ke dalam 2 kategori. Yang Pertama adalah, bila bencana itu menimpa daerah bermukimnya orang-orang Shaleh dan Mukmin maka bencana itu dinamakan Ujian alias cobaan agar kesabaran dan keimanan mereka bertambah. Karena bancana yang datang tersebut dianggap sebagai Alarm peringatan akan kelalaian dan kekhilafan yang mungkin telah dilakukan peenduduknya. Dan kategori yang ke dua adalah, bencana yang datang tersebut disebut sebagai Azab, dengan catatan bahwa negeri yang dihinggapi bencana itu hanya berisi orang-orang bejat nan rusak akhlak, moral dan tingkah lakunya. Bencana ini dimaksudkan juga sebagai Warning Sign bagi daerah lain yang penduduknya tidak tertimpa bencana agar berintrospeksi diri karena bisa saja jika Tuhan menghendaki maka daerah merekalah yang menjadi sasaran bencana berikutnya. Nah, dari 2 kategori tersebut nampaknya agak sulit juga jika kita menilik kondisi Indonesia saat ini yang tak jenuh-jenuhnya diziarahi bencana. Jika dikatakan bahwa negeri ini adalah negerinya para bedebah, orang-orang fasik, amoral dsb maka hal ini tidak sepenuhnya benar atau bahkan sangat salah. Karena seperti yang kita tahu bahwa di negeri ini juga masih banyak orang baik seperti Ulama’ yang notabene adalah pewaris para nabi, orang-orang yang jujur-ikhlas dan sholeh juga masih bertebaran di negeri ini. Majlis-majlis Zikir juga masih ramai diselenggarakan di negeri ini, Taklim dan TPQ juga makin pesat berkembang. Berarti dapat dikatakan juga bahwa negeri ini juga negerinya orang-orang baik, bukan. Namun yang menjadi ironi besar saat ini, negeri ini juga tak luput dari catatan-catatan buruknya. Negeri ini juga adalah “tanah suci” tempat berpijaknya kaki-kaki para manusia nyeleneh. Koruptor dapat diterima di negeri ini, maling ayam di bui bertahun-tahun tapi koruptor diberi remisi hingga masa hukumannya cuma sedikit (terlepas dari alasan apakah karena si koruptor besan penguasa atau bukan), belum lagi para wakil rakyatnya yang suka studi banding ke luar negeri dan oleh-olehnya ternyata tetap saja ilmu tuna guna yang tidak merubah nasib Indonesia sedikitpun. Daripada jauh-jauh studi tentang etika ke yunani, mending belajar etika kepada masyarakat kita sendiri karena etika rakyat Indonesia toh sangat diakui begitu hebat. Meski dikibulin turun-temurun mulai dari mbah buyut sampai anak cucu oleh para penguasanya, mereka masih saja dapat tersenyum dan mensyukuri keadaannya dan meskipun pajak yang mereka bayarkan pada negara banyak yang masuk ke kantong para mafia pajak seperti Gayus Tambunan CS, toh mereka juga masih saja setia membayar pajak bagi pembangunan negeri ini. Ah negeri yang unik bukan. Di satu sisi banyak manusia salehnya namun di satu sisi lainnya para manusia bejatnya juga seabreg. Unik sungguh unik.

