Say No To The Obscene Songs

Say No To The Obscene Songs

Akhirnya, keresahan itu mulai menemukan saatnya tuk terobati. Keresahan yang ternyata tak hanya saya pribadi yang merasainya, namun juga bagi banyak orang yang mengaku masih mencintai negeri tercinta ini, terutama generasi mudanya. Mungkin anda bertanya-tanya dalam hati tentang keresahan apakah yang saya maksudkan ini hingga menyangkut-pautkan dengan urusan generasi muda segala. Untuk mulai menjawabnya, maka dengan sangat antusias saya akan berbagi keresahan ini kepada semuanya yang kebetulan singgah ke kedai fikir (blog) ini. Harian Surya (Kompas Gramedia Grup), sebuah Koran regional Jatim terkemuka, pada hari Sabtu kemarin (15/10/11) mengangkat sebuah warta menarik dalam Headline-nya. ‘Dangdut ‘Hamil Duluan’ Dicekal Di Jatim.” Wow sebuah warta yang memancing rasa ingin tahu saya tuk segera membacanya. Pasalnya saat ini di negeri ini tengah kebanjiran biduan-biduanita pendatang baru baik yang berbentuk Grup Band, Boy Band/Girl Band yang mengekor negeri ginseng Korsel, maupun artis-artis yang tiba-tiba mendadak jadi penyanyi, belum lagi artis-artis debutan alumni Youtube. Wuih negeri ini tiap harinya (melalui TV) selalu diriuhi oleh suara nyanyi-nyanyi, sorak histeris fans yang tersihir idolanya, hingga kerasnya alunan alat-alat musik. Negeri yang manusianya mudah digiring opini, selera, dan arah hidupnya oleh tangan-tangan Kapitalis Barat melalui media massa ini memang merupakan pasar besar bagi semua produsen produk apapun. Entah produk kebaikan ataupun produk keburukan, kedua-duanya dapat dipastikan akan dapat konsumennya di negeri ini. Bayangkan saja, jangankan produk-produk kebaikan, produk-produk keburukan saja juga memiliki konsumennya sendiri di negeri yang mengaku ber Tuhan ini. Contohnya? Anda tentu masih ingat majalah PORNO Play Boy, kan? Nah produk dari Play Boy Enterprise Internasional yang berbasis di Amrik yang jelas-jelas produk dari otak manusia-manusia yang menempatkan kelamin dan Libido (nafsu) di atas segalanya itu ternyata di negeri ini dapat beredar. Padahal ini Negara beradab, bertuhan, dan bermoral, namun toh dengan dalih buatan yang meleburkan pornografi ke dalam seni, majalah ini dapat mengangkangi tanah Indonesia dengan angkuhnya. Dan gayung bersambut, untuk peluncuran perdananya saja ternyata tak susah tuk mencari modelnya. Karena tak sedikit wanita Indonesia yang mau merelakan MALU nya sebagai manusia beradab agar mau dipotret telanjang dengan alasan klasik, SENI. Dan anehnya keputusan artis-model Indonesia yang mau difoto bugil tersebut juga didukung penuh oleh keluarganya termasuk suami dan ortunya yang ironisnya tak cemburu maupun risih sedikitpun saat tubuh istri/anaknya dipajang tanpa busana tuk disajikan kepada mata-mata “NAKAL” konsumen setia Produk Keburukan tersebut. Nah, itu hanya sedikit contoh saja.
Kembali ke masalah lagu dangdut yang dicekal tadi. Sebelumnya diwartakan juga bahwa MUI Jabar dan Ulama-ulama Bandung yang juga didukung pemerintah daerah setempat mencekal beberapa artis wanita Indonesia (mayoritas penyanyi dangdut) dan melarang mereka mengadakan konser di wilayah Pasundan dengan alasan pakaian yang seronok dan kurang pantas untuk ukuran manusia Indonesia yang beradab. Namun keputusan ini juga masih tetap menjunjung tinggi HAM, karena 9-10 artis yang masuk daftar cekal tersebut tetap diperbolehkan mengunjungi Bandung jika untuk urusan pribadi semisal belanja, rekreasi dll. Intinya pencekalan itu hanya berlaku di ranah yang menyangkut wilayah public semisal konser. Lain Bumi Pasundan lain pula wilayah Jawa Timur. Provinsi besar yang merupakan lumbung penghasil biduanita-biduanita yang termasuk paling banyak dicekal di beberapa daerah di Indonesia ini lebih menekankan pada unsur lagu itu sendiri daripada penyanyinya. Karena lirik-lirik lagu tersebut dianggap tak kalah berbahayanya dengan penampilan seronok para penyanyinya. Pasalnya lirik lagu adalah sebuah instrumen utama dari sebuah karya musik. Lirik lagulah yang merupakan pesan atau buah otak dari sang pembikin lagu serta penyanyinya yang hendak disampaikan kepada manusia lainnya dalam hal ini adalah pendengar lagu-lagu tersebut. Kita tentu ingat dengan adagium masyhur dalam dunia informasi yang menyatakan bahwa, “kebohongan yang disiarkan secara terus menerus maka lambat laun hal itu akan dianggap sebagai sebuah kebenaran di kemudian hari .”

