Stay Alert With TV In Ramadhan

Stay Alert With TV In Ramadhan

Ramadhan telah menghampiri kita, Alhamdulillah ucap syukur kepada sang Khalik atas nikmat umur yang masih dipercayakan kepada saya, dan juga anda tentunya, hingga kita masih dapat menjumpai hari yang mulia ini. Ramadhan sungguh banyak sisi unik yang mengelilinginya, baik itu dari segi Ukhrawi maupun duniawi. Nah, yang ingin saya curhatkan kali ini bukanlah sisi Ukhrawinya dulu namun lebih pada segi duniawinya yang ternyata saat ini nampaknya lebih disemarakkan oleh media agar umat Islam berbondong-bondong “mengaji” pada acara-acara mereka. Yang saya maksud di sini adalah tentang tayangan-tayangan Ramadhan yang setiap bulan puasa selalu saja sama, monoton, dan terkadang mempunyai nilai yang melenceng jauh dari tujuan Ramadhan itu sendiri. Bagaimana tidak, mulai dari saat kita sahur hingga tengah malam, acara- acara televisi nampaknya hanya labelnya saja yang Ramadhan namun kosong isi. Saya tidak mengatakan bahwa semua acara TV kita seperti itu, namun jika boleh jujur bukankah memang hampir sebagian besar memang seperti yang saya sebutkan tadi. Ramadhan hanya diisi acara dagelan canda-banyolan-tawa, bagi-bagi duit lewat kuis, wisata kuliner buat menu berbuka (yang menandakan bahwa ternyata sebagian besar kita menganggap bahwa puasa hanya soal urusan perut saja/ puasanya orang awam) , berita artis yang lagi persiapan puasa, sinetron yang dilabeli religi padahal ceritanya ya cuma itu-itu saja (perebutan kekasih, warisan, anak yang tertukar dll) dan uniknya adalah sinetron yang jauh-jauh hari telah ada sebelum Ramadhan (sinetron Stripping) juga “dipaksakan” jadi sinetron Religi dimana dalam skenarionya ditambahkan suasana puasa, ah sungguh lucu, bukan. Apakah ini sebuah Program Komersialisasi Agama yang dilakukan oleh “Oknum” tertentu. Entahlah, namun yang jelas mengenai Program Komersialisasi agama melalui acara-acara TV tersebut, terutama lewat sinetron berlabel “Religius”, ada pendapat menarik dari seorang Antropolog Islam, yaitu Dr. Arif Zamhari. Beliau mengatakan bahwa Fenomena komersialisasi agama tercermin pada tayangan-tayangan televisi seperti sinetron religius, demikian seperti yang dikutip Hidayatullah.com, Senin (1/8).

Dr. Arif yang juga menjabat sebagai Direktur Pesantren Al-Hikam Depok mengatakan, komersialisasi agama melebur menjadi komodifikasi agama yang tidak dapat dibenarkan dan harus dihentikan, karena hanya memanfaatkan agama secara bisnis semata. Aktivis Nahdlatul Ulama (NU) tersebut memang mengakui bahwa dampak secara langsung yang bisa dirasakan masyarakat secara luas memang masih kecil, namun hal tersebut jangan dibiarkan begitu saja. Komodifikasi agama Islam adalah komersialisasi Islam atau mengubah keimanan dan simbol-simbolnya menjadi komoditas yang dapat diperjualbelikan untuk mendapat keuntungan. “Tayangan sinetron religi itu tidak memberikan dampak yang berarti bagi masyarakat karena tidak semuanya bisa dikatakan religius,” ujar lulusan The Australian National University (ANU) ini. Beliau juga mengatakan bahwa dalam sinetron-sinetron “Religi” tersebut nilai keberagamaannya kurang begitu mendalam. Karena dalam konsep pendidikan Islam seorang pengajar juga harus menjadi suri teladan yang baik. Padahal masyarakat luas mengetahui bagaimana kehidupan seorang artis (pemeran dalam sinetron-sinetron tersebut) dalam kesehariannya, melalui berita-berita Gosip dan infotainment.

“Para pemain sinetron tersebut sebaiknya menjadi suri tauladan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Dr. Arif Zamhari yang memperoleh penghargaan sebagai tokoh dunia dari Yale University Amerika Serikat tersebut. Dan lebih lanjut beliau juga menyoroti tayangan acara di TV menjelang buka puasa atau sahur, yang hanya bersifat hura-hura yang jika hal tersebut dibiarkan maka akan menyebabkan degradasi keluhuran nilai-nilai agama. Beliau juga menambahkan bahwa dalam materi penyampaian nilai-nilai agama seperti ceramah agama perlu ada kualifikasi lembaga khusus da’i, karena beberapa orang yang kurang paham agama Islam sudah memberikan materi di hadapan publik (lewat sinetron-sinetron “Religi” tersebut) dan ini seharusnya tidak terjadi. Karena menurut beliau, mereka itu kurang kredibel dan harus ada proses kualifikasi dari lembaga khusus yang menanganinya. Hal ini sangat penting sebab mereka (para pemain sinetron tersebut) secara tidak langsung tentunya telah dijadikan sebagai panutan umat, maka mereka harus benar-benar memahami agama.

****

Sebenarnya tidak semua acara TV kita mengandung nilai-nilai komersialisasi agama, karena tidak dapat dipungkiri bahwa masih ada juga acara-acara tersebut yang benar-benar bernafaskan Ramadhan, namun harus diakui bahwa skala perbandingannya sangat kecil jika dibandingkan dengan acara-acara TV seperti yang telah dibahas di atas. Namun terlepas dari semua itu, nampaknya yang harus menjadi pertanyaan besar kita saat ini adalah seberapa berhasilkah “Universitas” Ramadhan tahun ini akan dapat membentuk kita menjadi wisudawan-wisudawati yang dapat meraih predikat manusia FITRI yang Summa Claude. Karena seperti sabda Nabi kita yang mulia bahwa barangsiapa yang hari ini lebih baik dari kemarin maka dia adalalah manusia yang beruntung; barangsiapa yang hari ini sama dengan keadaannya yang kemaren maka dia adalah manusia yang rugi; dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk daripada hari kemaren maka dialah manusia yang celaka. Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung tersebut.

Sebagai penghujung seduhan ini saya ingin mengutip ungkapan bijak nan bagus dari seorang Gus Mus (KH. Mustofa Bisri), yang kurang lebih begini, “…apakah Ramadhan yang telah berhasil memprogram kita, atau malah kita yang memprogram Ramadhan tersebut…”

Maksudnya adalah apakah Bulan Ramadhan yang mulia ini akan dapat berhasil mem-program kita menjadi manusia baik nan Fitri atau malah kita hanya sibuk mem-program Ramdhan semau kita (salah satunya lewat program-program TV yang menjadikan agama sebagai komoditi dagangan dan dagelanan selama bulan puasa ini, dan juga melalui kegiatan-kegiatan kita yang kurang bermanfaat seperti ngabuburit yang tidak jelas dll). Semua jawaban ada di dalam benak kita masing-masing. Akhirnya salam Ramadhan, semoga Ramadhan kali ini dapat meng-Upgrade kita menjadi manusia-manusia murni kembali, karena telah banyak polutan yang meng-kontaminasi jiwa kita. Wallahu A’lam.

Diseduh Oleh : Musyaf  Senyapena (senyapena@gmail.com)

Diseduh Di      : Senyapandaan

Bahan Racikan :

http://www.hidayatullah.com/read/18269/01/08/2011/sinetron-berkedok-religi-bentuk-komersialisasi-agama.html