I Choose To Silent

I Choose To Silent

Pernahkah anda merasa penat atau sangat suntuk hidup di negeri ini? Jawaban anda pasti sangat beragam, semua memang tergantung mood anda masing-masing. Namun yang jelas jika pertanyaan seperti itu disuguhkan pada saya, maka saya akan menjawabnya dengan mantap, “Pernah.” Ya, saya pernah mengalaminya. Karena bagi saya sangat banyak alasan yang dapat membuat saya terkadang merasa boring hidup di negara yang sebenarnya sangat saya cintai ini. Jika ada yang menanyakan apa saja alasan yang saya maksud tersebut. Jujur saya juga agak bingung menjawabnya, karena saya ragu darimana dulu saya mulai menceritakannya pada si pena-nya tersebut. Pasalnya daftar alasan yang saya punyai tentang hal yang dapat membuat suntuk di negeri ini sangat panjang dan rinci mulai dari yang ter-sepele hingga yang ter-gede. Baiklah, karena tidak mungkin menyajikannya satu persatu karena keterbatasan media, maka akan saya paparkan salah satu alasan ter-sepele kesuntukan saya tentang negeri ini. Alasan ter-sepele itu adalah acara televisi di negeri ini. Anda tentu tahu bahwa setiap pagi selalu saja acara yang mendominasi layar kaca di negeri ini adalah acara musik yang juga sesekali diselingi berita gosip artis, bukan. Acara tersebut memang sangat diminati para remaja di tanah air kita. Terbukti dengan ratingnya yang selalu bagus dan berada di posisi atas. Lantas jika demikian apakah ada yang salah dengan acara nyanyi-nyanyi dan jogged-joged itu. Untuk mengatakan salah saya tidak berhak dan tak berwenang. Namun untuk menyatakan bahwa acara-acara itu –disamping manfaatnya guna menghibur masyarakat dan ajang pengekspresian para kaum muda Indonesia lewa dunia musik- sebenarnya banyak negatifnya juga. Saya berhak mengatakan demikian karena sebagai anak Indonesia sejati saya dituntut konsisten dalam menghormati pilar-pilar Republik ini yang salah satunya adalah UUD 45. Dan bentuk penghormatan itu adalah dengan sebisanya saya mengamalkan nilai-nilai UUD 45 tersebut. Lantas apa hubungannya antara acara nyanyi-nyanyi itu dengan UUD 45? Hubungannya adalah bahwasanya acara itu jika diamati dengan seksama ternyata bukan tak mungkin telah, sedang, dan akan terus mencederai cita-cita awal didirikannya republik ini yang tercantum dalam preambule (pembukaan) UUD 45 yang ada pada alinea ke 4 yang tertulis,”…turut serta mencerdaskan kehidupan anak bangsa…”. Nah amanah awal pembentukan negara ini agar turut serta mencerdaskan anak bangsa inilah yang sering dikhianati oleh beberepa “oknum” manusia di negeri ini. Yang salah satunya dilakukan melalui acara-acara musik tiap pagi di televisi kita itu.

