Revolusi Tunisia

Revolusi Tunisia

Jangan pernah meremehkan rakyat kecil. Itulah salah satu pesan yang tersirat dari peristiwa revolusioner di Tunisia. Negeri di ujung tanduk benua hitam Afrika ini memang belakangan menjadi pusat perhatian dunia internasional. Pasalnya, kekuasaan diktator yang korup, penuh KKN yang dalam benak rakyat Tunisia sebelumnya seakan sulit untuk diakhiri akhirnya berhasil ditumbangkan. Hal ini tidak terlepas dari peran rakyat kecil (sipil) dan tentara yang menggawangi lahirnya Tunisia baru pasca dikudetanya Presiden Zine al Ebidine Ben Ali yang kemudian terbirit-birit lari ke Arab Saudi bersama beberapa keluarganya yang dikenal doyan harta. Ben Ali yang menjadi Presiden setelah berhasil mengkudeta “tanpa darah” Presiden pertama Tunisia yang juga merupakan arsitek kemerdakaan Tunisia dari jajahan Perancis, Habib Bourguiba, pada November 1987 akhirnya harus rela meninggalkan negeri yang telah dikangkanginya selama 23 tahun terakhir. Namun di balik rentetan sejarah awal Tunisia hingga terjadinya aksi Revolusi rakyat sipil yang berhasil menumbangkan rezim Ben Ali tersebut, ternyata ada satu peristiwa menarik. Karena seluruh masyarakat Tunisia mengakui bahwa pemicu awal dari terjadinya Revolusi Tunisia ini adalah Mohamed Bouazizi. Seorang pemuda 26 tahun yang merupakan seorang mahasiswa sekaligus pedagang buah dan sayur yang merupakan salah satu dari sekian banyak rakyat Tunisia yang bertitel sarjana namun kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak akibat korupnya pemerintahan negeri tersebut. Seperti yang banyak diwartakan oleh media, Mohamed Bouazizi melakukan aksi bakar diri pada 17 Desember di kota Sidi Bouzid untuk memprotes polisi setempat yang telah merampas gerobak yang biasa digunakannya berjualan buah dan sayur. Awalnya Bouazizi mendatangi kantor pemerintahan daerah setempat guna menceritakan kasusnya tersebut, namun seperti yang kerap juga terjadi di Indonesia, tiada seorang pejabat pun yang sudi menemui dan meladeninya karena dia hanyalah seorang rakyat kecil. Dan setelah didera keputus asa-an yang makin akut, Bouazizi akhirnya nekat membakar dirinya sebagai perwujudan rasa kesal dan protes kepada polisi yang telah merampas gerobaknya yang merupakan sumber penghidupannya selama ini. Dan pada 4 januari Bouazizi akhirnya meninggal dunia di sebuah Rumah Sakit dekat Tunis karena luka bakar tersebut. Dan tak dinyana ternyata aksi nekat Bouazizi tersebut malah meletupkan semangat revolusioner rakyat Tunisia yang selama ini juga merasakan seperti apa yang dirasakan Bouazizi seperti sulitnya mendapatkan pekerjaan, kesulitan pangan dan krisis kehidupan yang lainnya. Aksi bakar diri Bouazizi kemudian dianggap sebagai aksi heroisme dan awal dari gerakan revolusi rakyat Tunisia. Pasca aksi bakar diri itu, hampir seluruh rakyat beserta para Intelektual, pejuang HAM dan kaum Oposisi melakukan demo besar-besaran memprotes pemerintah. Demonstrasi yang menelan tidak kurang dari selusinan korban tewas ini akhirnya mampu menggulingkan rezim Ben Ali yang memilih melarikan diri ke Arab Saudi pada 14 Januari 2011. Inilah salah satu peristiwa revolusi terbesar di dunia Arab saat ini. Dan aksi bakar diri yang dilakukan Mohamed Bouazizi ini menjadi inspirasi dan virus yang menyebar di kalangan pemuda Arab untuk melakukan aksi serupa di negaranya. Karena selain Tunisia, rakyat di Aljazair, Mesir dan Mauritania kabarnya juga mengalami kesulitan hidup seperti yang terjadi di Tunisia. Merebaknya aksi bakar diri di kalangan pemuda arab pasca aksi nekat Bouazizi bahkan membuat Syekh Yusuf Al Qardhawi, Presiden Persatuan Ulama Dunia, harus mengeluarkan larangan kepada semua pemuda Arab agar tidak latah meniru aksi tersebut dan agar mereka lebih dapat menyayangi diri mereka. Karena aksi seperti itu selain nekat juga merupakan bentuk keputus asa-an akut yang dalam Al Qur’an sangat jelas dilarang. Salah satunya dijelaskan dalam Surah Az Zumar Ayat 53 yang berbunyi, “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Di sisi lain dari aksi bakar diri yang memantik kemarahan rakyat Tunisia kepada pemerintahnya itu, dikabarkan ada seorang pengusaha kaya asal Kuwait yang berminat untuk membeli gerobak Mohamed Bouazizi yang telah dirampas oleh polisi dengan harga sekitar US 10.000 Dollar karena pengusaha itu menganggap bahwa gerobak tersebut bernilai sejarah tinggi karena merupakan saksi bisu dan awal terjadinya revolusi Tunisia yang diklaim sebagai peristiwa Revolusi terbesar di dunia Arab saat ini. Pengusaha Kuwait tersebut bahkan meminta agar disediakan sebuah tempat agar dapat dibangun sebuah tugu untuk mengenang peristiwa Revolusi tersebut yang berbentuk Gerobak milik Mohamed Bouazizi.