Dan yang yang termasuk dalam kategori “sesuatu yang hendak disiarkan terus menerus” ini adalah lirik-lirik lagu yang bermuatan pesan negativ semisal penghasutan, pornografi, dan keseronokan. Nah hal inilah yang melandasi KPID (Komisi Penyiaran Indonesia-Daerah) Jawa Timur mengeluarkan maklumat pencekalan lagu-lagu cabul tersebut. Beberapa lagu yang bermuatan nilai pornografi dan keseronokan yang dicekal KPID Jatim diantaranya adalah lagu Hamil Duluan (Tuty Wibowo dan dipopulerkan kembali oleh penyanyi yang bukan penyanyi, Jojo dan Sinta), Watu Cilik (Sodiq & Ratna Antika), Lubang Buaya (Minawati Dewi) dan yang masih dalam perdebatan yaitu lagu yang berjudul Iwak Peyek (Eny Sagita).
Menurut Dony Maulana Arif, Ketua Bidang Pengawasan Isi Siaran Komisi Komisi Penyiaran Indonesia-Daerah (KPID) Jawa Timur, isi lagu-lagu yang dicekal tersebut bertentangan dengan UU 32/2002/ tentang Penyiaran dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pasal yang dilanggar terutama adalah pasal 19 P3SPS. Karena dalam pasal tersebut telah ditegaskan bahwa sebuah program siaran baik lagu atau klip video dilarang memuat lirik dan adegan gambar yang bermuatan seks secara eksplisit atau vulgar. Sebuah program siaran juga dilarang memuat adegan tarian, gerakan tubuh dan atau lirik yang dapat dikategorikan cabul atau membangkitkan gairah seks, serta merendahkan perempuan sebagai obyek seks. Melihat pasal tersebut memang tak heran jika kemudian KPID berani mencekal lagu-lagu yang bersangkutan. Untuk lebih mengetahui apa yang dimaksudkan oleh KPID tentang lagu-lagu yang bermuatan cabul itu, saya (dengan ucapan “permisi” kepada semuanya) akan menjabarkan beberapa lirik-lirik lagu yang dimaksud.
Hamil Duluan (oleh : Tuty Wibowo)
Ku Hamil Duluan Sudah Tiga Bulan
Gara- gara Pacaran Tidurnya Berduaan
Ku Hamil Duluan Sudah Tiga Bulan
Gara- gara Pacaran Suka Gelap-gelapan
……………………………………….
Makna dari lagu tersebut tentu dengan mudah telah dapat kita cerna bersama. Namun yang menjadi perhatian utama saya dari lagu itu adalah gaya dan bahasa tubuh sang penyanyi dalam membawakan lagu. Dalam video klip lagu hamil duluan versi Sinta dan Jojo Nampak jelas kedua penyanyi tersebut menyanyikannya dengan gaya jenaka bahkan terkesan riang santai seolah isi lagu yang mereka bawakan (kejadian hamil di luar nikah) adalah sebuah hal yang biasa dan bukan sebuah aib dan hal menyedihkan serta memalukan serta dapat dijadikan bahan guyonan dengan sesama teman. Apakah ini faktor iseng atau sebuah kampanye terselubung By Design? Entahlah, yang pasti pesan dalam lagu dan video klip tersebut telah sangat vulgar berisi “pesan” yang buruk, terutama bagi anak-anak yang merupakan mangsa yang sengaja “mereka” sasar dalam hal kampanye perusakan pemikiran generasi masa depan bangsa ini. Karena seperti yang diketahui bersama bahwa anak-anak itu bagaikan sebuah spon yang menyerap apa saja yang ada di sekeliling mereka termasuk menyanyikan sesuatu yang masih belum mereka mengerti maksudnya.
Berikutnya adalah lagu yang berjudul Watu Cilik di bawah ini :
Watu Cilik (Oleh : Sodiq & Ratna) —————– Batu Kecil (Terjemah Indonesia bebas)
Wong Lanang                                                                                Laki-Laki
Senengane Nglengkang                                                             Sukanya duduk kaki diangkat ngangkang satu

