Negeri Ulat

Negeri Ulat

Hari Minggu yang lalu, tepatnya pada tanggal 10 April 2011, koran ini (Jawa Pos) memuat sebuah warta yang sungguh sangat mengagetkan saya dan mungkin juga sebagian besar rakyat Indonesia. Apa pasal? karena pada berita tersebut dijelaskan bahwasannya Indonesia ditunjuk sebagai negara Komando ASEAN dalam menghadapi bencana. Hal ini diungkapkan dalam pertemuan khusus tingkat Menteri Luar Negeri se-ASEAN dengan Menlu Jepang Takeaki Matsumoto di gedung Sekretariat ASEAN di Jakarta. Pertemuan tersebut memang digagas oleh Indonesia yang mana pada tahun ini diamanahi sebagai ketua ASEAN dan juga sebagai Negara Koordianator Dialog Kemitraan ASEAN-Jepang (2009-2012).

Dalam pertemuan penting itu Presiden Republik ini juga mengatakan bahwa kita tidak tahu negara mana lagi yang akan terkena bencana. Namun satu hal -kata Pak Presiden- dengan sistem, kerja sama, dan pengembangan Teknologi yang baik maka kita bisa meminimalkan resiko bencana. Mengenai kerja sama dalam program bersama menghadapi bencana tersebut, telah tersedia beberapa perangkat pendukung seperti The ASEAN Agreement On Disaster Management And Emergency Response dan juga The ASEAN Coordinating Center For Humanitarian Assistance. Indonesia sendiri saat ini juga membangun Peace And Security Center di Jawa Barat untuk pendidikan dan pelatihan penanggulangan bencanaalam serta tugas-tugas misi perdamaian.

Apakah alasan yang membuat saya mengatakan bahwa berita tersebut sangat mengagetkan. Alasan nya adalah karena menurut saya Indonesia terlalu dini untuk diamanahi tugas sebagai Negara Komando ASEAN dalam menghadapi bencana. Karena hal ini sungguh merupakan sebuah Ironi besar. Bagaimana tidak, bukankah Indonesia yang akhir-akhir ini merupakan negeri surga bencana, dalam hal manajemen pencegahan (Preventive) saja sudah terkenal sangat buruk, apalagi dalam hal penanggulangan (Recovery) bencana nilai rapor negeri ini sungguh masih layak jika diberi warna merah. Lantas apakah sudah layak Indonesia dipilih sebagai Negara Komando ASEAN dalam menghadapi bencana.

Banyak contoh kasus dalam permasalahan ini. Mulai dari belum tuntasnya bencana Lumpur Panas Porong yang sudah berusia 5 tahunan, Recovery Tsunami di Mentawai yang masih seret, penanganan dampak banjir bandang di Wasior yang juga masih jalan di tempat dan yang terbaru adalah kasus heboh “bencana” serbuan ribuan ulat bulu. Wabah yang mulanya terdeteksi di Probolinggo ini kini telah menyebar luas ke beberapa daerah lain di tanah air sebagai pandemik. Wabah ulat bulu ini sendiri disinyalir oleh beberapa kalangan (termasuk dari peneliti Institut Pertanian Bogor) sebagai sebuah Endemic karena Varian ulat bulu (yang terdeteksi sebagai lymantria marginanta) ini ternyata belum pernah dikenali sebelumnya di Kabupaten Pasuruan dan Probolinggo. Lantas apakah langkah nyata Pemerintah kita menghadapi wabah baru ini.

