Mendidik Perut

Mendidik Perut

Kisah ini terjadi pada masa Khalifah Umar Bin Abdul Aziz berkuasa. Suatu ketika beliau memanggil juru masak istana dan membuat sebuah persekongkolan yang beliau maksudkan buat ngerjai para pejabat Bani Marwan yang tak lain adalah para pembesar di lingkungan istana. Singkat kisah para pejabat tersebut telah banyak yang hadir dalam acara jamuan sang presiden (khalifah) tersebut. Namun setelah menunggu beberapa lama nyatanya hidangan tak jua kunjung disajikan. Hanya wejangan-wejangan sang khalifah yang sedari tadi mereka dengar. Melihat raut-raut muka yang telah terlihat menahan kelaparan seperti itu, sang khalifah pun memanggil juru masak istana agar segera menghadap padanya. Dan ketika melihat chef istana hadir di hadapan mereka , para pejabat itu pun mulai berbinar. Hidangan pasti akan segera disajikan, demikian pikir mereka. Sejurus kemudian hidangan memang disajikan di depan mereka. Namun siapa nyana ternyata menu yang dihidangkan sangat jauh dari bayangan mereka. Yang ada hanyalah tepung dan kurma. Dan dengan amat terpaksa karena tak kuat lagi menahan lapar dan disertai perasaan sungkan pada sang Khalifah yang telah mempersilahkan agar mencicipinya, menu ala kadarnya itu pun mereka santap dengan lahapnya. Nah, setelah terlihat kenyang, sang Khalifah pun memerintahkan chef istana tuk kembali menghidangkan menu berikutnya. Dan menu kali ini adalah berupa makanan yang sangat lezat yang biasa disantap para pejabat tersebut. Kemudian sang Khalifah mempersilahkan mereka tuk mencicipinya juga. Namun di luar dugaan, para pejabat yang biasa makan makanan mewah tersebut tak ada satupun yang menyentuh hidangan kelas atas itu. Lantas sang khalifah bertanya pada mereka ihwal apa yang menyebabkan mereka tak mau merasakan menu lezat itu. Mereka menjawab bahwa mereka telah kenyang. Kemudian sang Khalifah pun berujar,”Celaka kalian wahai Bani Marwan. Lantas dengan apa kalian kelak makan di dalam neraka?”. Demi mendengar kalimat itu dan setelah menyadari bahwa semua skenario ini telah dirancang sebelumnya oleh sang khalifah sendiri dengan melibatkan juru masak istana, mereka semua menangis. Karena baru saja mendapatkan sebuah pelajaran penting dari sang Khalifah hakikat perut dan keburukan yang diakibatkannya jikalau diperturutkan.

 

Pelajaran yang hendaknya kita serap dari kisah hikmah di atas adalah bagaimana me-manage perut yang baik. Karena telah menjadi rahasia umum bahwa dari kantong tempat singgah makanan dan minuman sebelum diproses lebih lanjut di dalam tubuh inilah semua tindakan bejat bermula. Orang rela korupsi demi perut, merampok demi perut, melacur demi perut, saling bunuh gara-gara sengketa lahan dan warisan juga bermuara pada urusan perut. Ya, perut inilah yang sangat diwanti-wanti jauh hari oleh Rasulullah. Beliau pernah bersabda,”…2 anggota yang banyak menyebabkan umatku masuk neraka adalah perut dan kemaluan.” (Al Kafi Juz 2 hal 79 hadis no. 5). Maka tak heran jika agama sangat memperhatikan urusan perut. Kita dilarang memasukkan barang haram ke dalam perut kita karena tidak ada daging dalam tubuh yang tumbuh dari makanan dan minuman yang haram melainkan akan menjadi santapan api neraka kelak. Demikian ajaran Nabi yang mulia tersebut. Nah, Ramadhan inilah salah satu momentum sakral yang dihadirkan dari langit kepada umat manusia guna mendidik perut mereka. Memang benar puasa bukan hanya urusan perut, namun tak dapat dipungkiri bahwasannya kita ini adalah para Shoimin awam. Yaitu para manusia yang berpuasa pada level terendah. Puasa yang hanya dominan dalam menahan lapar dan dahaga sementara hingga petang. Hal ini dapat dibuktikan dengan fenomena semaraknya belanja dan wisata kuliner guna menambah referensi menu berbuka puasa bagi para pemirsanya yang ditampilkan televisi-televisi kita. Memang benar hal ini tak dapat menjadi acuan utama, namun setidaknya dapat menggambarkan perilaku masyarakat kita. Bukankah acara-acara TV itu sedikit banyak merupakan representasi dari budaya sosial masyarakat kita.
Nah ikhwal perut ini, ada fakta menarik yang diwartakan Koran ini tempo hari. Yaitu mengenai data dari WHO PBB yang merilis data bahwa kian tahun angka penduduk Indonesia yang memiliki berat badan berlebih semakin bertambah. Persentase orang Indonesia yang berpostur kegemukan pada tahun 2010 sebesar 32,9 persen atau sekira 78,2 juta dari seluruh penduduk negeri ini. Angka tersebut jauh meningkat dibanding 2 tahun sebelumnya yang hanya 9,4 persen pada tahun 2008. Banyaknya jumlah warga yang overweight itu tentu saja mengkhawatirkan karena meningkatkan resiko terserang beragam penyakit kronis (Jawa Pos, 14/08/11).

 

Melihat fakta dari WHO tersebut, bukankah kian membuktikan bahwa urusan menjaga perut di negeri ini merupakan sesuatu yang tidak dapat dianggap remeh. Karena jika para petinggi negeri ini hingga rakyatnya buruk dalam pengelolaan manajemen perut maka goal Indonesia tuk menjadi Negara yang makmur dan beradab kian jauh panggang dari api. Karena di saat segelintir orang di Republik ini memenuhi perutnya dengan berlebihan (melalui korupsi dll), di saat yang sama pula manusia-manusia lain di negeri ini dipaksa puasa sepanjang kehidupannya karena ketimpangan ekonomi yang kian mempersulit mereka, meski hanya sekedar tuk memerdekakan perutnya dari kelaparan secara wajar.

 

Saatnyalah bangsa ini belajar manajemen perut. Karena tak dapat dipungkiri bahwa dari rongga tubuh yang kecil namun dapat “menampung isi dunia” lebih luas dari danau kaspia tersebut, banyak kejahatan sosial dan kemanusiaan bermula. Dan dengan momentum shiyam Ramadhan ini semoga dapat menjadi titik awal dari proyek besar bangsa ini dalam mendidik perutnya dan memerdekakan perut rakyatnya dari kelaparan melalui spirit kedermawanan sosial ala Ramadhan . Semoga.

 

Diseduh Oleh : Musyaf  Senyapena (senyapena@gmail.com)

Diseduh Di      : Senyapandaan