Sebuah Negeri Unik

Sebuah Negeri Unik

Alkisah, peristiwa ini terjadi di sebuah negeri bernama Indonesia pada tahun 2020. Di mana saat itu negeri yang berpenduduk Muslim terbesar di planet itu ternyata hampir-hampir telah tercerabut identitas ke-Islam-annya. Hal itu dilakukan oleh para penguasa negeri tersebut secara sistematis. Ulama, Da’i, Ustadz, guru ngaji, rakyat jelata dll yang berani bicara agama secara mendalam, lebih-lebih masalah Jihad (Jihad yang benar tentunya) dan juga Syariat Islam, maka mereka harus bersiap-siap dijemput sepasukan batalion khusus yang sangat “berkuasa” dalam masalah yang mereka sebut sebagai “Terorisme”. Bagi siapapun yang berani mendatangi pengajian yang ceramahnya berisi pesan agar kita selalu bertakwa kepada Allah dengan sebenar takwa dan berusaha mengamalkan Islam secara Kaffah (komprehensif) dalam seluruh sendi kehidupan kita, maka jangan kaget jika pada saat itu mereka akan diciduk batalion khusus yang didanai dan dibentuk oleh negara asing yang memiliki sejarah sebagai bangsa kolonial di masa lalunya dan bahkan hingga di masa kini   ( yang terbukti dengan kegemarannya menghancurkan negeri-negeri Timur Tengah).

Kemudian, jika anak anda, saudari anda, istri, ataupun teman anda berjilbab, maka jangan kaget jika wanita tersebut akan “tidak mudah” mendapatkan pekerjaan di perusahaan tertentu dan bahkan bisa juga di instansi pemerintahan, padahal republik yang sedang kita bahas ini “dulunya” dikenal sebagai negeri Muslim terbesar di dunia. Fenomena yang unik berikutnya adalah banyaknya acara-acara Televisi yang berkategori  menjemukan dan bahkan dapat dibilang sampah. Tidak seluruhnya memang, namun sebagian besar memang dapat dimasukkan dalam kategori tersebut. Selain sehari-hari dijejali dengan acara musik yang liriknya mayoritas kurang mendidik (cabul. terlalu cengeng dan berlebihan/lebay), acara-acara tersebut juga lebih banyak memotivasi kita mendekati ke-glamour-an dunia dan menjauhi akhirat. Dan ada lagi yang lebih unik, jika acara-acara musik didukung sedemikian rupa oleh pemerintahan saat itu, acara-acara pengajian justru agak dipersulit dengan cara tidak diberi izin jika skala pengajian tersebut besar dan menghadirkan pembicara (Ulama) yang terkenal teguh dalam memperjuangkan agama Allah. Bahkan pemerintah saat itu agaknya juga lebih menuruti saran dari sebuah lembaga Internasional yang bernama ICG [International Crisis Group] -yang direkturnya di Indonesia pernah dijabat oleh seorang wanita bernama Sidney Jones yang terkenal phobia akut dan jengkel terhadap Islam- yang menyatakan bahwa pengajian yang diselenggarakan para Da’i, Ustadz, Ulama yang pernah dipenjara karena dicap radikal -versi mereka- harus diawasi ekstra oleh pemerintah melalui Intel-intelnya karena dikhawatirkan mempengaruhi orang banyak terutama kaum muda yang tengah mencari jati diri. Pemerintah dengan saran tersebut dapat dikatakan lebih mendukung jika anak muda republik ini lebih suka nonton konser-konser semacam Justin Beiber dll dan juga pertandingan olahraga yang katanya dapat mengajarkan nila  sportivitas  sejak dini dan plurasime budaya-sosial serta menambah amunisi Nasionalisme di masyarakat (terutama saat Timnas mereka bertanding). Dan yang terpenting semua itu dapat mencegah otak para generasi muda dari radikalisme agama. Meskipun dalam olahraga terutama sepakbola radikalisme itu juga diajarkan secara temurun bahkan dampaknya sangat parah yaitu munculnya sifat kebanggaan akan klubnya yang berlebihan yang merupakan benih lahirnya Chauvinisme yang ujung-ujungnynya akan mengecambah menjadi sebuah bibit disentegrasi bangsa akibat kekerasan Komunal yang berpeluang besar lahir dari kefanatikan terhadap klub kebanggaannya tersebut.

Kembali ke cerita mengenai sebuah negeri besar yang unik tersebut. Di sana juga sebagian orangnya unik-unik karena ketika ada yang menyeru mereka ke jalan kebaikan dan mengingat  Tuhan maka mereka akan berseru,”Jangan Munafik, Pak Ustadz, liat dulu kelakuan ente dah bener apa belum. Jangan sok suci dan benar.” jawab mereka dengan mengolok. Padahal di bumi ini tidak ada manusia suci (santo) karena memang fitrah manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Jika orang yang dibilang munafik karena menyeru kepada jalan Tuhan hanya karena dia juga sama-sama banyak salah dan dosa karena bukan seorang manusia suci, maka saat itulah orang yang dihujat itu berada dalam 2 jalan. Memilih berhenti dari dakwahnya tersebut atau tetap melanjutkan Risalah warisan para Nabi tersebut dengan menuruti nasihat Al Imam Ahmad Ibnu Hambal yang pernah berujar,”Jika engkau menunggu dirimu menjadi orang baik terlebih dahulu sebelum berdakwah (menyeru dalam kebaikan), maka selamanya hal itu tak akan terjadi. Karena itu tetaplah menyeru manusia ke jalan Tuhannya seraya juga memperbaiki diri di dalam proses dakwah tersebut.”

Ah, sebenarnya masih banyak keunikan dari negeri besar yang sedang kita bahas ini, namun sementara saya cukupkan sampai di sini saja dahulu. Karena saya yakin anda juga akan menemukan satu per satu keunikan lain dari negeri tersebut mulai dari saat ini. Keunikan itu semisal dengan mewabahnya fenomena pemimpin yang suka berkeluh kesah di Televisi, membuat lagu, membangun Citra diri, suka mengalihkan isu/kasus yang ujung-ujungnya akan ada bom meledak jika sebuah kasus besar mengancam reputasinya dan masih banyak lagi keunikan lainnya. Dan kemungkinan hal yang lebih unik lagi yang bisa terjadi adalah orang-orang macam saya yang suka menuliskan opininya mengenai kebobrokan negeri ini akan dimata-matai oleh Intelejen dengan dalih berpotensi mengancam dan mengganggu keamanan negara (seperti yang tertuang dalam UU Intelejen yang sedang digodok DPR yang berpotensi menjadi sebuah alat penguasa dalam melanggengkan kekuasaannya tanpa peduli nasib negara dan rakyatnya). Ah semoga semua itu hanya kekhawatiran saya belaka.

Diseduh Oleh : Musyaf  Senyapena (senyapena@gmail.com)

Diseduh Di      : Senyapandaan