Peratap Gaji

Peratap Gaji

Masih ingat dengan unek-unek Presiden kita tentang gajinya yang “katanya” tak naik-naik. Curhatan secara tak langsung presiden bangsa “terhebat” di dunia ini diungkapkannya saat menghadiri sebuah acara yang juga berbau program kenaikan gaji para aparatur negara seperti Polisi dan Tentara. Gaji Presiden tidak naik selama 7 tahun terakhir, demikian seperti yang dituturkan presiden sendiri. Terlepas kata-kata tersebut keluhan atau hanya sekedar bahan komparasi yang dimaksudkan presiden sebagai informasi bagi pendengar pidatonya saat itu, banyak kalangan yang menilai hal tersebut kurang pantas jika keluar dari lisan seorang kepala negara. Apalagi di tengah kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Keluhan itu meluncur dari lisan Presiden saat rakyat Jogja masih merana diamuk merapi, saat rakyat wasior belum pulih betul dari bencana banjir bandang, kala masyarakat Mentawai masih menangisi tanahnya yang dihajar tsunami, ketika rakyat makin merasakan “pedasnya” harga cabai yang baru kali ini dalam sejarah bangsa ini bisa mengalahkan harga daging, ketika nelayan tidak dapat melaut karena cuaca ekstrem, saat petani meratapi sawahnya yang gagal panen dll. Jika Presiden yang dalam sebulan total gajinya sekitar 60 jutaan plus dana taktis 2 Miliar/bulan masih mengeluh, itu wajar-wajar saja jika beliau membandingkannya dengan pendapatan para pengusaha atau paling tidak dengan gaji para Direktur BUMN, namun jika beliau masih tercerahkan hatinya, maka beliau tentu masih akan dapat lebih bersyukur jika menilik pendapatan rata-rata rakyat negeri ini yang kian hari kian menjadi manusia-manusia yang berpeluang terjun kasta menjadi kaum melarat. Di sinilah ternyata kearifan lokal Masyarakat Timur yang terilhami dari ajaran Muhammad dulu sangat penting tuk direnungi kembali, beliau mengajarkan bahwa dalam memandang dunia (kekayaan dll) kita harus memandang ke bawah karena ternyata masih sangat banyak orang-orang yang hidupnya lebih susah dan melarat daripada kita. Dan saat memandang ilmu serta amal, maka kita diajarkan untuk selalu melihat ke atas, karena ternyata banyak orang lain yang kapasitas ilmu dan amalnya lebih banyak daripada kita. Hal ini mengajarkan kepada kita agar tidak cepat puas diri dalam hal mencari ilmu dan beramal serta dimaksudkan agar kita tidak sombong dengan ilmu yang kini kita miliki.

Nah, mengenai curhatan tersirat Presiden Republik Indonesia tersebut, nampaknya layak kita kulik kembali kisah hidup Khalifah Umar Bin Khatab yang merupakan seorang Presiden pada masanya. Hal ini dimaksudkan sebagai bahan perbandingan dan pembelajaran bagi kita, utamanya yang diamanahi memimpin negeri ini. Khalifah/Presiden Umar setiap malam berkeliling ke pemukiman rakyatnya secara diam-diam guna mengetahui keadaan rakyatnya secara riil dan obyektif bukan melulu dari laporan para staff (menteri atau satgas-satgas bentukan Presiden) nya seperti yang banyak diterapkan di berbagai negara dunia saat ini. Khalifah Umar memanggul sendiri sembako bagi rakyatnya yang berhak setelah beliau mengetahui kondisi rakyatnya secara langsung melalui program Live Action nya bukan dengan menunggu laporan dari para staff-nya semata. Khalifah Umar saat menerima tamu atau sedang mengerjakan tugas pribadi yang tidak ada sangkut pautnya dengan tugas negara, maka saat itu pula beliau singkirkan semua fasilitas negara karena semua fasilitas itu adalah milik rakyat dan beliau hanyalah seorang “Operator” dari fasilitas milik rakyat tersebut. Beliau berjiwa besar tidak anti kritik. Memikirkan rakyat di atas kepentingannya. Beliau pernah berucap,”Jika rakyatnya kenyang maka beliaulah yang akan merasakannya paling akhir dan saat rakyatnya merasa kelaparan maka beliaulah yang akan merasakannya paling awal”. Dan ucapan itu selalu beliau buktikan seperti saat beliau mengikat perutnya dengan beberapa buah batu -sebagai pemberatnya- saat negaranya dalam masa paceklik dan sebagai bentuk nyata keprihatinan beliau terhadap kelaparan rakyatnya. Beliau merasakan lapar paling awal saat rakyatnya mengalami kesulitan pangan. Beliau tidak pernah menghiraukan dunia apalagi memikirkan gajinya yang entah naik atau masih stagnan abadi karena baginya menjadi Khalifah/Presiden adalah sebuah amanah besar yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di depan Mahkamah Ilahi di Akhirat yang tentunya lebih besar hakikatnya daripada sekedar memikirkan gaji yang tak naik-naik.

Memang tidak mudah meneladani sosok pemimpin seperti Umar Al Farouq ini, namun bukanlah hal yang sulit untuk perlahan mulai belajar seni kepemimpinan dari sahabat Rasul pemimpin para lelaki di Surga kelak tersebut, apalagi Indonesia adalah negeri yang mengaku sebagai negeri bertuhan dalam Konsitusinya dan kebetulan pula sebagai negeri umat Islam terbesar di jagad nyata ini. Ingat perjalanan sejauh puluhan mil pun diawali dengan jalan selangkah. Selangkah demi selangkah kita belajar meneladani dan mencontoh akhlak beliau. Dan semoga negeri ini kelak dikaruniai pemimpin-pemimpin yang amanah dan dapat bertingkah polah seperti Umar Bin Khottob agar Indonesia dapat menjadi negara yang mulia. Amin

Diseduh Oleh : Musyaf  Senyapena (senyapena@gmail.com)

Diseduh Di      : Senyapandaan