Republic Of Brain Laundry

Republic Of Brain Laundry

Negeri yang unik, ya, inilah sebutan yang nampaknya pantas disematkan kepada republik Indonesia tercinta ini. Pasalnya memang banyak hal yang aneh, menarik, dan unik dari negeri ini yang nyatanya tidak semua negara punya. Salah satunya adalah masalah cuci mencuci. Mungkin dalam benak anda bertanya-tanya apa maksud saya mengatakan bahwa masalah “Cuci Mencuci” adalah sesuatu yang khas dan unik di negeri ini. Tunggu sebentar, tolong jangan berfikir bahwa saya sedang ngelantur atau bercanda karena saya menuliskan ini semua dalam keadaan sadar total. Baiklah saya akan jelaskan maksud saya secara perlahan-lahan.

Gerakan Cuci Mencuci

Kita tentu ingat dengan kasus Bank Century yang menyeret-nyeret nama para pejabat besar di negeri ini, bukan? Kasus yang membuat geger seantero nusantara ini adalah salah satu awal dari cerita “Program Cuci Mencuci” ala Pemerintah republik ini yang selanjutnya akan makin marak digalakkan tiap kali ada kasus besar yang membawa-bawa nama pemerintah. Berawal dari Century, tokoh utama yang disorot dalam kasus penalangan terhadap bank tersebut yang merugikan negara hingga bermilyar-milyar adalah para punggawa utama di pemerintahan Rezim ORBO (Orde Bohong) –meminjam istilah para tokoh lintas agama yang kasusnya beberapa waktu lalu sempat membuat muka pemerintah negeri ini merah padam karena pemerintah dicap sebagai pembohong-. Para tokoh teras tersebut seperti yang diketahui bersama adalah seorang pendamping Kepala Negara Bangsa ini dan juga seorang wanita menteri ekonomi di era Kabinet Indonesia Bersatu Jilid 1 (KIB 1). Lantas apa yang menarik dari kasus ini. Coba kita ingat-ingat meskipun saat itu hampir seluruh rakyat Indonesia menyerukan agar Presiden menon-aktif-kan 2 tokoh tersebut namun toh Presiden kita yang mulia itu diam saja dan malah melindungi dan lebih memilih mempertahankan 2 “Pembantunya” itu. Terlepas dari tekanan partai atau intervensi asing, kasus tersebut tentunya merupakan raport merah bagi Rezim ORBO ini. Dan resep termanjur untuk menyelamatkan muka pemerintah adalah dengan sesegera mungkin mengubur kasus itu. Nah, setelah berhasil menyelamatkan si wanita Mentri Ekonomi dengan merelakannya dipanggil si Big Boss (Negara Adidaya Barat) tuk menduduki jabatan elite di Kantor pusat Bank Dunia di Amrik sana dan juga tetap mempertahankan posisi wakil kepala Negara bagi tokoh yang satunya, pemerintah langsung mencuci noda kasus Century itu dengan kasus yang lain. Diantaranya adalah kasus Terorisme, dan kasus terorisme beserta  segala yang berbau Islamphobia inilah yang kini menjadi senjata utama atau dapat dibilang Deterjen Pemerintah tuk mencuci noda dari sebuah kasus yang menyeret-nyeret nama pemerintah. Semua tentu ingat dengan kasus perampokan Bank CIMB di Medan yang konon digunakan dalam mendanai pelatihan Militer di Aceh yang disinyalir adalah program pelatihan Teroris, nah kasus inilah yang berhasil mengalihkan perhatian publik dari kasus Century di samping kasus tewasnya Noordin M. Top, Kriminalisasi KPK dan Antashari Azhar dll. Kemudian kasus berlanjut dengan ditangkapnya Ustadz Abu Bakar Ba’asyir (ABB) yang konon adalah otak intelektual dan juga penyuplai dana bagi pelatihan terorisme di Aceh, padahal publik sudah sangat kenyang dengan fitnah-fitnah terhadap Kyai sepuh asal Ngruki itu. Karena kuat dugaan bahwa penangkaapan ABB itu adalah pesanan Paman Sam, karena penangkapan itu hanya berselang beberapa hari sebelum Obama “si Anak Menteng” datang ke Indonesia. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa ABB adalah figure yang sangat ditakuti Amerika Serikat karena kelurusan Akidah/Tauhidnya. Dan demi Obama sang Presiden negeri penjajah modern itu, pemerintah kita tega mengorbankan seorang Ulama’ , sungguh sangat hebat dan maha berani bangsa ini.