Yen Wes Nglengkang                                                                 Kalau Sudah begitu
Ngadek Mekangkang                                                                  Berdiri Ngangkang
Lha Kae Ketok Ndlonjor                                                           Lha itunya kelihatan besar panjang
Sak Pedang                                                                                     se (besar) Pedang

Wong Wedok                                                                                 Wanita
Senengane Ndhodok                                                                  Sukanya Jongkok
Nek Wes Ndhodok                                                                       Kalau Sudah Jongkok
Lungguhe Mekokok                                                                    Duduknya membuka lebar-lebar                                                                                                                                             (kedua kaki   & paha dibuka)
Lha Kae Ketok                                                                               Lha itunya kelihatan
Metutu Sak Bathok                                                                      (Ada) yang menonjol (Bentuk Alat
Kelaminnya/Vaginanya) se (besar) buah kelapa

Nampaknya tanpa dijelaskan pun kita sudah mafhum isi dari lagu ini yang sungguh sangat vulgar dan “memalukan” serta risih jika didengar oleh kita yang masih merasa punya malu ini. Dan bayangkan jika anak-anak juga menghafal lirik-lirik lagu seperti ini, sungguh sangat berbahaya bukan. Namun ironisnya lagu-lagu seperti ini sangat laris manis dan sering diputar di emperan-emperan jalanan serta sound system pada saat ada hajatan, terutama lagu-lagu yang dibawakan oleh si gimbal Sodiq yang biasanya juga diiringi sebuah Grup Orkes Melayu (O.M. Monata) yang sangat terkenal di wilayah sekitar Jatim terutama pantura serta 2 kota besar Jatim yaitu Surabaya dan Malang. Bahkan jika anda berkesempatan lewat kota Kecil Pandaan, maka jangan heran jika lagu-lagu tersebut sangat terkenal karena Sodiq sendiri juga berdomisili di Pandaan.
Baiklah sampai di sini saja saya lampirkan beberapa contoh lirik lagu yang bermasalah tersebut. Sebenarnya di negeri ini masih banyak lagu yang muatannya tidak mendidik baik itu yang bermuatan pornografi, penghasutan, hura-hura tidak jelas dll yang masih belum dilaporkan kepada lembaga terkait seperti KPI maupun KPID. Namun alangkah lebih bijaknya jika langkah Preventif kita lakukan sendiri dari keluarga masing-masing guna mem-filter keluarga kita terutama anak-anak yang merupakan generasi masa depan bangsa ini dari bahaya-bahaya program perusakan otak yang diselubungkan semisal lewat lagu-lagu cabul ini. Dan yang perlu menjadi catatan, tak semuanya seni itu harus harus bernuansa pornografi, karena seni pada dasarnya indah dan mendidik. Bukan malah merusak generasi dan merendahkan harkat manusia serta melecehkan wanita. Ingat bahwa “Allah tidak menyukai ucapan buruk…” (Qs. An Nissa [04] : 148).
Sebagai penutup ada baiknya kita renungi ayat Al Qur’an yang masih ada kaitannya dengan bahasan ini

“ (ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu.” (Qs. An Nahl [16] : 25)
Dan semoga kita semua keluarga Indonesia selalu diberi petunjuk dalam menghadapi hal-hal seperti ini dan dibimbingNya agar selalu dapat berkata maupun berkarya dengan semangat kebaikan dan menghasilkan sesuatu yang baik pula.
“Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji.” (Qs. Al Hajj [22] : 24)

Diseduh Oleh :  Musyaf  Senyapena (senyapena@gmail.com)

Diseduh Di      :  Senyapandaan