Buruh Menggugat

Buruh Menggugat

Hari ini, 1 Mei, adalah hari dimana kaum Buruh di seluruh dunia “merayakan” momentum kebangkitan mereka. Hari dimana para kaum pekerja biasanya bergerak untuk menyuarakan aspirasi-aspirasi mereka kepada para pemegang kebijakan perburuhan. Biasanya orasi mereka selalu sama dari tahun ke tahun, yaitu peningkatan tunjangan sosial, status, dan upah guna memperbaiki kualitas hidup buruh dan keluraga mereka. Yang membuat sedikit berbeda mungkin hanya pada permasalahan waktu/jam kerja. Mengapa dikatakan berbeda. Karena hal ini sungguh tak sama jika dibandingkan dengan sejarah awal tercetusnya peringatan Hari Buruh (May Day) itu sendiri yang pada awalnya malah dilakukan tuk mengkritisi masalah lama waktu kerja per hari . Berdasar catatan sejarah, awal mula tercantumnya Hari Buruh dalam almanak dunia adalah karena adanya sebuah peristiwa heroik pada tanggal itu. Pada tanggal 1 Mei 1886 di Amerika Serikat sekitar 350.000 buruh melakukan aksi mogok massal di beberapa tempat di negeri Paman Sam tersebut. Aksi yang diorganisir oleh Federasi Buruh Amerika itu merupakan bentuk protes kaum buruh yang menyuarakan tingkat kesejahteraan mereka yang memprihatinkan. Selain masalah upah dan tunjangan sosial, kaum buruh waktu itu juga mengeluhkan jam kerja mereka yang tidak sewajarnya diwajibkan bagi mereka, yaitu hingga 15 jam per hari. Aksi yang terus dilanjutkan hingga beberapa hari ini akhirnya membuat pemerintah mengambil langkah represif guna meredam pemogokan massal para pekerja pabrik tersebut. Pada tanggal 3 Mei polisi yang dikerahkan ke pabrik Mc Cormick tuk membuyarkan aksi buruh ternyata bertindak terlalu keras. Mereka menembaki para buruh yang sedang melakukan aksi mogok kerja hingga berakibat 4 orang tewas dan lainnya luka-luka. Peristiwa ini tentu membuat amarah kaum buruh makin membuncah. Puncaknya pada 4 Mei mereka memobilisasi sesama buruh lainnya tuk menyuarakan aspirasi mereka. Aksi yang kali ini diikuti oleh puluhan ribu buruh ini dipusatkan di lapangan Haymart. Sebenarnya aksi pada 4 Mei ini merupakan aksi damai, namun ternyata ada tangan tak terlihat yang berusaha mengadu buruh dengan aparat dengan cara meledakkan bom di tengah-tengah aksi tersebut yang mengakibatkan seorang polisi tewas dan lainnya luka-luka. Suasana seketika menjadi Chaos, dan meskipun pelaku di balik kejadian itu belum jelas, namun tetap saja telunjuk penguasa mengarah pada para aktivis buruh dan melakukan tindakan keras pada mereka. Lokasi pertemuan mereka digrebek. Hampir semua tokoh buruh ditangkap. Pengadilan pun berjalan tak adil. 8 Orang pimpinan buruh dijatuhi hukuman gantung. August Spies, Albert Parsons, Adolph Fischer dan George Engel, tewas di tiang gantungan. Sedangkan Louis Lingg bunuh diri saat dalam penjara. Hukuman untuk Michael Schwab, Samuel Fielden dan Oscar Nebe diganti menjadi hukuman penjara seumur hidup. Hal inilah yang kemudian memicu kemarahan masyarakat yang menganggap pengadilan AS korup dan memihak para pengusaha. Aksi mendesak pemerintah untuk membebaskan para aktivis buruh yang ditahan pun terus dilakukan. Akhirnya pada tahun 1893, 3 orang aktivis buruh tersebut dibebaskan. Momentum pergerakan dan perjuangan kaum buruh ini akhirnya ditetapkan sebagai Hari Buruh Sedunia dalam sebuah Kongres International Buruh pada tahun 1890 di Paris. Dari sinilah 1 Mei ditetapkan sebagai hari “Sakral” bagi para kaum buruh yang dalam kesejarahannya hingga hari ini masih berkutat pada permasalahan yang hampir sama, yaitu kesejahteraan mereka yang belum dapat dikatakan bagus.