Sebuah Pelajaran

Dari peristiwa bersejarah tersebut kita dapat mengambil beberapa pelajaran. Diantaranya adalah bahwa sekuat apapun rezim pemerintahan jika rezim tersebut gagal mensejahterakan rakyat dan penuh dengan berbagai kebobrokan seperti Korupsi dan kemandulan hukum, maka tunggu saja saat tumbangnya. Karena sekuat apapun pemerintah, masih lebih kuat rakyat. Gerakan revolusi rakyat yang dimotivasi oleh kemarahan, kekecewaan dan semangat perubahan tak akan dapat dikalahkan oleh siapapun. Karena hal tersebut memang seperti Bom Waktu yang hanya menunggu saat yang tepat tuk meledak. Ingat di negeri kita hal ini juga pernah terjadi saat rakyat yang digawangi oleh Mahasiswa menumbangkan Rezim Soharto yang terkenal korup dan telah berkuasa sekitar 32 tahun. Dan satu pelajaran lagi khususnya bagi para aparat penegak hukum agar jangan bertindak sewenang-wenang kepada rakyat kecil (pedagang dan kaum marginal lainnya) seperti yang sering dipertontonkan di depan mata seluruh rakyat saat terjadi penggusuran dan penangkapan terhadap para terduga teroris tanpa menggunakan kaidah hukum praduga tak bersalah. Karena selain hukum yang adil, nurani juga harus ditegakkan di negeri ini.

***
Mohamed Bouazizi memang hanyalah seorang rakyat biasa dan dari strata sosial rendah di negaranya, namun aksinya mampu meledakkan semangat seluruh rakyat negerinya. Aksi Bouazizi seperti sebuah sumbu/detonator bahan peledak, kecil memang bentuknya, namun jika tersulut maka ledakan besar akan segera terjadi karena bahan peladak tak akan ada artinya tanpa sebuah detonator. Mohamed Bouazizi, kini diukir nama tersebut dengan tinta emas dalam sejarah Tunisia baru Pasca Revolusi. Dialah sang Detonator Revolusi, Martir Revolusi negerinya dan wakil dari banyak rakyat Tunisia yang senasib seperti dia karena ternyata banyak Bouazizi- Bouazizi lain di seluruh Tunisia dan bahkan di negara-negara Arab. Dari Gerobak menuju Revolusi, itulah sejarah baru Tunisia kini. Akankah ada Bouazizi-Bouazizi lain berikutnya? Entahlah, kita tunggu saja.

Diseduh Oleh : Musyaf   Senyapena
Diseduh Di      : Senyapandaan