Masih Perlukah Sekolah?

Masih Perlukah Sekolah?

Bulan Juli telah tiba. Bulan yang banyak disebut sebagai bulan-nya anak sekolah ini sungguh sangat unik sekali. Pasalnya di bulan inilah para siswa dan calon siswa di seluruh republik ini akan bersiap-siap memasuki tahun ajaran baru. Bukan hanya para anak didik yang merasakan dag-dig khas bulan Juli ini, namun juga para orang tua mereka. Bahkan para wali murid inilah yang sebenarnya paling sibuk menyambut bulan “sakral” dalam almanak pendidikan nasional. Karena mereka harus telah mempersiapkan dana ekstra guna membayar ini-itu dalam tahun ajaran baru ini. Sebenarnya perjuangan mendapatkan sekolah favorit dalam tahun ajaran baru ini telah dimulai pada 2 bulan sebelumnya yaitu pada Mei hingga Juni dimana pada bulan itu para siswa menghadapi ujian akhir Negara maupun ujian akhir sekolah. Nah, dari fenomena unik tahunan ini nampaknya banyak hal penting yang dapat dikaji demi kemajuan pendidikan itu sendiri. Pasalnya sudah menjadi rahasia umum bahwasannya penyelenggaraan pendidikan di Negara ini masih jauh dari kata ideal. Banyak kasus yang membuktikannya. Salah satunya kasus contek massal yang ramai diberitakan media yang terjadi di SDN Gadel, Surabaya, dimana seorang siswa yang karena tingkat kepandaiannya di atas rata-rata kawan sekelasnya harus menjalankan titah sang guru yang menyuruhnya agar “membantu” kawan-kawannya dalam UNAS SD supaya semuanya dapat lulus. Alif, demikian sapaan akrab siswa ini akhirnya wadul kepada ibunya yang kemudian melaporkannya pada Dinas Pendidikan setempat. Dan akhir dari kasus itu adalah Alif dan ibunya, Bu Siami, harus rela angkat kaki dari rumahnya karena warga kampungnya ngamuk-ngamuk dan belum siap dengan hal yang bernama KEJUJURAN, sebuah nama sederhana yang anehnya sangat sulit ditegakkan di negeri ini.

Sebenarnya jika dirunut ke belakang, akar masalah dari semua itu adalah ketakutan para wali murid jikalau anak-anaknya tidak lulus dalam UNAS karena jika itu terjadi maka seolah-olah telah kiamatlah nasib anak-anak mereka. Nah, dari sinilah para guru juga merasa terbebani dan dituntut agar semua anak didiknya dapat lulus 100 persen. Sehingga apapun cara akan ditempuh guna meraihnya meski harus menggadaikan KEJUJURAN sekalipun. Maka pantas saja jika banyak kalangan yang menggugat penyelenggaraan UNAS ini karena dinilai hanya sebagai perusak system pendidikan di negeri ini. Karena faktanya banyak anak negeri yang tingkat intelegensianya bagus bahkan sering mewakili sekolahnya dalam ajang lomba dan tak jarang pula para siswa tersebut telah mendapat jaminan penuh beasiswa di perguruan tinggi bergengsi baik dalam negeri maupun manca, namun karena satu batu sandungan akhirnya memupuskan semua itu. Dan batu sandungan itu bernama UNAS yang menjadi syarat kelulusan. Belajar selama beberapa tahun di bangku sekolah namun hasilnya hanya ditentukan oleh beberapa jam saja dalam sehari saat UNAS, ibarat pepatah panas setahun dihapus hujan sehari. Belum lagi masalah sekolah-sekolah RSBI maupun SBI yang nampaknya masih sulit diakses oleh kalangan bawah.

Saat ini UNAS memang -konon- telah direformasi Pemerintah melalui KEMENDIKNAS. Reformasi itu kini menjadikan UNAS bukan lagi faktor satu-satunya yang menjadi syarat mutlak kelulusan karena hasil ujian sekolah kini juga menjadi bahan pertimbangan. Namun toh tetap saja di lapangan masih saja kita dapati bahwasannya UNAS masih menjadi momok menakutkan bagi siswa juga wali murid.