Saatnya Mengkoreksi Diri

Sadarkah kita bahwa ada pesan Tuhan di balik serangan wabah Ulat Bulu ini. Jika kita -terutama Pemerintah- dapat berpikir jernih, kejadian ini (Wabah Ulat Bulu) adalah sebuah sejarah yang berulang yang dahulu pernah terjadi dalam satu lakon sejarah peradaban manusia. Kita tentu ingat kisah manusia Megalomania, yaitu Fir’aun yang angkuh dan Otoriter yang menganggap dirinya sebagai Tuhan, bukankah dalam kitab suci agama Samawi telah dicatat bahwa ada suatu masa dalam Pemerintahannya yang juga sejaman dengan diutusnya Musa A.S. dimana saat itu negerinya diserang oleh wabah Kutu, Katak dan belalang sekaligus. Bayangkan 3 wabah sekaligus, tentu bukan perbandingan yang sesuai dengan wabah Ulat Bulu yang menyerang kita saat ini. Kenapa Tuhan mengirimkan para “Bala TentaraNya” tersebut ke negeri Fir’aun, jawabannya tentu saja adalah sebagai azab kepada Pemerintah negeri Mesir kala itu beserta rakyatnya yang durhaka kepada Tuhan. Lantas apakah yang terjadi di negeri ini (termasuk di wilayah Probolinggo-Pasuruan) adalah sebuah azab? Oh tentu tidak, kita tidak boleh terlalu terburu-buru men-justifikasi seperti itu. Karena dalam menyikapi sebuah bencana kita telah diajari secara bijak oleh Muhammad SAW. Jika bencana itu menimpa suatu negeri dimana di dalamnya banyak dihuni oleh manusia-manusia bejat maka saat itulah kita dapat menyimpulkan bahwa bencana yang melanda negeri tersebut adalah sebuah Azab dari “Langit” bagi negeri itu. Namun jika negeri tersebut ternyata banyak dihuni oleh manusia-manusia baik maka kita dapat menyimpulkan bencana yang melanda negeri tersebut adalah sebuah cobaan/ujian serta peringatan kepada penduduknya yang lalai. Nah, untuk kasus penduduk Probolinggo-Pasuruan dan khususnya Indonesia, hanya kita sendirilah yang dapat menyimpulkan termasuk golongan yang di azab kah atau yang sekedar diperingatkan kah. Karena saya yakin bahwa negeri ini masih sangat banyak manusia-manusia sholehnya meski ada sekelompok “Oknum” rakyatnya yang suka korupsi, melakukan hal tak selayaknya saat rapat dewan, dan yang suka menghambur-hamburkan uang rakyat guna membangun gedung rapat baru yang nyatanya banyak ditentang rakyat yang -konon- diwakilinya.

Membaca Pesan Tuhan

Menyikapi pengangkatan Indonesia sebagai negara Komando ASEAN dalam menghadapi bencana dan sekaligus mewabahnya serangan ulat bulu, nampaknya ada sebuah pesan Tuhan buat bangsa ini terutama Pemerintahnya. Bahwa kepercayaan negara-negara anggota ASEAN serta Pemerintah Jepang terhadap Indonesia adalah sebuah amanah maha berat dan sangat prestisius sebagai pembuktian bahwa bangsa yang sering dilanda bencana ini masih dianggap lebih berkompeten dalam masalah penanggulangan bencana karena jejak rekamnya yang sarat akan catatan-catatan hitam bencana, tentu tanpa memandang kesemrawutan manajeman pencegahan sekaligus penanggulangan bencananya. Dan satu hal lagi yang nampaknya harus segera disikapi adalah jangan sampai kisah zaman Fir’aun yang negerinya diserang 3 kolaborasi wabah yaitu katak, kutu dan belalang terulang di zaman ini di negeri kita. “Masih” cukup wabah Ulat Bulu ini saja yang harus kita hadapi jangan sampai ada wabah-wabah serangga lainnya. Semoga Pemerintah negeri ini tak lantas besar kepala menyambut pengamanahan pemerintahannya sebagai Komando Penanggulangan Bencana di wilayah Asia Tenggara. Karena jika tidak, takutnya Tuhan akan mengulangkan kisah negeri Fir’aun di negeri ini. Ah, semoga saja itu tidak terjadi.

Diseduh Oleh : Musyaf  Senyapena

Diseduh Di       : Senyapandaan