Apa Makna Tahun Baru ?

happy new years 2011

Tahun baru tlah menghampiri kembali. Segala harapan dan doa tentunya selalu menyeruap ke permukaan saat malam “sakral” itu tiba. Ada yang berharap kesuksesan karier, kuliah dll di tahun yang akan datang, dan ada pula yang berdoa agar bencana segera dienyahkan dari negri ini. Tahun baru yang oleh sebagian besar manusia dianggap sebagai titik balik dan titik awal kehidupan mereka yang baru nampaknya tak pernah bisa dimaknai sebagai malam perenungan semurni-murninya karena mayoritas perayanya selalu meng-kontaminasi-nya dengan berbagai hura-hura, pesta semalaman dengan joged, musik dan kembang api, dan bahkan ada pula yang melakukan kegiatan pesta keji-pesta seks dan minuman keras. Jika demikian, apa sebenarnya makna hakiki dari malam tahun baru itu. Apakah tak lebih bijak jika kita introspeksi diri masing-masing dan menakar tentang sejauhmana kedewasaan kita telah tumbuh. Karena usia bertambah dan semakin tua adalah sebuah keniscayaan dari Sunatullah, namun kedewasaan adalah hak otonom yang diberikan Tuhan pada manusia, mereka berhak menggunakan hak istimewa tersebut untuk saling berlomba men-dewasa-kan diri. Namun sayangnya mayoritas dari kita malah menyia-nyiakan “otonomi khusus” dari Tuhan itu. Tahun baru hanya dimaknai sempit dan dangkal sebagai pesta kembang api, musik, mengikuti pendulum terakhir dari jam di tahun terakhir dan puncaknya melihat matahari terbit. Kalau kita sadar, bukankah semua kegiatan normal itu bisa kita lakukan kapan saja tanpa harus menunggu datangnya tahun baru?. Yah, inilah kita, manusia. “Makhluk Momentum”, segalanya dipertepatkan dengan momentum, padahal setiap detik dari nafas kita adalah sebuah momentum baru dari sebuah perjalanan besar bernama kehidupan. Setiap detik sangat berharga dalam hidup ini. Momentum tahun baru tak akan pernah ada tanpa adanya susunan momentum detik dari tiap hidup kita. Jadi bukankah lebih bijak kalau kita jadikan setiap detik dalam hidup kita sebagai “Momentum hidup yang baru?”.

Sadar atau tidak bahwa negeri ini masih disukai berbagai bencana. Jika kita menyadarinya maka kurang patut dan etis jika pagelaran musik dan kembang api digelar secara kolosal dan berlebihan, karena hal itu mencerminkan makin berkurangnya perasaan simpati sosial kita sebagai sesama warga negara Indonesia. Di saat saudara kita diterpa angin, banjir, longsor, lahar dan asap gunung kita malah merayakan tahun baru dengan berlebihan. Ternyata memang benar jika dikatakan bahwa rasa simpati sosial dan kedewasaan kita masih patut ditakar kembali. Seperti ungkapan bijak sang penutur kejernihan, Gedhe Prama yang pernah berujar, “Setiap kali hari baru datang, banyak yang ingat membangunkan badan, sedikit yang ingat membangunkan jiwa. Setiap bulan baru berkunjung, banyak yang ingat memegang kantong, sedikit yang ingat memegang nurani. Setiap tahun baru datang, banyak yang bertanya,”Berapa umur saya sekarang?”. Sedikit yang bertanya, “Seberapa bijaksana saya sekarang?”.

***

Sudah selayaknya kita lebih merenung diri tentang apa yang telah kiat perbuat bagi diri, keluarga, masyarakat, negara dan agama kita di tahun yang lalu, dan menetapkan rencana mengenai raihan-raihan apa yan hendak kita capai di tahun mendatang, inilah resolusi yang harus kita miliki.karena seperti kata Nabi yang Mulia, “Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dia adalah orang yang beruntung. Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka dia adalah orang yang merugi. Dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka dialah orang-orang yang celaka.” (Al Hadis).

Semoga dalam kehidupan di tahun yang baru baru sajaa kita songsong ini, kita termasuk dalam golongan orang-orang yang beruntung seperti yang dijelaskan dalam hadis tersebut. Dan semoga kita benar-benar merasakan “Happy New Years” dan bukan “Happy New Tears” karena seperti yang kita ketahui bahwa setiap hari bangsa ini seolah mendapatkan air mata baru dengan adanya berbagai bencana yang menampar wajahnya.
Wallahu a’lam.

 

Diseduh Oleh : Musyaf  Senyapena (senyapena@gmail.com)

Disedug Di      : Senyapandaan