Romusha Pribumi

Romusha Pribumi

Apakah anda pernah melewati jalanan berlubang ? baik itu jalan              umum, lebih-lebih jalan kota ataupun provinsi. Saya menduga bahwa anda pasti pernah dan bahkan mungkin sering melewati jalanan semacam ini. Bagaimanakah perasaan anda ? apakah sama dengan saya, kesal, dongkol minta ampun, dan bawaannya ingin mencaci Pemerintah melulu, terlebih Dinas Pekerjaan Umum (PU) sang “Empunya” jalan, saya kira semua perasaan seperti itu sangat wajar adanya. Karena seperti telah menjadi sebuah kesepakatan umum bahwa Jalan Raya adalah HAk Rakyat yang wajib selalu dalam keadaan bagus. Karena dari Jalan-an lah segala aktivitas pergerakan manusia dilakoni. Jalan-an selayak sebuah panggung bagi Rakyat tuk menapaki rutinitas kehidupan mereka. Jalan-an adalah sebuah artefak purba yang masih ada dan banyak sejarah terkandung di dalamnya. Betapa banyak sejarah, kisah serta laku hidup dari sebuah bangsa dan manusianya yang terekam dan terjadi di atas “wajah” sebuah Jalan. Banyak contoh dari hal ini, semisal jalan terpanjang di Tanah Jawa, Anyer (Banten) hingga Panarukan (Banyuwangi), yang seperti kita ketahui adalah sebuah artefak sejarah yang hingga kini masih ada dan masih ditapaki oleh anak cucu dari para moyang pribumi kita dahulu yang dijadikan Romusha oleh Belanda. Tak heran jika seorang penulis sekaliber Pramoedya Ananta Toer juga pernah menulis sebuah buku mengenai “Kisah Jalan” ini lewat buku fenomenalnya yang berjudul Jalan Raya Pos, Jalan Daendels yang sangat bagus dalam menceritakan kisah dari sebuah artefak sejarah yang bisu namun tak lekang digerus zaman, yang bernama “Jalan”. Buku yang ditulis oleh Pram di masa Uzurnya ini diselesaikannya pada Tahun 1995 namun baru diterbitkan oleh Penerbit Lentera Dipantara pada Tahun 2005. Buku ini ditulis tanpa pembagian bab. Pada halaman-halaman awal Pram menguraikan awal ketertarikannya pada Jalan Raya Pos yang memakan banyak korban jiwa para pekerja paksa yang ia golongkan sebagai genosida. Ia juga menyinggung beberapa genosida yang awalnya dilakukan oleh Jan Pietersz Coen (1621) di Bandaneira, Daendels dengan Jalan Raya Posnya (1808), Cuulturstelsel alias tanam paksa, genosida pada zaman Jepang di Kalimantan, genosida oleh Westerling (1947) hingga genosida terbesar dalam sejarah bangsa Indonesia di awal-awal pemerintahan Orde Baru. Nah, demi melihat begitu banyak sejarah yang tersimpan dari kisah “Jalan” tersebut, maka semakin menjadi sebuah kewajaranlah jika saat ini kita patut marah dan kesal jika ada jalanan yang rusak tak terawat. Pasalnya, bukan hanya mengganggu aktivitas rakyat negeri ini sehari-hari namun juga mencederai nama baik bangsa ini. Kenapa demikian? karena Jalan adalah aset sejarah, dan bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai jasa para pendahulunya (pahlawannya), demikian ujar Bung Karno. Dan seperti telah diketahui bersama bahwa Jalan Anyer- Panarukan yang panjangnya 1000 Km tersebut adalah hasil karya sejarah moyang kita. Yang keringat dan darahnya dipaksakan tertumpah oleh Belanda melalui tangan besi Gubernur Jenderal Herman Willem Daendles (1762-1818). Daendles sendiri berangan untuk membangun jalur transportasi sepanjang pulau Jawa guna mempertahankan Jawa dari serangan Inggris. Dan Angan-angan membangun jalan yang membentang antara Pantai Anyer hingga Panarukan itu direalisasikannya dengan mewajibkan setiap penguasa pribumi lokal untuk memobilisasi rakyat, dengan target pembuatan jalan sekian kilometer. Yang gagal, termasuk para pekerjanya, dibunuh. Kepala mereka digantung di pucuk-pucuk pepohonan di kiri-kanan ruas jalan. Gubernur Jendral Daendels memang menakutkan. Dengan tangan besinya jalan itu diselesaikan hanya dalam waktu setahun saja (1808). Daendles memang kejam, namun kita akan menjadi lebih kejam darinya jika tidak merawat artefak sejarah ini.

