Crying Cow

Crying Cow

Beberapa hari ini saya dan mungkin juga banyak saudara-saudaraku lainnya yang masih tercatat sebagai bagian dari pemijak hidup di Republik ini, lagi-lagi dibuat muak oleh tingkah polah para pembesar-pembesar negeri. Pasalnya, belum tuntas kasus kebobrokan hukum, korupsi, dan ketidak-becusan pemerintah, ternyata masih ada lagi warta miris yang dipertontonkan oleh orang-orang atas di Jakarta sana. Dibuka dengan berita carut-marutnya persiapan Indonesia sebagi tuan rumah SEA GAMES 2010 yang membuat negara-negara peserta Event olah raga kawasan ASEAN tersebut ketar-ketir, kemudian tongkat estafet dari kasus itu makin membawa ke jalur kasus yang lebih besar yaitu kasus suap pembangunan Wisma Atlet SEA GAMES yang ternyata melibatkan seorang Kader Partai berkuasa yang kini membuat seantero negeri heboh dengan keberaniannya melarikan diri ke negeri penampung para Koruptor (Baca: Singapura) , belum lagi ditambah kasus SMS yang mencatutu namanya yang beredar di tengah masyarakat yang mana isinya sangat mengejutkan, Muhammad Nazarudin sang Most Wanted Man mengancam akan membuka seluruh borok partai tempatnya bernaung selama ini termasuk akan menyeret nama-nama kawannya sesama kader partai berkuasa itu yang kini tidak sedikit duduk di pos-pos strategis pemerintahan, termasuk sang MENPPORA. Lalu, kasus terhangat kedua setelah kasus kemelut di tubuh partai penguasa itu adalah permasalahan PSSI yang tentunya sangat menghebohkan juga beberapa pekan terakhir. Setelah Sidang/kongres antara Komite Normalisasi dengan perwakilan insan sepak bola -yang sayangnya kebanyakan malah membuat kisruh Kongres (Kelompok 78)- berakhir Dead Lock, maka bayang-bayang sanksi dari FIFA pun seakan siap menerpa Indonesia. PSSI bunuh diri, demikian beberapa poster yang banyak dibentangkan para pengunjuk rasa yang peduli pada persepakbolaan Nasional. Berbagai upaya dilakukan pemerintah dan PSSI guna melobi FIFA agar tidak menjatuhkan sanksi bagi PSSI karena dampaknya sungguh akan sangat besar bagi para Insan Bola di negeri ini. Dan berdasarkan kabar terakhir yang dibawa oleh Agum Gumelar selaku ketua Komite Normalisasi yang terbang ke Swiss adalah FIFA tidak menjatuhkan sanksi pada PSSI dan otomatis selamatlah persepakbolaan Indonesia. Syukurlah, nampaknya FIFA tidak terlalu menganggap penting kasus kisruh sidang Komite Normalisasi dan kelompok 78 yang juga disaksikan utusan FIFA, karena kasus suap yang menimpa para petinggi FIFA sendiri yang dianggap lebih penting dan bahkan sangat penting.

Nah setelah me-refresh otak sejenak dengan kasus hangat dalam beberapa pekan tersebut, nampaknya kini kita harus kembali mengikuti kasus baru yang lebih seru karena sedikit banyak menyangkut martabat bangsa ini, terutama manusianya. Karena berita terbaru nan mengejutkan ini datang dari Negeri Jiran, Australia. Seperti yang diberitakan oleh beberapa media massa tanah air, Pemerintah Australia akhirnya mengambil sikap tegas terhadap Indonesia setelah memutuskan untuk menghentikan pengiriman sapi potong ke 11 Rumah Pemotongan Hewan di Indonesia. Menteri Pertanian Australia, Joe Ludwig, mengatakan bahwa keputusan itu diambil menyusul tayangan yang Jaringan Televisi ABC pada hari Senin malam (31/05/11) yang menampilkan video pemotongan sapi dengan cara tidak manusiawi di beberapa tempat pemotongan hewan di Indonesia. Dalam program acara yang berjudul “A Bloody Business” dengan durasi 45 Menit, Nampak bukti-bukti kuat bahwa tata cara penyembelihan sapi di tempat yang dimaksud telah melanggar tata cara internasional, diantaranya ketika sapi yang disembelih ternyata tidak langsung mati dan sempat menggelepar selama lebih dari 3 Menit, padahal standar internasional mengharuskan sapi yang disembelih harusnya telah mati dalam waktu 30 detik saja. Tayangan dari Kantor Berita ABC ini tentu saja memantik kemarahan Publik Australia dari berbagai kalangan semisal dari organisasi pecinta hewan serta para anggota Dewan/Parlemen setempat yang kemudian memerintahkan penghentian secara total ekspor sapi potong ke Indonesia. Padahal ekspor sapi potong Australia ke Indonesia tersebut bernilai 300 Juta Dollar Australia setiap tahunnya dengan jumlah ekspor sekitar 500.000 sapi potong yang dikirim ke sejumlah daerah di Indonesia. Dan padahal juga daging dari sapi potong asal Australia ini ternyata banyak diminati oleh konsumen di Indonesia karena dinilai lebih empuk dan enak jika dibuat bakso, demikian komentar salah satu konsumen Indonesia asal Jakarta yang berhasil diwawancarai oleh Jaringan Televisi ABC. Tempat pemotongan hewan yang muncul dalam tayangan itu sendiri menyebar diantaranya berada di Jakarta, Bandar Lampung, Medan, dan Binjai. Pemerintah Australia sendiri dikabarkan akan membentuk Tim Independen guna menyelidiki lebih lanjut proses pengiriman hewan potong ke Indonesia dan akan langsung di-Stop jika memang benar-benar terbukti melakukan pelanggaran seperti yang ditayangkan ABC, demikian pemaparan Joe Ludwig sang Menteri Pertanian Negeri Kangguru. Dikabarkan pula bahwa minggu lalu Asosiasi Industri Ternak Australia telah menghentikan pengiriman ke 3 rumah pemotongan hewan di Indonesia setelah melihat tayangan Jaringan Televisi ABC yang menampilkan gambar-gambar kekejaman terhadap sapi potong yang disembelih.***