Saya dapat mengatakan demikian (tanpa mengenyampingkan manfaat acara-acara musik tersebut) karena saya sering “merekam” sisi lain dari acara-acara semacam ini. Jika kita jeli, maka kita akan berfikir kritis bahwa dengan semakin eksisnya acara-acara musik tiap pagi itu, maka akan semakin memacu lahirnya penyanyi dan band-band pendatang baru karena kini tuk menjadi kaya dan terkenal maka tidak usah susah payah. Cukup dengan bisa menyanyi dan tampil di acara-acara musik tersebut maka dijamin segala gemerlapnya dunia akan mudah terwujud. Dan dengan semakin maraknya para pendatang baru dalam blantika musik tanah air inilah yang pada akhirnya menciptakan sebuah persaingan yang ketat. Dan salah satu siasat agar dapat tetap eksis dan laris maka mereka harus dapat menciptakan lagu-lagu yang easy listening. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa saat ini sedang booming lagu yang berlirik sederhana namun jika aransemen musiknya oke dan easy listening (unik, lucu dll) maka dapat dipastikan akan cepat menjadi hits, tak peduli bermanfaat atau tidak isi lirik lagunya. Banyak contoh kasus dalam hal ini, seperti kisah Briptu Norman yang meskipun tidak menyanyikan lagu milik sendiri namun karena sangat unik dan easy listening maka laris di pasaran termasuk laris dalam undangan acara-acara musik tersebut.
Setelah mengamati fakta ini, kini yang terpenting adalah kita harus mewaspadai nilai minus di balik makin maraknya acara musik sekaligus makin ramainya bermunculan bintang-bintang idola baru tersebut. Hal-hal negatif yang saya maksud diantaranya adalah; acara-acara musik itu secara tidak langsung telah mengkampanyekan budaya Pop Metropolis yang berciri khas bebas ala anak muda, permisivisme (hura-hura), dan hedonisme yang sebenarnya kurang cocok dengan adat bangsa ini yang guyub, santun, tahu tata karma, dan terikat pada norma (termasuk norma pergaulan) khas bangsa timur. Sedangkan dalam acara-acara musik itu kita dapati para penonton yang ada di studio selalu disetting agar selalu having fun , hura-hura, jingkrak-jingkrak dan berteriak histeris jika ada penyanyi/band idola mereka tampil. Lantas dimana ciri khas masyarakat Indonesia asli sepeti yang saya sebutkan di atas. Inilah salah satu kampanye negative yang bahkan jauh-jauh hari telah ditentang oleh Bung Karno (Presiden pertama RI).
Dan “kebencian” Bung Karno terhadap budaya negative di balik music ngak-ngik-ngok (istilah Bung Karno tuk menyebut lagu-lagu cengeng nan picisan) inilah yang membuat beliau pernah memenjarakan Koes Plus dan (Alm.) Elia Kadam karena dianggap sebagai ikon pengusung musik ngak-ngik-ngok pada zaman itu (sekira tahun 60 an). Bung Karno juga pernah melarang peredaran kaset-kaset The Beatles yang merupakan ikon musik pop kala itu. Beliau melakukannya bukan tanpa sebab. Karena menurut hemat beliau, musik-musik cengeng dengan lagu-lagu cinta yang menghanyutkan plus jingkrak-jingkrak dan dansa-dansi (musik ngak ngik ngok) ini dapat merusak mental para pemuda. Menurut Sang Proklamator yang berfikiran visioner tersebut, musik yang notabene produk Imperialis/Kapitalis Barat itu akan melemahkan semangat juang para pemuda dan akan merobohkan nilai kepribadian bangsa. Beliau berpendapat seyakin itu karena memang beliau seperti yang kita mafhumi bersama telah menjadi pejuang bangsa semenjak muda. Jadi beliau telah banyak mengetahui “ramuan” apa saja yang dapat menguatkan dan juga yang dapat menghancurkan bangsa ini. Dan uniknya lagi, tindakan yang mungkin saat ini dapat dianggap sebagai pemasungan kreativitas dan kebebasan berekspresi ini, kala itu juga banyak diterapkan oleh beberapa negara tetangga. Misal di Cina, Jepang, dan Korea yang saat itu para kaum mudanya juga sebisa mungkin menahan diri untuk tak hidup berhura-hura ria karena mereka sadar mesti berjuang dan bekerja keras untuk kemajuan bangsa dan masyarakatnya. Maka daripada itulah Bung Karno melarang musik Ngak Ngik Ngok dan menitahkan agar para kaum muda lebih giat bekerja.

