Awas Pemurtadan

Awas Pemurtadan

 

“Segeralah beramal sebelum datang masa dimana seseorang pada waktu paginya masih beriman namun pada sore harinya telah menjadi kafir (murtad) dan seseorang yang pada waku sorenya masih beriman namun pada pagi harinya telah menjadi kafir…”
-Al Hadis-

 

Kisah penukaran yang aneh berikutnya adalah ketika seseorang yang sebelumnya mengaku beriman kepada Allah namun ternyata beberapa waktu berikutnya rela menukarkan imannya tersebut dengan kekafiran yang dibungkus kemewahan duniawi. Hal ini banyak kita jumpai di zaman sekarang. Bagaimana banyak kita dapati kasus pemurtadan yang dialamatkan pada umat ini yang pada awalnya selalu diiming-imingi dengan harta. “Jika anda mau meninggalkan sholat dll (yang berbentuk ritual suci agama Islam) dan mau mengikuti ibadah hari minggu di tempat ibadah kami, maka selain surga yang dijanjikan Anak Tuhan sang penebus dosa manusia maka kehidupan anda akan membaik dan ekonomi anda akan meningkat karena kami akan menanggung biaya hidup keluarga anda,” demikian kira-kira bunyi bujukan halus yang sering dilakukan oleh para mereka yang “mengaku” penggembala domba yang tersesat (meski nyatanya mereka sendirilah domba buta yang tersesat tersebut). Modus operandi mereka sangat beragam, licik dan dinamis. Bahkan yang paling remeh sekalipun -semacam pemurtadan dengan sekardus mi instant- ternyata masih sangat berhasil. Coba kita tengok setiap ada bencana melanda yang tentunya melahirkan banyak pengungsi, maka di saat itu pula sudah dapat dipastikan bahwa para pemurtad ini akan seketika itu pula berada di sana guna melakukan aksinya. Dan masih banyak lagi aksi-aksi nekat mereka tuk memurtadkan umat Islam yang tentunya selalu terinovasi dan ter update secara sistematis.

Sebenarnya sebagai umat pilihan Tuhan yang bersyarat (sesuai pemberitaan Al Qur’an*) seyogyanya lebih bijak jika umat mayoritas ini melakukan koreksi internal di samping juga tak lalai melakukan koreksi eksternal penyebab terbesar banyaknya kasus pemurtadan yang dialami oleh umat Islam. Karena jika boleh jujur dapat dikatakan bahwa kondisi ekonomi lah ternyata salah satu faktor utama banyaknya kaum muslim dapat dimurtadkan. Selain iman dan pemahaman akidah yang lemah, kebanyakan kaum fakir kita yang memilih murtad adalah karena faktor ekonomi. Sebenarnya hal ini sudah jauh hari diperingatkan oleh Rasulullah yang pernah bersabda bahwa “kefakiran dekat dengan kekufuran (yang berujung pada kekafiran).” Nah dari wanti-wanti itu seharusnya skema yang berisi strategi pembentengan akidah umat sudah dapat dirumuskan jauh-jauh hari dan Print Out nya adalah sebuah gerakan nyata yang berupa pemberdayaan ekonomi umat (sesuai hadis nabi di atas) sebagai peminimalisir kemiskinan/kefakiran. Di samping penguatan akidah Tauhid, penguatan ekonomi umat nyata dan mutlak perlu. Karena bukan rahasia lagi kalau dana pemurtadan yang digelontorkan para missionaries itu memang jauh lebih besar dari yang dimiliki umat yang masih terkotak-kotak oleh kefanatikan sempit terhadap kelompok, golongan dan organisasi ini. Mereka para kaum pemurtad kompak membelanjakan hartanya demi “misi suci penyelamatan domba-domba tersesat.” Sedangkan kita, untuk sedekah saja sulitnya minta ampun. Padahal zakat dan sedekah adalah pintu pertama penangkis pemurtadan. Karena dengan kedermawanan itu para kaum papa yang termarjinalkan akan merasa memiliki saudara yang masih peduli terhadap mereka. Sehingga jika ada upaya ajakan agar mereka keluar dari agama Allah dengan iming-iming apapun mereka dapat menolaknya karena akidah dan ekonomi mereka telah di-kaya-kan oleh para muzakki (orang yang berzakat) dan shodiqin (orang yang bersedekah). Karena jika hanya doktrin semata tanpa langkah sosial yang nyata berupa penguatan dan pemerataan ekonomi di tengah kehidupan umat-terutama para kaum kecil- maka sama saja dengan burung yang terbang dengan satu sayap karena sayap sebelahnya lemah atau luka. Ingat hanya dengan kekompakan semua komponennya lah umat ini dapat menahan laju pemurtadan. Ulama sebagai peng-kaya akidah umat. Dermawan sebagai peng-kaya ekonomi umat, dan umara’ (pemerintah) sebagai pelindung umat. Hal ini sesuai dengan pesan Sayyidina Ali Ibn Abu Thalib Kwh. yang berbunyi,”Kebatilan (kejelekan) yang terorganisir dengan baik akan mampu mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir dengan baik.” Pemurtadan dapat berjaya sedemikian rupa karena gerakan mereka terorganisir dengan baik. Nah saatnyalah kita bangun dan menghalau gerakan mereka. Mari bersama kita upayakan agar umat ini tak lagi menukarkan akidahnya dengan sekardus mi instant, bea siswa dan iming-iming lainnya. Karena penukaran akidah adalah sebuah tindakan penukaran (barter) yang maha aneh dan unik tentunya. Sesuatu yang menjanjikan kekekalan di akhirat kelak rela dibarter dengan surga dunia yang nantinya berujung pada lobang neraka. Sungguh barter yang sangat unik, bukan?
Wallahu A’lam Bis Showab

Note :

110. “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Ali Imron [03] : 110)

Diseduh Oleh : Musyaf  Senyapena (senyapena@gmail.com)

Diseduh Di       : Senyapandaan