Menurut Habib Munzir Al Musawwa, pimpinan Majlis Rasulullah, dalam salah satu pernyataan beliau di TV, negeri ini saat ini dapat dikiaskan dengan kisah Nabi Yunus A.S. yang dalam Al Qur’an diceriterakan berada dalam lambung ikan besar (Paus). Dan yang membuat beliau dapat keluar dari lambung ikan besar yang gelap dan di kedalaman laut yang gelap pula adalah karena beliau segera introspeksi diri dan bertaubat pada Allah (Zikir/ingat pada Allah). Maka dengan kata lain jika Indonesia ingin segera terentas dari samudera musibah yang ombaknya selalu menampar wajah ibu pertiwi ini, maka anak negeri ini harus selalu lebih giat berzikir, zikir jasmani dan rohani tentunya, demikian kurang lebih maksud pernyataan beliau. Tangannya berzikir agar tidak mengambil hak orang lain (korupsi dll), mulutnya berzikir agar tidak menyesatkan orang lain melalui lisannya (penyesatan opini dan pemikiran seperti yang banyak terjadi di media massa sekarang seperti menghujat Allah melalui penghujatannya kepada agama dan Ulama), kakinya berzikir agar tidak seenaknya melancong ke luar negeri dengan menggunakan uang rakyat (studi banding memang baik, namun dengan catatan jika ada hasilnya bagi bangsa, karena jika tidak ada manfaatnya maka para wakil rakyat itu mending duduk saja dengan tenang di kursinya. Toh tidur waktu sidang DPR pun mereka sudah digaji rakyat, bukan), matanya berzikir agar tak mudah silau dengan dunia yang bisa saja menjerumuskannya pada cara-cara haram dalam mendapatkan dunia tersebut, perutnya berzikir agar tak mudah makan uang rakyat demi mengenyangkan diri dan keluarganya sendiri di atas penderitaaan rakyat yang kian kelaparan. Otaknya berzikir agar mampu menyumbangkan ide dan karya nyata bagi kemajuan dan kebangkitan bangsa ini dan bukan malah sibuk berpikir teori-teori hebat yang indah dalam retorika kampanya dan pidato namun ternyata tuna hasil nyata. Dan terakhir, hatinya berzikir agar dalam melakukan apapun selalu bertanya alias meminta fatwa pada nuraninya agar kelak segala tindakannya tidak mengakibatkan kerusakan bagi sekelilingnya, hingga bencana perlahan-lahan minggat dari negeri kita karena sudah tidak kerasan lagi.

Indonesia adalah bahtera besar yang kini tengah mengarungi ombak menggulung-gulung di samudera kehidupan bangsa ini. Dan ibarat bahtera, maka benar kata nabi SAW yang pernah menjelaskan dalam sabdanya, bahwa dalam bahtera yang tengah berlayar harus ada saling pengertian antara penumpangnya. Misal yang berada di dek atas berniat menyobek layar kapal maka penumpang yang ada di dek bawah harus mengingatkan, karena layar tersebutlah yang mampu menggerakkan kapal melalui hembusan angin yang mendorongya. Dan jika penumpang di dek bawah acuh dan tak mau peduli dengan tindakan bodoh penumpang yang berada di bagian atas yang hendak menyobek layar kapal maka semua penumpang di kapal tersebut akan merasakan imbasnya, baik yang berada di bawah maupun penumpang di bagian bawah, karena mereka berada dalam satu pijakan pelayaran yaitu bahtera/kapal. Demikian pula jika ada penumpang di dek bawah yang hendak melubangi lambung kapal maka semua penumpang termasuk yang berada di dek atas harus mengingatkan karena jika tidak maka kapal akan tenggelam dan yang menjadi korban adalah seluruh penumpamg kapal. Apa artinya layar yang baik yan mampu membuat kapal terus bergerak dengan dorongan angin jika kapal tersebut lambungnya berlubang dan segera tenggelam. Nah seperti inilah Indonesia saat ini, penumpang di dek atas pemelihara layar kapal dapat dikiaskan sebagai para pemimpin negeri ini yang tanpa mereka maka kapal akan stagnan tak bergerak jika mereka tak memfungsikan layar kapal dengan baik. Dan penumpang di dek bawah adalah rakyat, merekalah yang jumlahnya sangat banyak yang merawat lambung kapal agar tidak bocor yang dapat membuat kapal tersebut tenggelam dan imbasnya juga mengenai semua penumpang kapal. Dengan demikian dalam menghadapi semua bencana yang melanda negeri ini harus ada sinergi dan saling gotong-royong antara manusia-manusia berdasi (penguasa) dan manusia-manusia yang berdaki (rakyat bawah). Karena mencari kambing hitam dari semua bencana ini tidak lebih bijak daripada mencari solusi bagi kesembuhan ibu pertiwi yang sedang sekarat ini. Karena jika pertengkaran dan saling acuh tak peduli yang dipilih untuk terus dibiakkan di negeri ini ,maka pelan namun pasti bahtera besar yang bernama Indonesia ini akan segera tenggelam. Karena realitanya jika membaca babak per babak cerita Indonesia saat ini nampaknya pantas jua jika anak cucu kita nanti membukukannya dalam sebuah ensiklopedi bangsa berjudul “Negeri 5 Bencana” (plesetan dari Negeri 5 Menara nya Ahmad Fuadi). Na’udzubillahi Min Dzalik !!!

Diseduh Oleh : Musyaf  Senyapena

Diseduh Di      : Senyapandaan