Tuntutan Utama May Day

May Day

May Day

Berdasar warta yang beredar (www.bataviase.co.id per 25 April 2011, Berita Buruh Indonesia, dan juga ANTARA), aksi Hari Buruh pada tahun ini lebih banyak menyoroti masalah jaminan sosial bagi kaum Buruh. Aksi yang dimotori oleh Komite Aksi Jaminan Sosial (KAJS) yang terdiri dari 66 Organisasi Serikat Pekerja di seluruh Indonesia ini direncanakan diikuti oleh ratusan ribu massa yang akan bergerak ke Istana Presiden, Gedung DPR dan DPD pada hari ini (1 Mei). Mereka menuntut segera disahkannya Rancangan Undang Undang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (RUU BPJS) sebagai amanat dari UU 40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Hal ini sangat penting karena juga merupakan implementasi nyata dari sila ke 5 Pancasila yang merupakan asas negara ini. Ya, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah asas yang coba diterapkan melalui RUU BPJS. Pasalnya saat ini Jaminan Sosial dinilai masih sangat diskriminatif, karena hanya orang-orang/profesi tertentu saja yang bisa menikmatinya. Nah melalui aksi petisi rakyat ini diharapkan dapat perlahan menghapus segala diskriminasi keadilan sosial yang masih berjalan hingga kini. Fokus perjuangan KAJS sendiri setidaknya mencakup tiga poin krusial, diantaranya jaminan kesehatan seumur hidup untuk seluruh rakyat Indonesia; jaminan dana pensiun wajib bagi buruh swasta, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) harus badan hukum publik wali amanat. Nah pada poin ke 2 tersebut diharapkan akan terwujud keadilan sosial bagi para kaum buruh. Karena seperti yang diketahui bersama bahwa dana pensiun di negeri ini masih hanya diperuntukkan bagi para pegawai pemerintah saja seperti TNI/POLRI/PNS dll. Padahal kontribusi buruh bagi ketahanan ekonomi yang merupakan salah satu tonggak utama kestabilan sebuah pemerintahan sungguh tidak bisa dipandang sebelah mata. Jadi, merupakan sebuah ketidakadilan jika semasa kerja para buruh dituntut berproduktivitas tinggi namun jaminan sosial bagi mereka tak memadai, baik itu semasa kerja maupun saat purna kerja. Belum lagi status buruh baru yang masuk dalam lingkaran outsourching, tentunya semua itu harus menjadi bahan pertimbangan tersendiri bagi para pemegang kekuasaan (pemerintah dan pengusaha). Padahal mereka (buruh) juga menghidupi republik ini melalui keringat dan pajak yang diwajibkan atas mereka. Pernyataan Bapak Hotbonar Sinaga yang merupakan Dirut PT. Jamsostek (Persero) makin membuktikan bahwa nasib buruh di negeri ini layaknya masih berada dalam zona merah. Beliau mengatakan bahwa kesadaran para pengusaha dalam melindungi pekerja dengan program jaminan sosial tenaga kerja sesuai amanat Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jamsostek ternyata masih rendah. Sedikitnya 40 persen dari 133.000 perusahaan yang tercatat sebagai peserta aktif di PT. Jamsostek (Persero) masih belum jujur dalam melaporkan upah karyawannya. Hal ini tentu sangat merugikan pekerja karena mereka tak akan menerima secara penuh semua manfaat dari Jasmsostek jika terjadi resiko saat bekerja (Kompas, 25/04/11). Apa perasaan kaum buruh saat membaca fakta tersebut? entahlah, namun yang jelas hal ini makin membuktikan bahwa kaum buruh masih merupakan golongan masyarakat kelas bawah, para kaum orang – orang pingiran, demikian istilah Iwan Fals dalam balada Orang Pinggiran-nya yang kesohor itu.

Nasib Buruh vs Loyalitas

Dalam bukunya yang berjudul The Why Work terbitan Mc Graw Hill 2010, Dave dan Wendy Ulrich memaparkan sebuah sesuatu yang sangat bagus mengenai arti penting sebuah pemaknaan hidup. Dave Ulrich yang namanya sangat familiar di telinga para praktisi dan akademesi dunia manajemen karena buku-bukunya seperti The Human Resources Champion (1996) dan juga The HR Value Proposition (2005) telah menjadi panduan utama bagi para pelaku bisnis dalam merevitalisasi strategi pengelolaan SDM di berbagai perusahaan dunia termasuk Indonesia, menyatakan bahwa peningkatan kepuasan pekerja melaui penciptaan makna memiliki nilai strategis dalam mendorong kepuasan pelanggan dan pertumbuhan finansial perusahaan. Karena berdasarkan survey yang dikutip dalam buku tersebut menunjukkan bahwa 78 % karyawan yang puas dengan perusahaan tempat ia bekerja akan bersedia merekomendasikan produk ataupun jasa dari perusahaannya tersebut. Nah, pertanyaannya sekarang adalah sejauh mana perusahaan-perusahaan saat ini memberikan kesempatan kepada para pekerja/buruhnya tuk memaknai pekerjaannya jika masalah ketidak-jelasan jaminan sosial dan status (terutama yang masih outsourching) saja masih menghantui para buruh hingga kini. Ini penting karena titik inilah yang mempengaruhi tingkat loyalitas para pekerja.

Akhirnya, selamat hari buruh, semoga para buruh Indonesia makin membaik nasibnya sehingga ekonomi republik ini dapat kembali bangkit agar jargon keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia bukanlah menjadi utopia semata.

Diseduh Oleh : Musyaf  Senyapena (senyapena@gmail.com)

Diseduh Di      : Senyapandaan