          Sekolah Yang Membodohkan

Acep Iwan Saidi, Dosen Pascasarjana Institut Teknologi Bandung (ITB), dalam tulisannya (“Sekolah Tanpa Ruang Belajar”) pada sebuah Harian Nasional (Kompas, 24/06/11) menuliskan bahwa kasus contek massal, perkelahian pelajar SMP-SMA hingga tawuran para mahasiswa adalah potret muram sekolah di negeri ini yang menurutnya diakibatkan oleh kegagapan menyikapi dan melaksanakan system pendidikan modern yang diadopsi dari Barat. Dahulu kala ketika system pendidikan modern ala Barat pertama kali dipakai maka sejarah mencatatnya sebagai titik awal pencerahan, namun kini kita agaknya harus meninjau ulang hal tersebut karena ke-modern-an itu sendiri kini patut dipertanyakan hakikatnya manfaatnya.
Acep Iwan Saidi yang juga Ketua Forum Studi Kebudayaan Seni Rupa ITB ini membongkar perlahan-lahan akar kemuraman pendidikan di negeri ini mulai dari yang terkecil, yaitu desain kelas dalam sekolah modern saat ini. Tata kelas sekolah modern kini tentu saja berbeda dengan cara belajar tradisional seperti yang umum dilakukan Pesantren-pesantren di desa-desa. Karena desain kelas pada sekolah modern ditata khusus; siswa duduk rapi di atas bangku yang berjejer menghadap guru di depan ruang yang mana dianggap sebagai metafora modernisme yang mengusung semangat progressif menatap ke masa depan. Acep mengutip Adolf Loos dalam bukunya, Ornament and Crime, yang mengatakan bahwa ornament sebagai ciri tradisi pada arsitektur adalah criminal, karena siswa dipatok meraih kebaruan dari masa depan. Tatanan kelas sekolah modern ini juga menciptakan pasangan berlawanan , sebuah oposisi biner. Dimana guru menjadi ordinat (sumbu utama) dan menempatkan siswa hanya sebagai sub ordinat. Dengan demikian guru diposisikan sebagai pusat kuasa yang memiliki kebenaran mutlak di dalam kelas. Kemudian penataan bangku yang awalnya satu bangku diperuntukkan bagi 3 siswa kini di re-desain menjadi 2 siswa dan bahkan 1 siswa saja seperti di sekolah-sekolah internasional di negeri ini seperti juga di kampus-kampus. Hal ini -menurut Dosen Pascasarjana tersebut- dapat mengikis komunikasi verbal dari para penghuni kelas dan akan makin membiakkan sikap individualistis pada diri peserta didik.
Kemudian ada lagi tata kelas yang disoroti akademisi ITB tersebut, yaitu ketika suasana belajar yang harus dibuat setenang mungkin tanpa ada keriuhan dari para siswa. Selain suara guru maka tiada yang boleh bersuara sebelum diberi izin. Bahkan membaca pun harus di dalam hati. Tatanan kelas seperti inilah yang membuat hubungan antara guru-murid mekanis karena guru-murid berada dalam mesin struktur. Dan dalam system seperti ini hanya mereka yang memgikuti permainan saja yang akan berhasil. Bukti konkretnya adalah siswa yang mampu menyerap pelajaran adalah siswa yang taat pada guru dan peraturan. Sisi positif dari system ini memang ada, yaitu diantaranya banyak dilahirkannya siswa yang cerdas secara IQ yang mana kini Indonesia menjadi salah satu produsen siswa peraih emas olimpiade SAINS Fisika dan Matematika tingkat dunia. Namun sisi minus dari system pendidikan semacam ini yaitu kian terlupakannya nilai-nilai kolektifitas yang merupakan ruh yang menciptakan dan menggerakkan prilaku masyarakat. Karena karakter kita tidak berpijak pada kemajuan rasio semata namun lebih pada kecerdasan emosi. Hal inilah yang kini sedang ramai dibicarakan para petinggi di negeri ini. Mereka (para petinggi negeri) mulai risau karena bangsa ini kian kehilangan karakternya sebagai bangsa besar yang majemuk nan dinamis. Oleh sebab itu mereka mendesak pemerintah agar sesegera mungkin me-reformasi system pendidikan nasional agar lebih member porsi lebih pada pembelajaran yang mengarahkan pada peningkatan kecerdasan emosi dan spiritual (ESQ) yang diharapkan akan mampu membentuk karakter bangsa ini agar lebih dinamis, tidak stagnan dan mengarah ke arah kemunduran seperti sekarang.
