Prisons Exchange

Prisons Exchange

Dalam sepekan ini, negeri ini kembali digegerkan dengan mencuatnya kasus baru dan unik tentang sebuah sisi lain dari hukum di negeri ini yang dapat pula kita sebut sebagai ke-nyeleneh-an hukum. Kisah ini sangat unik dan ironis tentu saja. Bagaimana tidak, ternyata selain joki CPNS, joki UMPTN/S joki 3 in 1, joki kuda dll, ada sebuah sebutan baru yang berhubungan dengan Perjokian dan hukum sekaligus, namanya “Joki Narapidana”.

Seperti yang ramai diberitakan oleh berbagai media massa negeri ini, pada 27 Desember 2010 silam di Lapas Bojonegoro terjadi kisah “Barter yang unik”. Kasiem mendadak terkenal dan berita tentang dirinya bersanding dengan berita terbaru dari Primadona kasus mafia hukum di negeri ini, Gayus Tambunan, yang foto-fotonya saat berlibur di negeri-negeri orang tersebar di dunia maya. Yang unik dari kasus Kasiem ini adalah tentang sebuah scenario unik dalam permainan hukum. Bagaimana seorang Kasiem yang divonis 3,5 tahun penjara dalam kasus penyelewengan pupuk bersubsidi di-skenario-kan agar dapat digantikan posisinya oleh orang lain yang bersedia dibayar 10 juta rupiah untuk menjadi “Stuntmen” alias joki tahanan guna menggantikan posisi Kasiem. Nah, di sinilah para mafia hukum melihat peluang rupiah segera mengalir, Kasiem yang butuh kebebasan dan Karni sang ‘joki’ yang sangat butuh uang adalah komposisi sempurna dalam sebuah dagelanan hukum ala mafia hukum tersebut.

Melihat kasus unik ini lantas muncul dalam benak masyarakat kita tentang fakta bahwa kebobrokan hukum di negeri ini ternyata makin menjadi-jadi dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap para penegak hukum pun makin tipis. Setelah terbongkarnya rekam jejak ratu mafia hukum yang senang bersolek, Artalyta Suryani, disusul kemudian Gayus Tambunan dan kini ditambah lagi Kasiem dan Karni si joki narapidana, maka makin jelaslah potret buram hukum di negeri ini. Mungkin inilah kiranya yang membuat masyarakat kita makin sering mengadakan “Pengadilan Jalanan” ketika ada kasus kriminal terjadi di lingkungan mereka. Mereka lebih suka main hakim sendiri dan menghakimi para pelaku di jalanan daripada diserahkan kepada aparat penegak hukum.

Kasus Joki Narapidana ini selain unik juga ironis dan memiriskan. Pasalnya di balik kasus hangat ini kita dapat melihat sisi lain dari kondisi rakyat negeri ini yang dalam hal ini diwakili oleh Kasiem-Karni. Kasiem adalah contoh dari beberapa manusia di negeri ini -yang ketika melakukan dosa semisal korupsi dan penyelewengan- seolah tidak ada ketakutan sedikitpun di otaknya dan merasa nyaman dengan tindakannya itu. Namun ketika harus mempertanggung-jawabkan perbuatannya tersebut dia seakan enggan menjalaninya. Dia rela melakukan apa saja agar dirinya dibebaskan atau paling tidak hukumannya agar diringankan melalui rekayasa hukum yang telah dia danai. Sedangkan jika kita melihat Karni, maka saat itu pula nurani kita akan segera tersentak. Bagaimana tidak, seorang anak manusia rela mengorbankan dirinya untuk dibui menanggung dosa orang lain demi rupiah agar dapat membayar biaya pengobatan bapaknya yang bernama Sadirah (74 Tahun) dan agar rumahnya tidak disita bank karena jika itu terjadi maka sama saja kiamat bagi Karni dan bapaknya yang sedang sakit tersebut. Karni memang memiliki hutang sekira 6 juta di Bank dan sertifikat rumahnya juga telah digadaikan.

Entahlah apa sebutan yang layak disematkan bagi Karni, pahlawan kah, penjahat kah, atau entahlah. Namun yang jelas dia adalah salah satu rakyat di negeri ini yang kehidupannya belum termakmurkan di negeri yang konon Surga di bumi ini, dan salah seorang korban anyar dari kelicikan para mafia hukum yang notabene adalah para kaum kerah putih di negara ini.

Kasus joki narapidana ala Kasiem-Karni ini adalah salah satu daftar yang makin memperpanjang deretan kisah yang layak dimasukkan dalam “Kisah Barter Yang Unik” karena ternyata bukanlah sebuah ketidakmungkinan jika ada seseorang yang rela mem-barter kebebasan hidupnya selama ini dengan pengapnya penjara -meski dia tak berhak berada di tempat itu- demi sebuah uang yang ditujukan sebagai sebuah bentuk kecintaan dan pengorbanan kepada keluarga dan orang-orang terkasih di sekelilingnya. Ah kisah barter yang unik, bukan?

Diseduh Oleh : Musyaf  Senyapena (senyapena@gmail.com)
Diseduh Di      :  Senyapandaan