Jalan Pos Daendless

Jalan Pos Daendless

Dari sebuah Jalan Pos Daendes beraspalkan darah dan air mata manusia-manusia pribumi yang dipaksa untuk membangunnya itu kini lahir kota-kota yang kian berkembang pesat. Salah satunya adalah Kota Bangil si kota Bordir di daerah Tapal Kuda Pantura yang masuk wilayah Kabupaten Pasuruan, dan tentu saja masih banyak kota lain di bumi Jawa yang dahulunya terpencil kini beranjak menggeliat menjadi kota penting karena dampak dari adanya akses jalan Pos Daendless tersebut . Oh iya, sebagai tambahan informasi, menurut catatan sejarah yang bersumber dari Inggris, jumlah pribumi yang tewas akibat proyek kerja paksa pembuatan jalan Pos tersebut diperkirakan berjumlah 12.000 orang yang tercatat, namun diyakini jumlah korban lebih dari itu. Karena hingga kini tak pernah ada komisi resmi yang menyelidikinya.

Jalan-an Kita Hari Ini

Jika menilik fakta sejarah yang sedemikian hebat mengenai hikayat sebuah “Jalan”, maka seyogyanyalah para manusia zaman ini berkewajban merawat dan menjaga artefak sejarah tersebut. Mulai dari cara yang paling sederhana sekalipun semisal tidak memaksakan melewati sebuah jalan dengan membawa kendaraan yang berbobot lebih dari yang dapat ditahan oleh aspal jalanan. Hal ini penting guna merawat kondisi jalan sekaligus menghemat APBN maupun APBD. Dan kewajiban ini berlaku bagi semua masyarakat baik itu sipil maupun institusi terkait. Karena bukan rahasia lagi bahwa masih banyak para petugas dari dinas terkait yang masih memperbolehkan kendaraan besar dengan muatan yang besar pula tuk tetap melewati jalanan yang tidak dapat menahan beban-beban seberat itu. Maka tak heran jika masyarakat menganggap timbangan jalan dari petugas terkait nampaknya tak lebih dari formalitas tugas belaka yang disertai penarikan pungutan jalan. Namun untungnya saat ini masyarakat dapat mengontrol aparatnya melalui laporan yang disebarkan lewat berbagai media seperti jejaring sosial dan Radio, termasuk juga melalui sorot tajam kamera dan pena para wartawan yang selalu kritis mengawal laku pemerintah. Terakhir sebagai sebuah renungan maka saya kutipkan kisah dari zaman Pemerintahan seorang Presiden bijaksana nan tegas pada zaman dahulu kala yang bernama Umar Ibnu Khatab . Beliau pernah berujar bahwasannya jika masih saja ada keledai yang terperosok ke dalam jalanan di wilayah Madinah (wilayah kerjanya) yang diakibatkan karena jalanan di wilayah pemerintahannya ternyata masih ada yang berlobang, maka beliau pasti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah di akhirat kelak atas kejadian tersebut, dan hal itu sering membuat dada beliau sesak. Subhanallah, masih adakah Presiden yang seperti ini saat ini. Coba bandingkan dengan yang terjadi di negeri ini, jangankan keledai yang konon hewan paling hina di muka bumi, nyawa manusia pun jika belum banyak yang tewas dan belum ada laporan dan desakan dari masyarakat maka sulit diharapkan aparat terkait akan segera memperbaiki kondisi jalanan di negeri ini. Ah Ironis sekali.
Nah inilah momentum tuk segera berbenah, saatnyalah semua manusia yang masih memijakkan kakinya di bumi Indonesia tuk bersama-sama merawat Jalan. Tak peduli besar kecil jalan-an itu. Karena tiap ruas jalan adalah sangat berharga bagi penggunanya. Dan tiap ruas jalan adalah perekam sejarah manusia sekitarnya. Sekali lagi, sekecil apapun jalan-an itu. Dan serendah apapun profesi kita.

Diseduh Oleh : Musyaf  Senyapena (senyapena@gmail.com)

Diseduh Di      : Senyapandaan