Kemudian muncul lagi kasus rencana pembangunan gedung baru DPR yang banyak ditentang rakyat, nah deterjen berikutnya yang digunakan tuk mencuci kasus ini agar teralih dari perhatian masyarakat adalah kasus maraknya bom buku dan kasus “Cuci Uang” ala Tante Inong Melinda Dee yang gemar utak-atik (memperbesar) beberapa bagian tubuhnya yang indah itu, yang sekaligus juga menyelamatkan muka pemerintah karena ketidakbecusannya menyelamatkan para WNI ABK Kapal Sinar Kudus yang disandera oleh para perompak Somalia. Padahal negeri Jiran Malaysia dan Korsel yang warga negaranya mengalami nasib serupa ternyata tak sampai satu minggu (ada yang memberitakan hanya satu hari) tlah berhasil membebaskan warga mereka. Kemudian ada satu berita lagi yang juga berhasil mengalihkan sorotan mata masyarakat dari kasus ketidakbecusan pemerintah dalam menyelamatkan WNI korban sandera para bajak laut tersebut,  yaitu peristiwa pernikahan William dan Kate Midleton di Inggris sana.

Sekarang setelah semua “Deterjen” pencuci/pengalih isu tersebut hampir habis efeknya, deterjen lain siap dikeluarkan yaitu kasus NII KW 9 (Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah 9). Maraknya kasus cuci otak dan penculikan oleh para anggota NII inilah yang kini menjadi isu terhangat dan merajai hampir semua pemberitaan di media-media massa tanah air. Kasus NII ini menjadi sebuah isu prestisius dan menarik karena membawa efek yang sangat besar. Selain merupakan desain baru tangan-tangan tak terlihat guna makin memojokkan citra Islam yang sebelumnya telah diserang bertubi-tubi melalui berbagai tindak pelecehan dan penistaan, kasus NII ini juga menyangkut citra pemerintah negeri ini. Pasalnya partai yang tengah berkuasa di negeri ini sekarang (Partainya Kepala Negara) disebutkan telah menyumbangkan beberapa milyar melalui salah satu kadernya yang kini menjadi KETUM Partai berkuasa itu. Dana hibah tersebut diperuntukkan bagi pengembangan Ponpes Al Zaithun milik Panji Gumilang alias Abu Toto pemimpin NII sekarang yang mana oleh para Ulama telah dianggap menyebarkan ajaran sesat melalui NII. Dan yang menjadikan aneh adalah sikap pemerintah yang terkesan lambat menyikapi NII, padahal jelas-jelas sangat meresahkan masyarakat. Ada apa di balik pemerintah dan Al Zaithun sekaligus NII ini. Padahal pemerintah selalu gembar gembor akan memberantas ormas maupun gerakan apapun yang dinilai mengganggu ketertiban umum dan yang berkehendak merubah ideologi negara, yakni Pancasila. Bukankah NII KW 9 sudah memenuhi syarat mutlak tuk dibubarkan dan diberangus hingga akar, karena selain difatwa sesat oleh Ulama, NII juga sangat meresahkan rakyat yang temtunya masuk dalam kategori mengganggu ketertiban umum. Apalagi tujuan utama NII adalah mendirikan sebuah negara agama, yaitu Negara Islam versi mereka dan membuang Pancasila. Lantas apalagi yang ditunggu pemerintah? Atau jangan-jangan benar analisis para pemerhati Intelejen bahwa NII ini sengaja dipelihara oleh “Oknum” penguasa guna merusak Islam dari dalam seperti yang dipraktekkan oleh Ali Moertopo dan Beni Murdani pada era ORBA dulu melalui Proyek KOMJI (Komando Jihad) dan juga sebagai pengalih isu besar lainnya. Entahlah, namun yang jelas dugaan bahwa penguasa negeri ini memang sengaja memelihara Terorisme dan NII memang makin kentara jika melihat tingkah Pemerintah saat ini. Yah mungkin lebih baik jika kita anggap saja NII ini sebagai cadangan deterjen yang dapat digunakan di lain waktu guna mencuci kasus-kasus (program pengalihan isu) yang dianggap dapat mencoreng muka pemerintah. Wallahu A’lam

Yang jelas pendapat saya bahwa negeri ini adalah negeri “Laundry” terhebat yang para penguasanya sangat jago dalam hal cuci mencuci kasus bukanlah sesuatu yang mengada-ada, bukan? Karena bukti sangat banyak bertaburan di sekitar kita. Dan pertanyaan besar berikutnya adalah, deterjen yang apa lagi yang sedang dipersiapkan oleh para penguasa seandainya ada kasus-kasus baru yang dapat makin memperburuk nama pemerintah, apakah akan dikeluarkan bom-boman lagi atau kasus-kasus korupsi atau bahkan mungkin sesuatu yang baru yang akan membuat rakyat terperangah kaget karena tak pernah menduga sebelumnya. Kita tunggu saja kejutan para penguasa negeri ini selanjutnya.

Diseduh Oleh : Musyaf  Senyapena (senyapena@gmail.com)

Diseduh Di       : Senyapandaan