disaster-management

Manajemen Bencana

Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menyatakan bahwa kerusakan lingkungan dan konflik sumber daya alam akan terus berlanjut pada tahun 2011. Kepala Departemen Advokasi Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Mukri Friatna menyatakan bahwa kerusakan lingkungan dan konflik sumber daya alam akan mengalami peningkatan karena pemerintah tidak menegakkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, WALHI memperkirakan kasus pencemaran dan kerusakan lingkungan akan mengalami peningkatan sekira 50-70 persen pada tahun 2011 dibandingkan dengan tahun 2010 lalu1.

Sengaja saya mengutip data dari WALHI tersebut dalam membuka tulisan ini. Karena menurut hemat saya, pemaparan tersebut seharusnya makin membuat kepedulian kita terhadap lingkungan semakin meningkat. Bayangkan, jika pada tahun lalu (2010) bencana lingkungan yang terjadi di negeri ini telah sedemikian dahsyatnya (seperti Banjir bandang Wasior dan bencana lain yang hampir merata terjadi di wilayah Indonesia), maka bagaimana dengan yang akan terjadi pada tahun 2011 ini jika pemaparan WALHI yang menyatakan bahwa tingkat pencemaran dan pengrusakan lingkungan akan mengalami peningkatan sekitar 50-70 persen benar-benar bukan isapan jempol belaka? Pasti akan lebih dahsyat lagi, bukan. Maka dari situlah hendaklah kita semua sebagai anak negeri ikut andil menjadi bagian dari para pemberi solusi bagi masalah lingkungan ini. Sekecil apapun ide dan langkah nyata kita tentu akan sangat bermanfaat bagi proses pemulihan (Recovery) lingkungan yang telah terlanjur rusak dan juga bagi proses pelestarian keseimbangan ekosistem yang kebetulan masih terjaga.

Saatnya bangun, karena Lingkungan kita sangat butuh perhatian kita

Menyikapi Lingkungan Yang Tak Lagi Bersahabat

Periode penghabisan kalender 2010 hingga awal tahun 2011 masih diwarnai berbagai warta tentang Cuaca Ekstrem dan kasus Anomali Iklim di hampir seluruh wilayah di dunia. Quensland dilanda banjir besar yang konon merupakan yang terparah dalam beberapa tahun belakangan. Natal di Australia yang biasanya meriah dengan sinar matahari tiba-tiba berubah menjadi Natal putih pada 2010 lalu akibat turunnya salju yang merupakan salah satu kasus Anomali Cuaca yang paling ekstrem di dunia pada tahun 2010 lalu. Belum lagi berita tentang badai salju yang melumpuhkan hampir seluruh wilayah Benua Biru (Eropa) yang sempat mengoyak perekonomian Eropa dan Dunia. Dan belum lagi warta-warta anomali Iklim dari negeri tercinta ini yang juga sangat beragam dampaknya. Demi menyikapi semua ini maka sangat wajar memang keputusan Pemerintah melalui Menteri Perekonomian Hatta Rajasa yang telah menyatakan bahwa pemerintah akan segera menerbitkan Instruksi Presiden (INPRES) guna mengantisipasi dampak dari iklim ekstrem tersebut. Draf Inpresnya sudah final dan targetnya diterbitkan pada akhir Januari. Ada anggaran Rp 2 Triliun lebih bagi pertanian dan untuk semua hal yang berkaitan dengan antisipasi perubahan iklim ekstrem tersebut. Menko Perekonomian juga menegaskan bahwa dengan Inpres itu Menteri Pertanian akan memiliki Fleksibilitas tinggi dalam mengambil tindakan penanggulangan dari dampak Anomali Iklim yang sangat ekstrem itu, misalnya dalam hal bantuan bibit yang dapat diberikan tanpa harus mengajukan anggaran. Disebutkan juga bahwasanya pemerintah telah mengalokasikan Rp 1 Triliun untuk Stabilisasi Pangan, termasuk di dalamnya adalah cadangan beras dari pemerintah. Menanggapi hal ini, Ketua Komisi IV DPR (dari Fraksi PPP) Akhmad Muqowam menilai bahwa kebijakan pemerintah tersebut sangat baik guna mengatasi kerugian petani akibat perubahan iklim. Namun menurutnya, masih dibutuhkan sosialisasi, mitigasi, dan pendidikan kepada para petani agar mereka juga dapat beradaptasi dengan iklim ekstrem2. Nah yang jadi pertanyaan kita selanjutnya adalah bagaimana cara kita beradaptasi dengan lingkungan yang iklimnya kian tak bersahabat ini.

