Dear Mr. Bin Laden

Dear Mr. Bin Laden

Pertanyaan tersebut menyeruak kala mengamati secara kritis berita dari berbagai media massa dunia dan tanah air yang beberapa pekan ini gencar mewartakan berita kematian tokoh paling dibenci Paman Sam tersebut. Berbagai hipotesis pun bermunculan, ada yang menganggap berita tersebut sebagai kabar baik namun tak sedikit pula yang menyangsikan berita itu karena memang diwartakan secara sepihak pertama kali oleh AS. Banyak kejanggalan yang muncul dalam kasus perburuan dan pembunuhan secara keji terhadap tokoh yang sangat dihormati para pengikutnya tersebut. Nah untuk membahas hal ini berikut ini saya share sebuah analisa menarik dari salah satu situs Islam terbesar di Indonesia, Eramuslim.com mengenai kematian tokoh legendaris Osama Bin Laden ini.

Pada akhir 2001, kematian Usamah Bin Ladin yang pertama dimulai. Setelah serangan 11 September 2011, orang yang disebut-sebut sebagai ulama kelahiran Saudi itu menghilang di Afghanistan, kemudian tiba-tiba ketika ia disebut sebagai orang yang bertanggung jawab atas serangan itu, dan sontak, kaos-kaos bergambar Usamah marak di pasar-pasar dan loakan pinggir jalan di berbagai negara berpenduduk Muslim yang sudah sangat membenci Amerika setengah mati.

Usamah menjadi pahlawan entah-berentah bersama dengan Che Guevara, dan juga John Lennon, atau bahkan Madonna, penyanyi Hollywood itu.

Setelah itu, Usamah menjadi seolah manusia gaib. Ia diklaim ada namun tiada. Sebagian media Barat dengan terang-terangan menyebut bahwa Usamah bin Ladin hanya mitos dan bahkan tokoh fiktif belaka.

Sekarang, Mei 2011, terjadilah kematian Usamah yang kedua kalinya. Namun, sesungguhnya ada dua fakta yang berbeda menarik perhatian. Yang pertama dan paling jelas adalah pengumuman Presiden AS Barack Obama tentang kematian itu sendiri. Yang kedua adalah pada 28 April Obama mengumumkan bahwa Jenderal David Petraeus, komandan pasukan AS di Afghanistan, akan menggantikan Leon Panetta sebagai direktur CIA. Statfor menulis bahwa dua peristiwa yang saling berkejaran ini menciptakan kondisi tersendiri yang khusus bagi sang presiden AS untuk memperluas manuvernya dalam perang di Afghanistan dan akhirnya mereorientasi prioritas kebijakan luar negeri AS.

Misi AS di Afghanistan, seperti yang dinyatakan oleh Obama, khususnya adalah penghancuran Al Qaidah. Stratfor menulis bahwa sesungguhnya Al Qaidah sudah sangat lemah di Afghanistan dan baru-baru ini lebih memfokuskan hidup di Pakistan daripada melaksanakan operasi serangan militer, namun ketidakmampuan untuk menangkap atau membunuh bin Laden berarti bahwa misi AS sendiri belum selesai. Dengan kematian bin Laden, maka masuk akal jika kemudian politik Amerika Serikat akan mengklaim bahwa misi di Afghanistan telah dicapai. Selama konferensi pers Gedung Putih pada hari Senin, Penasihat Homeland Security AS, John Brennan berkomentar tentang kematian bin Laden, dan mengatakan “Kami akan mencoba mengambil keuntungan ini untuk menunjukkan kepada orang-orang di daerah tersebut bahwa Al Qaidah adalah sesuatu dari masa lalu, dan kami berharap untuk mengubur sisa Al Qaidah beserta Usamah bin Ladin.”

Petraeus adalah arsitek dari strategi kontra Amerika di Afghanistan. Ia secara langsung melambangkan kekuatan Amerika di wilayah ini. Dengan menunjuk Petraeus sebagai direktur CIA (ia tadinya diprediksi akan menempati jabatan itu pada bulan Juli), Obama telah menempatkan seorang jenderal yang populer dalam memimpin sebuah birokrasi intelijen yang kompleks. Dari Langley, Petraeus tidak dapat lagi menjadi suara militer yang berwibawa dalam upaya perang di Afghanistan. Obama telah menahan Petraeus sebagai anggota senior pemerintahan, sementara di lain watu secara bersamaan, juga mengisolasi dia.

Dua langkah ini membuka pintu bagi pertimbangan yang serius akan penarikan pasukan AS dari Afghanistan. Seperti diketahui, pemimpin politik AS menghadapi kesulitan menarik keluar pasukannya dari Afghanistan jika saja Petraeus terus memberikan sugesti bahwa perang masih mempunyai fungsi. Padahal, rakyat Amerika sendiri cenderung berpikir bahwa sesungguhnya perang sudah memerangkap mereka di negara orang lain, lebih dari diakui oleh Petraeus; adapun perang jalan terus semata karena demi prestise Petraeus belaka.

Petraeus sekarang sedang dihapus dari gambar Afghanistan. Bin Laden telah dihapus. Dengan kematiannya, sebuah argumen di Amerika Serikat dapat dibuat bahwa misi AS telah dicapai dan bahwa, kebutuhan tambahan pasukan AS di Afghanistan tidak ada lagi. Sulit untuk mengabaikan fakta bahwa bin Ladin tewas, tidak di Afghanistan, tetapi jauh di dalam perbatasan Pakistan. Dengan hilangnya misi anti-terorisme di Afghanistan, misi pembangunan bangsa di Afghanistan menjadi tidak perlu dan tidak penting. Selain itu, dengan semakin meningkatnya ketegangan di Teluk Persia menjelang penarikan pasukan AS dari Irak, dan oleh karena itu memungkinkan bagi Amerika Serikat untuk mempertimbangkan mempercepat penarikan pasukan dengan cara yang tidak mungkin dilakukan sebelumnya.

Stratfor tidak mengatakan bahwa kematian bin Laden dan pengangkatan Petraeus adalah sesuatu di luar kebetulan. Namun bahwa pertemuan dua peristiwa politik itu menciptakan peluang strategis bagi pemerintah AS yang tidak ada sebelumnya, yang paling penting dalam menciptakan kemungkinan untuk perubahan dramatis dalam strategi AS di Afghanistan.

Source : http://www.eramuslim.com/berita/analisa/mengapa-usama-bin-ladin-mati-sekarang-mei-2011.htm