Tetap Sabar, Indonesiaku !!!

Tetap Sabar, Indonesiaku !!!

Orang Indonesia kini makin cepat mati” ? Aih, ngeri sekali membaca pernyataan tersebut. Namun itulah faktanya. Mengutip Jawa Pos, Minggu (06 November 2011), United Nations Development Programme (UNDP) telah merilis sebuah laporan terbaru mengenai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia 2011. Dalam laporan itu disebutkan bahwa usia harapan hidup (UHH) penduduk Indonesia tahun ini hanya 69.4 tahun yang menandakan sebuah penurunan indeks angka dibandingkan pada tahu lalu yang masih menyebutkan bahwa usia harapan hidup penduduk Indonesia adalah pada usia 71,5 tahun.

Kepala Pusat Komunikasi Publik (Puskomik) Kementerian Kesehatan, Murti Utami, salah satu diantara beberapa kemungkinan faktor penyebab UHH penduduk Indonesia menurun dibandingkan tahun lalu adalah karena semakin meningkatnya penyakit tidak menular semisal Diabetes Melitus (DM), penyakit pembuluh darah, dan jantung. Dan masih menurut Murti Utami, kemungkinan yang menjadi faktor penyebab peningkatan penyakit-penyakit tak menular tersebut diantaranya adalah perilaku atau gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok, pola makan dengan gizi tak seimbang, dan kurang olahraga.

Dan sebagai info tambahan, ternyata Usia Harapan Hidup (UHH) Indonesia tersebut masih kalah jika dibandingkan dengan 2 negeri Jiran kita, yaitu Singapura yang memiliki indeks UHH sampai 81,1 tahun dan Malaysia 74,2 tahun. Jadi jika ada yang bilang bahwa orang Indonesia lebih cepat mati maka tidak sepenuhnya salah memang. Namun data mengenai rendahnya indeks UHH yang dilansir UNDP ini, menurut saya adalah sebuah peringatan dini bagi kita agar lebih dapat menjalani hidup dengan lebih berkualitas lagi. Pasalnya, usia panjang jika tanpa disertai karya kebajikan (amal shalih : dalam bahasa Al Qur’an) adalah sebuah kesia-sia an hidup belaka. Sungguh merugi hidup kita jika di usia yang tidak begitu panjang ini masih minim amal kebaikan. Alih-alih juga malah melakukan banyak amal jahat. Dan kerugian ini ternyata berlaku bagi semua golongan manusia, baik itu manusia yang biasa berbuat baik maupun yang gemar berlaku buruk. “Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al Ashr [103] : 1-3). Merugi bagi orang baik karena setelah mereka mati penyesalan itu akan datang disebabkan mereka merasa bahwa amal baik mereka dirasa masih kurang. Padahal mereka telah mendapat tempat yang baik di sisi Tuhan namun mereka masih merasa kurang maksimal dalam menjalani hidupnya dahulu di dunia dengan amalan shalih. Inilah yang oleh para Ulama disebut sebagai kerugian yang menimpa manusia-manusia baik. Sedangkan bagi manusia-manusia jahat, mereka akan merasa sangat rugi besar baik di dunia ini terlebih di akhirat kelak. Selain merasakan siksa kubur dan neraka, kerugian besar yang akan menimpa mereka adalah sebuah kesadaran ternyata betapa hidup mereka dahulu hanyalah sia-sia belaka. Kisah penyesalan maha hebat ini sering di abadikan dalam Al Qur’an. “Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (QS. Al Hijr [15] : 2-3).

Nampaknya hasil research UNDP (United Nations Development Programme) yang menyatakan bahwa UHH penduduk Indonesia hanya 69,4 tahun yang dapat dikatakan sebuah ukuran masa hidup yang dapat disebut tidak terlalu lama , harus kita sikapi dengan bijaksana dan cerdas. Ingat, Muhammad SAW sang makhluk termulia semesta juga hanya diamanahi usia 63 tahun dalam bingkai jasad manusia nya. Namun dengan usia yang terbilang pendek tersebut beliau mampu mengukir prestasi besar bagi peradaban manusia dan seluruh makhluk Tuhan di bumi. Jika permisalan Rasulullah sebagai manusia berusia singkat namun prestasi selangit dianggap terlalu berlebihan, maka izinkanlah saya ambil seorang besar dari kalangan manusia modern saat ini yang baru saja meninggal. Steve Jobs, kita semua tentu kenal dengan sosok jenius fenomenal ini bukan. Bukankah usianya juga singkat yaitu 56 tahun, namun maha karyanya telah mencengangkan dunia dan mengubah bentuk peradaban manusia modern ke era digital ala tablet Apple (apel gerowak). Tokoh besar keturunan Muslim Syria bernama Abdul fatah Jandalli ini juga sedikit banyak memakai filosofi seorang muslim dalam kehidupannya. Dalam pidatonya yang termasyhur, Steve Jobs alias Abdul Lateef Jandali pernah menjelaskan mengenai hal yang disebut kematian yang intinya bahwa dia (Jobs) mengambil nilai-nilai kematian guna menghidupkan kehidupannya yang sejati. Dia selalu menganggap bahwa usianya akan berakhir dalam waktu dekat sehingga dia terpacu tuk sesegera mungkin menelurkan gagasannya melalui karya nyata tanpa menunda-nunda lagi karena seolah-olah besok dia akan segera mati. Dan hasilnya? Telah dapat kita nikmati bersama. Produk-produk Apple telah merajai dunia. So, usia harapan hidup boleh pendek (versi UNDP) namun “usia harapan kepada Tuhan” juga usia cita-cita harus terus kita pelihara seiring masih kenvangnya lari nafas kita. Karena dengan demikian maka kelak usia karya kita juga akan melebihi usia hidup di dunia ini, seperti usia karya besar Muhammad dan Steve Jobs (Abdul Lateef Jandali). Semoga.

Diseduh Oleh : Musyaf  Senyapena (https://musyafucino.wordpress.com)

Diseduh Di      : Senyapandaan