Saatnyalah menyusun kurikulum sekolah yang lebih dapat memposisikan anak didik sebagai manusia apa adanya dan bukan sekedar bagian dari mesin indoktrinasi rumus-rumus rasionalitas semata dan kering moralitas. Karena tanpa moralitas, maka sekolah hanya akan menjadi Pabrik penghasil manusia-manusia pandai tanpa karakter yang hanya akan menilai segala sesuatu secara matematis dan berkutat pada angka semata tanpa menghadirkan ke- adab-an dalam hidup ditengah-tengah masyarakat. Karena hal ini sangat membahayakan kelangsungan hidup bangsa ini pada akhirnya. Contoh kongkret dari hal ini adalah banyaknya produk sekolah kita yang otaknya mahacanggih yang saat jadi wakil rakyat hanya bisa memperjuangkan aspirasi konstituennya jika secara matematis hal itu dianggap menguntungkan dan menghasilkan rupiah. Jika menjadi pengusaha maka lulusannya akan berada di garda depan dalam proyek-proyek tender besar, pembukaan tambang, perambahan hutan, pengerukan bumi, pengeboran lepas pantai dan berbagai lahan bisnis “basah” lainnya tanpa peduli kerusakan lingkungan dan kehidupan social manusia di sekitarnya. Ah ngeri sekali bukan.
Dan sebagai penutup tulisan ini, jika setelah anda membaca tulisan ini lantas timbul di benak anda sebuah Tanya besar, “Apakah manfaat kita sekolah saat ini jika demikian adanya?”. Jawabannya bersekolah tetap membuat kita berpeluang menjadi orang yang lebih baik namun dengan syarat sekolah tersebut memiliki kurikulum yang baik pula. Karena sekolah- menurut Shiv Khera, seorang penulis terkenal Asia yang concern pada bidang pengembangan diri dan bisnis, hanyalah ibarat sebuah sumur. Terserah anda apakah ingin menimba air darinya, sekedar meminum sedikit airnya atau bahkan hanya anda lewati tanpa hirau sumber air tersebut, semua itu terserah anda karena kemanfaatannya tergantung pada perlakukan anda padanya. Namun yang jelas jika Pemerintah dari dahulu selalu mengkampanyekan jargon Wajib Belajar (WAJAR) 9 Tahun bagi seluruh anak Indonesia, maka jangan hiraukan kampanye itu karena merupakan ajakan sesat. Karena Tuhan saja yang menguasai alam ini mewajibkan seluruh manusia agar belajar mulai dari buaian hingga liang lahat alias seumur hidup, kok kini berani-beraninya pemerintah melangkahi mandat Tuhan dengan kampanye sesatnya tersebut. Ingat, sekolah boleh saja hanya wajib 9 tahun namun belajar adalah kewajiban seumur hidup. Karena tanpa berada di bangunan sakral yang bernama sekolah pun kita masih dapat belajar di ruang kelas yang lebih besar yang disediakan oleh Tuhan bagi semua anak manusia dari semua kalangan tanpa pandang status kaya-miskin. Ruang kelas besar tersebut bernama alam. Alam Terkembang Jadi Guru, demikian adagium purba dari tanah Minangkabau berbunyi. Bagi yang putus maupun diputus oleh kondisi hidup dan tak mampu melanjutkan sekolah, maka tetap belajarlah di sekolah yang disediakan Tuhan tersebut. Tak usah ragu, karena modal utamanya bukan rupiah semata namun kemauan. Akhirnya selamat belajar buat semua anak Indonesia.

Diseduh Oleh : Musyaf  Senyapena (senyapena@gmail.com)

Diseduh Oleh  : Senyapandaan