Sebuah Ironi dan Peringatan

Sungguh berita dari Australia mengenai sapi potong tersebut sangat menyentak batin saya selaku warga Indonesia yang merupakan negeri pijakan mayoritas umat Muslim di kolong jagad ini. Betapa tidak, bukankah dalam Islam telah amat sangat jelas diajarkan bagaimana tata cara menyembelih hewan secara manusiawi dan beradab serta “Berstandar Langit” karena telah diajarkan secara langsung oleh Allah melalui Rasulnya yang mulia, Muhammad SAW. Standar Langit mengatur cara menyembelih hewan yang beradab. Secara sederhana penjelasannya adalah sebagai berikut; pisau yang akan digunakan tuk menyembelih hewan haruslah sangat tajam agar sang hewan langsung mati saat disembelih dan tidak sampai merasakan sakit karena mereka juga makhluk Allah yang juga memiliki hak yang harus diperhatikan dengan seksama diantaranya tidak menyakitinya selam masih bernafas dan saat akan meng-habis-kan nafasnya (akan disembelih); setelah itu hewan yang akan disembelih dibaringkan menghadap ke arah Kiblat dan dipegangi secara kuat oleh beberapa orang agar tidak meronta (catatan: harus diperhatikan juga adab saat menyembelih hewan agar diberi semacam hijab/penghalang agar hewan yang lainnya yang masih hidup atau juga yang belum disembelih tidak menyaksikan hewan yang sedang disembelih karena hal ini akan mengganggu “Psikologi” si hewan yang masih hidup tersebut); saat hendak menyembelih harus menyebut nama Allah (hal inilah yang termasuk dalam Standar Langit yang membedakannya dengan standar internasional bikinan manusia) sesuai FirmanNya :

Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)” [QS. Al Hajj (22) : 34]

Kemudian setelah disembelih, hewan tersebut juga masih harus diperlakukan se-beradab mungkin dengan cara membersihkan bekas darah di tempat penyembelihan, kemudian daging hewan diurus sedemikian rupa sebelum dilakukan proses selanjutnya entah itu dikemas, dibagikan pada yang berhak dll.

Sedemikian indah dan teraturnya Islam memperlakukan hewan baik selama masih hidup maupun setelah tak bernafas. Lantas menanggapi berita dari negeri Kangguru tersebut kita sebagai umat Islam patut tercengang dan berterima kasih secara tidak langsung karena Allah ternyata telah “meminjam “ Australia yang notabene negeri kaum non Muslim tuk “memperingatkan” kita bahwa negeri yang memiliki penduduk Muslim terbesar di jagad ini ternyata banyak Muslimnya yang hanya dalam bentuk dentitas saja alias KTP (Jika memang terbukti yang menyembelih hewan potong dalam tayangan Jaringan Televisi ABC adalah seorang Muslim). Kini dengan kasus tersebut kita sedang “dijewer” oleh Allah agar kita lebih giat lagi mengaji agama agar hal-hal dasar (Ushul) dalam agama ini sedikit banyak kita pahami, termasuk tata cara menyembelih dan memperlakukan hewan baik itu hewan potong, ternak maupun liar.

Terakhir, sebuah catatan menarik yang patut kita renungkan bersama dari pernyataan Australia mengenai masalah penyembelihan sapi oleh para penjagal hewan dari Indonesia yang katanya tidak manusiawi saat melakukan tugasnya adalah, lebih tidak manusiawi dan biadab mana dengan sikap pemerintah mereka saat mendukung perang di Timur Tengah seperti invasi terhadap Irak dan Afghanistan. Di sana bukan lagi hewan yang disembelih oleh serdadu-serdadu Barat pimpinan AS dan beranggotakan para kroni sejatinya seperti Inggris termasuk Australia, karena di Afghanistan dan Irak sana yang mereka sembelih adalah para warga sipil yang banyak berasal dari kalangan anak-anak dan wanita. Jika demikian faktanya, mana suara para pegiat HAM Barat, Anggota Parlemen negeri barat dan para aktivis mereka. Wallahu A’lam

Note:

*** Kompas, Rabu (01 Juni 2011)

Diseduh Oleh : Musyaf  Senyapena

Diseduh Di       : Senyapandaan