I Hate Slow ?

I Hate Slow ?

I Hate Slow, saya benci lelet. Slogan tersebut akhir-akhir ini sering kita dengar di keseharian kita. Sebuah slogan yang sangat massive didengungkan oleh sebuah vendor telepon genggam & kartu seluler melalui iklannya yang menarik. Dalam iklannya, vendor tersebut seolah-olah memberitahukan kepada khalayak bahwasannya hanya produknyalah yang paling bagus dalam hal mengakses data maupun tuk berkomunikasi. Jika saat kita memakai merek-an yang lain, kita pasti akan mengalami yang namanya sinyal lemah, putus-nyambung, mengalami buffering saat mengakses data/internet dll. Namun semua itu tidak akan terjadi jika kita menggunakan merek yang berjargon “I Hate Slow” tersebut. Demikian kira-kira pesan yang hendak disampaikan melalui iklan tersebut. Ah namanya juga iklan, boleh percaya boleh tidak, semua tergantung kehendak konsumen karena merekalah yang berhak menentukan.

Dalam seduhan ini saya tak hendak membahas mengenai produk tersebut maupun masalah iklannya. Saya hanya ingin mengolah sedikit “sesuatu” di balik isi iklan tersebut. Karena anda boleh percaya boleh tidak bahwasannya jargon “I hate Slow” dalam iklan produk seluler itu ternyata jauh-jauh hari telah dijelaskan oleh Allah melalui Al Qur’an. Jika anda membuka Mushaf Al Qur’an pada surah ke-21 yaitu Al Anbiyaa’, Allah bertitah bahwasannya,” Manusia Telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. kelak akan Aku perIihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera.” (QS. Al Anbiyaa’ [21] : 37).

Banyak pelajaran berharga yang dapat dipetik dari jargon “I Hate Slow” itu. Salah satunya adalah tak selamanya “pelan-pelan” itu jelek. Karena ada kalanya sesuatu itu lebih baik jika dilakukan secara pelan-pelan. Berkendara misalnya. Banyak manfaat jika kita berkendara dengan tidak terlalu cepat. Selain dapat lebih berhati-hati, kita juga dapat menikmati suasana sekitar kita. mengamati lingkungan sekitar kita. menyapa manusia-manusia lain. Dapat juga mencermati apa saja yang telah berubah dengan sekitar kita. Yang semua itu sulit di dapat jika kita melakukannya dengan “tergesa-gesa”. Banyak orang berilmu & orang bijak entah itu nabi, seniman, budayawan, penulis dll yang dapat menyerap “aspirasi & inspirasi” dari lingkungan sekitarnya yang kemudian mereka tuangkan dalam karya-karyanya yang sangat bermanfaat bagi manusia dan lingkungan di sekitarnya yang berawal dari keter-pelan pelan- an. Mereka menggunakan rumus yang pernah disabdakan oleh Rasulullah yang berbunyi, ”Pelan-pelan itu dari Allah sedangkan tergesa-gesa itu dari Setan.”  (Hadits yang diriwayatkan dalam As-Sunan Al-Kubra, 10/104; Dalam As-Silsilah Ash Shahihah, hadits no. 1795.) Rumus itulah yang harus kita amalkan dalam kehidupan kita. Karena di dalam kitab suci pun Allah banyak memuji orang-orang yang sabar. Bahkan Dia meng-klaim bahwa Dia dekat dengan orang-orang yang sabar. Sabar alias tidak tergesa-gesa dalam hal berdoa dan ikhtiar dalam menjalani hidup plus segala derita dan cobaan di dalamnya. Banyak dari kita yang ternyata gagal dalam hal ini. Kita lihat banyak saudara-saudara kita yang tak sabar alias tergesa-gesa tuk menjadi kaya lalu mereka gadaikan iman dan nurani mereka dengan mendatangi dukun, korupsi, murtad, judi dll. Padahal telah nyata akibat dari semua itu ujung-ujungnya adalah derita tak berkesudahan baik di dunia maupun di akhirat kelak. Banyak saudara-saudara perempuan kita yang tergesa-gesa ingin lekas tenar kemudian rela difoto telanjang di majalah dewasa dan kemudian beredar di internet. Ada pula yang ikut-ikutan ajang putri-putrian agar di cap sebagai wanita smart dengan kecantikan luar dalam serta dapat mewakili negaranya di kancah internasional. Padahal “keterwakilan” yang mereka maksud masih dipertanyakan hingga kini. Apakah semua rakyat negeri ini benar-benar rela dan setuju jika diwakili seorang wanita dari negaranya sendiri yang harus selalu rela difoto telanjang dengan dalih tuk melihat kecantikan luar-dalam si kontestan. Ada pula yang tergesa-gesa tuk berkuasa kemudian melakukan kudeta. Yang tergesa-gesa agar lekas menang tender proyek lalu melakukan suap. Dan masih banyak lagi keburukan “tergesa-gesa” yang lain.

Enjoy The Process

Enjoy The Process

Sebenarnya Tuhan hendak mengajarkan kepada kita bahwa tuk mencapai segala sesuatu itu harus dinikmati prosesnya. Dinikmati maksudnya diperhatikan proses tersebut. Karena tak semua hal menjadi baik jika dilakukan secara instan. Inilah sunatullah. Bahkan penciptaan alam ini pun tidak tergesa-gesa.” Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang Telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu dia bersemayam di atas ‘Arsy. dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al A’raaf [07] : 54). Padahal jika Allah berkehendak, alam semesta dijadikan sekejap matapun bisa. Namun Allah ternyata hendak mengajarkan kepada semua makhluknya bahwa proses itu penting. Karena tak semuanya yang cepat itu bagus.

Lantas apakah semuanya memang diharuskan tuk berpelan-pelan? ternyata tidak demikian, karena Islam itu komprehensif, menyangkut seluruh sendi kehidupan. Ada pula yang diperbolehkan dan bahkan juga ada yang dianjurkan dengan kuat oleh Islam agar menyegerakan sesuatu hal-hal tertentu. Seperti memberikan hidangan kepada tamu, merawat mayit, menikahkan anak perempuan, membayar hutang, dan taubat. hal ini seperti sebuah Hadis yang telah diriwayatkan oleh Hatim Al ‘Asham, “Tergesa-gesa adalah dari setan, kecuali dalam 5 hal, yang merupakan sunnah Rasul, yaitu memberikan hidangan kepada tamu, merawat mayit, menikahkan anak perempuan, membayar hutang, dan taubat.”

Slow Please!

Slow Please!

Yang lain? ya tentu masih sangat banyak hal yang memang diperbolehkan untuk disegerakan. Namun perlu kita cermati bersama agar kita lebih kritis kembali menggunakan pemilihan kata-kata yang lebih bijak dalam hal ini. Karena dalam kaidah bahasa Indonesia pun, makna kata menyegerakan dengan mempercepat masih ada perbedaan, tergantung konteks kalimatnya. Cepat masih ada peluang tuk tergesa-gesa. Namun menyegerakan nampaknya lebih arif, karena selama proses mengerjakan sesuatu tersebut sang pelaku masih sempat berpikir lebih jernih alias tidak grusa-grusu membabi buta. Wallahu A’lam. (ms/senyapandaan)

Diseduh Oleh : Musyaf  Senyapena

Diseduh Di      : Senyapandaan