Awas Kebangkrutan Massal

Awas Kebangkrutan Massal

 Indonesia Negara Gagal. Mendengar pernyataan tersebut sungguh saya sebagai salah satu anak bangsa sangat kaget bukan kepalang. Namun apa boleh buat, negara ini konon memang sedang menuju ke arah itu. Tema ini sedemikian gencarnya dibahas secara mendalam oleh para pengamat dan juga para tokoh bangsa akhir-akhir ini. Bahkan tak tanggung-tanggung, beberapa waktu lalu di kantor pengurus pusat Muhammadiyah, Jakarta, diadakan silaturahim para tokoh bangsa yang mana pertemuan tersebut diselenggarakan guna membahas tema besar yang bertajuk “Mencegah Kebangkrutan Negara”. Beberapa tokoh yang hadir diantaranya adalah Romo Benny, Azyumardi Azra, Andreas Yewangoe, Sofyan Effendi, Surya Paloh, M. Jusuf Kalla, Taufik Kiemas, Din Syamsuddin, Wiranto, Aisyah Amini, Rizal Ramli, Marwah Daud, Taufiq Ismail, Adhie Massardi, Kwik Kian Gie, Bambang Sudibyo, Martinus D. Situmorang, dan Geovani. Pertemuan yang di- tuan rumah-i oleh Din Syamsudin selaku Pimpinan pengurus Pusat Muhammadiyah, ini memang bukan tanpa sebab, karena melihat perkembangan Indonesia saat ini yang sungguh memprihatinkan, dimana kebobrokan moral, Korupsi, buronan korupsi yang kabur ke luar negeri,kemiskinan, nasib para TKI dll yang tak kunjung usai sehingga menimbulkan keresahan yang mendalam terutama bagi para tokoh bangsa dan anak bangsa yang mengaku masih peduli kepada negerinya. Memang bukanlah sebuah kemustahilan jika semua kebobrokan tersebut terus dibiarkan dan tak kunjung disembuhkan maka tak ayal negeri ini benar-benar akan menjadi Negara gagal ke depannya. Inilah yang oleh para tokoh bangsa tersebut diistilahkan sebagai kebangkrutan nasional. Jika sebuah Negara telah dilanda kebangkrutan baik dalam bidang ekonomi (ingat hutang republik ini juga masih menumpuk) maupun kebangkrutan sosial-moral, maka apalagi yang tersisa darinya selain sejarahnya saja. Sejarah bahwa pernah ada sebuah bangsa besar yang bernama Indonesia yang tanahnya adalah tanah surgawi namun sayangnya Negeri itu akhirnya lenyap dari peta dunia karena telah pailit aliat bangkrut. Uh, membayangkannya saja sangat ngeri. Tanah tumpah darah tempat keluarga kita beranak pinak dan mencari penghidupan secara turun temurun ternyata tak bertahan lama dalam ke-eksis-annya di muka bumi ini. Saya dan tentu saja kita semua pasti tak pernah berharap hal tersebut terjadi pada negeri tercinta ini.

Nah dari pembahasan ini sebenarnya kita dapat menarik sebuah pelajaran penting tentang betapa menakutkan dan merugikannya sebuah KEBANGKRUTAN itu. Karena sesuatu yang telah dikumpulkan dan dipertahankan sekian lama pada akhirnya tak ada yang tersisa setelah kita mengalami kebangkrutan, yang tersisa hanyalah sebuah sesal besar. Dari sini sebenarnya kita juga dapat membagi kebangkrutan itu ke dalam 2 bagian, yang pertama yaitu kebangkrutan bersama (contoh : kebangkrutan yang dialami oleh suatu bangsa maka yang merasakannya adalah bukan hanya per orangan saja namun seluruh rakyat yang bernaung dalam bangsa itu) dan yang kedua adalah kebangkrutan pribadi yang mana kebangkrutan jenis ini konsekuensinya ditanggung sendiri oleh si bangkrut tadi.

Dari 2 jenis Kebangkrutan tersebut ternyata yang memiliki dimensi waktu dan beban derita yang lebih besar adalah kebangkrutan pribadi karena dimensi waktunya ada 2 yaitu selain bisa bangkrut di dunia juga berpeluang bangkrut di akhirat kelak. Analisa saya ini bukan mengada-ada karena hal ini pernah diterangkan oleh Guru Besar Umat Manusia yaitu Muhammad SAW. Dikisahkan “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya : “Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut ( pailit ) itu ? Maka mereka ( para sahabat ) menjawab : orang yang pailit di antara kita adalah orang yang tidak mempunyai uang dan harta. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan : “orang yang pailit dari ummatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakatnya, namun dia datang dan (dahulu di dunianya) dia telah mencela si ini, menuduh (berzina) si itu, memakan harta si ini, menumpahkan darah si itu dan telah memukul orang lain ( dengan tidak hak ), maka si ini diberikan kepadanya kebaikan orang yang membawa banyak pahala ini, dan si itu diberikan sedemikian juga, maka apabila kebaikannya sudah habis sebelum dia melunasi segala dosanya ( kepada orang lain ), maka kesalahan orang yang didzalimi di dunia itu dibebankan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke api neraka”. (HR. Muslim.)

Wuih sungguh mengerikan bukan, bayangkan jika amal kebaikan dan pahala yang kita kumpulkan dengan susah payah selama ini (di tengah rimba dosa global saat ini) harus terhapus dan malahan selain amal kita minus, kita juga masih harus menanggung dosa dari kesalahan yang diperbuat oleh orang-orang yang telah kita zalimi semasa di dunia, uh ngeri sekali, na’udzubillahi min dzalik. Maka saya sebagai rakyat kecil hanya mengajak kepada kawan-kawan yang kebetulan membaca artikel ini guna memikirkan kebangkrutan ini.. Sebagai rakyat kecil, sebelum memikirkan kebangkrutan negara maka selayaknya kita makin mematangkan usaha guna mencegah kebangkrutan pribadi masing-masing karena deritanya bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat, plus juga ditanggung sendiri tidak ditanggung negara ataupun ditebus oleh manusia lain (ingat tidak ada di dunia ini dalam kamus manusia yang otaknya masih berpikir logis bahwa ada sebuah “Laku” penebusan dosa karena apalah gunanya manusia diciptakan Tuhan di bumi jika tak mampu menanggung jawabkan segala perbuatannya sendiri jika memang ada penebusan dosa). Karena jika masing-masing pribadi manusia di negeri ini sadar dan makin mematangkan usahanya agar tidak berbuat sesuatu yang dilarang oleh Tuhan guna mencegah kebangkrutan pribadi, maka lingkungan sekitarnya akan terimbas positif, dan dalam wilayah yang lebih luas adalah negara ini juga akan bisa sembuh dari kebangkrutan-kebangkrutan yang kian me-nyata saja. Wallahu A’lam

Diseduh Oleh : Musyaf  Senyapena (senyapena@gmail.com)

Diseduh Di      : Senyapandaan