 

Manajemen Penanggulangan Bencana Lingkungan

Di tengah kondisi alam yang makin garang dan sedikit banyak membuat Topografi Lingkungan sekitar menjadi sama sekali berbeda dari sebelumnya ini, kita sebagai subjek utama pengelola lingkungan yang tentunya paling merasakan dampak dari kondisi tersebut seharusnya lebih dapat berpikir cerdas dan berpikir keras guna menyiasati semua ini. Iklim berubah-ubah secara drastis, cuaca berubah amat ekstrem seketika, bencana melanda dalam hitungan detik, pertanian terimbas, nelayan terhempas, dan titik akhir dari semua skema ini sudah pasti adalah gejala kebobrokan pangan melanda negeri. Nah, dari sini kita harus dapat belajar lebih banyak lagi tentang Manajemen Menghadapi Bencana Lingkungan mulai dari sekarang. Karena hanya dengan itu kita dapat lebih siap kala menghadapi bencana -yang berujung pada krisis pangan- akibat gejala lingkungan yang suatu saat bukan tidak mungkin dapat terulang kembali. Kita dapat belajar dari kisah bijak Nabi Yusuf dahulu kala saat Mesir dilanda paceklik. Beliau dapat berpikir Visioner –terlepas dari keitimewaannya sebagai Nabi- beliau adalah seorang Aparatur Negara yang mampu menerawang jauh ke depan (Visioner) dan amat handal mengatur perbendaharaan negara yang tentunya sangat vital bagi keberlangsungan hidup suatu negara beserta rakyatnya. Jika Yusuf mampu menyusun Manajemen Bencana setelah “Membaca” mimpi sang raja, maka seharusnya kita –terutama aparatur yang berwenang- harus dapat melakukannya pula. Tak butuh mentafsiri sebuah mimpi terlebih dahulu, karena hanya dengan “membaca” gejala alam sekitar maka kita seharusnya telah dapat menyusun kebijakan yang Pro Lingkungan dan Pro Penguninya juga . Pro Lingkungan maksudnya adalah kebijakan itu tidak merusak keseimbangan ekosistem sekitar lingkungan kita. Pro Penghuni Lingkungan maksudnya adalah kebijakan tersebut tetap dapat menampung semua aspirasi penghuni lingkungan baik itu manusia, hewan dan tumbuhan sehingga antara lingkungan dan penghuninya terjadi sebuah keharmonisan. Ingat, tak perlu repot-repot menunggu mendapat mimpi dulu baru kita menafisirinya selayak Yusuf Sang Penafsir Mimpi. Karena ada cara sederhana yang lebih bijak yaitu dengan lebih bersatu dan mendekatkan diri dengan lingkungan sekitar, dengan cara tersebut maka perlahan-lahan kita akan dapat membaca tingkah polah lingkungan (alam) sekitar kita. Hal ini sesuai dengan Adagium terkenal dari Tanah Minang yang berbunyi,”Alam Takambang Jadi Guru.” Yang artinya adalah Alam Terkembang menjadi Guru. Alam adalah sebuah buku raksasa yang lembar demi lembar halamannya harus dibaca dengan cermat agar kita mengerti apa yang akan dilakukan oleh alam/lingkungan terhadap kita. Sehingga kita dapat merumuskan strategi dan membuat sistem manajemen yang apik dalam menghadapi tingkah alam dan lingkungan sekitar kita. Jika Yusuf A.S. dapat membuat sebuah manajemen penanggulangan krisis pangan bagi rakyat Mesir kala itu, seharusnya kita (terutama kaum Muslim yang telah sering kali mengkaji kisah Nabi Yusuf dalam Al Qur’an) dapat pula mencontoh manajemen penanggulangan krisis pangan akibat anomali cuaca ala Yusuf tersebut, namun dengan catatan kita juga harus memodifikasinya sesuai dengan kondisi lingkungan kita saat ini. Inilah manusia bijak, manusia yang dapat belajar dan mengambil solusi dari kisah-kisah sejarah yang pernah tertoreh. Karena sebenarnya hidup adalah sebuah siklus yang senantiasa berputar, dengan kata lain bahwa sejarah akan mengulang kisahnya kembali dalam bingkai hari ini namun dengan sedikit polesan yang berbeda tentunya. Nah, semua hal itu kini menyisakan sebuah ruang tanya bagi kita, dapatkah kita menjadi Yusuf-Yusuf berikutnya yang dapat menyusun sebuah Manajemen Penanggulangan Krisis Pangan akibat lingkungan yang makin garang ini. Seharusnya sih BISA, dan harus BISA.

Diseduh Oleh : Musyaf  Senyapena

Diseduh Di      : Senyapandaan

Note :

1. Kompas, 14 Januari 2011

2. Kompas, 27 Januari 2011