Nah, jika musisi sekelas The Beatles yang telah mendunia dan Koes Ploes serta Elya Khadam yang kala itu jadi idola para remaja saja dicekal oleh pemerintahan Soekarno, bagaimana dengan musik saat ini? jika saja beliau masih hidup, entah apa yang akan beliau lakukan. Bukan maksud mengatakan semua musik anak negeri masa kini jelek, mengajarkan moral buruk dan menihilkan semangat berjuang membela bangsa dll- karena kita semua yakin masih ada “Sedikit” banyak musisi negeri yang mempunyai Idealisme dalam karyanya seperti Kang Iwan Fals dengan kritik sosialnya yang khas dll – namun jujur kita harus mengakui bahwa tidak sedikit pula pemusik yang banyak mengkampanyekan pesan-pesan yang kurang bermanfaat (bahkan menyesatkan) dalam lirik-lirik mereka plus irama musik yang banyak menyihir para pendengarnya menjadi lupa daratan dan sekelilingnya. Karena secara jujur jika kita lebih kritis lagi, maka pasti kita akan makin geleng-geleng kepala (jika kita masih mengaku sebagai orang beriman) dengan kebanyakan isi dan pesan dari lirk-lirik lagu saat ini. Karena banyak hal “binal, nakal, ganjen , jorok, dan sangat negative” yang kini sedang gencar dikampanyekan melalui lirik-lirik lagu tersebut. Ada yang menceritakan tentang perselingkuhan, percintaan cengeng picisan, kemesuman, rasa cinta kepada kekasih yang terlalu berlebihan hingga menduduki posisi Tuhan (misal lirik yang berbunyi, “Kau darahku, nyawaku, tak bisa hidup tanpamu dll”), ada pula lirik lagu yang mengkampanyekan seks bebas, cinta sesama jenis, cinta yang dilarang, lagu yang erotis dan memancing syahwat dll. Nah, jika demikian apakah kontribusi mereka bagi program mencerdaskan anak bangsa yang telah diamanahkan UUD Negara ini sejak kali pertama berdiri. Dan apa pula kira-kira reaksi para Founding Father bangsa ini jika mereka masih hidup saat ini. Dengan demikian bukankah dapat ditarik sebuah kesimpulan “pahit” bahwasannya tidak sedikit para penyanyi kita saat ini yang bukannya mencerdaskan bangsa namun malah membodohkan dan menyesatkan pikiran-pikiran generasi muda bangsa ini. Dan yang lebih parah lagi kita ternyata sering tidak menyadari “Program Hitam” pencucian otak yang dilakukan oleh “mereka” ini karena lirik-lirik lagu tersebut (serusak apapun) menjadi tetap indah karena dibungkus alunan musik yang enak di dengar. Dan kampanye hitam ini secara massive telah ditanamkan ke dalam otak yang bukan hanya milik kaum muda Indonesia saja namun juga hingga ke otak anak kecilnya yang ironisnya kini banyak dari mereka yang telah hafal lirik-lirik “Tak Mendidik” tersebut. Dan satu lagi, ternyata jam tayang acara dan kekurang pedulian orang tua juga turut andil besar dalam makin suksesnya kampanye pengrusakan otak generasi muda Indonesia (termasuk anak-anak kecilnya) ini. Akankah kelak generasi muda negeri ini akan berhasil dijadikan generasi MADESU melalui proyek-proyek Cuci Otak terbesar dalam sejarah Indonesia ini. Entahlah, Wallahu A’lam.

Saatnya Mencari Solusi

Sekarang yang menjadi pertanyaan terbesar kita adalah apakah tidak ada alternative program lain yang dapat disuguhkan kepada para penonton TV di Indonesia ini. Program TV yang mendidik dan memberi tuntunan karena sudah terlalu bejibun program TV yang hanya sekedar menjadi tontonan bagus namun tidak bisa dijadikan tuntunan. Saya dengan (tulisan) ini bukan berarti membenci acara-acara musik tersebut karena toh rakyat negeri ini juga berhak mendapat hiburan yang bisa membuat mereka sejenak melupakan kesumpekan hidupnya yang diakibatkan makin runyamnya kondisi negaranya. Namun toh hiburan musik itu juga seyogyanya memikirkan pula dampak dari suguhan mereka terhadap para penontonnya jika tidak dikemas secara bijaksana. Dan satu lagi hal yang patut saya ungkapkan di sini ialah bahwa pernah suatu kali saya protes kepada saudara perempuan saya yang sangat menyukai acara nyanyi-nyanyi dan hura-hura tersebut, protes saya tak lain adalah agar sesekali jangan melihat acara-acara semacam itu saja dan mencari acara yang lebih mendidik, namun dia malah bilang,”…Kalau tidak suka ya gak usah ikut lihat …” dan setelah saya jelaskan mengenai hal-hal “hitam” di balik nyanyi-nyanyi itu, dia malah bilang lagi,”…kalau tidak bisa menyanyi tidak usah banyak komentar…”. Ah setelah mendengar jawaban ketus macam itu dari saudara sendiri pula, saya hanya dapat bergumam dalam hati “Lebih baik saya tidak jadi penyanyi jika saya tidak bisa menciptakan lirik-lirik lagu yang beradab, mendidik, mengandung pesan kebaikan dan hal positif lainnya”, karena saya teringat bahwa Abu Hurairoh rodhiallohu ‘anhu pernah berkata bahwa Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhori dan Muslim). Nah karena saya yang dhoif ini selalu mencoba menjadi orang beriman maka saya memilih diam dan tidak menjadi penyanyi karena menjadi penyanyi ternyata resikonya besar, karena Tuhan telah mewanti-wanti kita dengan kalimat sakralNya
“ Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.”(QS. Luqman [31]: 6) ih ngeri sekali, bukan?

Diseduh Oleh : Musyaf  Senyapena (senyapena@gmail.com)

Diseduh Di      : Senyapandaan