Rok Mini Dan DPR 

Rok Mini Dan DPR

 Parlemen dan Rok Mini ? Apa hubungannya ? Sebenarnya memang tidak terlalu ada keterkaitan di antara keduanya. Berbeda halnya dengan Parlemen dan Korupsi, dua kata itu seolah-olah tak dapat dipisahkan satu sama lain, selayak kembar siam. Namun jika hari ini kita bahas masalah rok mini di Parlemen (DPR) kita, maka itu sah-sah saja. Pasalnya beberapa pekan ini masalah Rok Mini ini tengah mencuat dalam bahasan angggota DPR kita yang terhormat. Apakah layak atau boleh Rok Mini dipakai oleh anggota DPR Wanita saat sedang berada di lingkungan DPR. Mungkin anda dan kita semua akan bertanya-tanya, apakah tidak ada hal-hal yang lebih penting daripada masalah remeh-temeh seperti Rok Mini tersebut. Bukankah masalah korupsi di negeri kita ini sudah sangat banyak dan sangat sulit diberantas hingga ke akar-akarnya. Lantas mengapa para wakil rakyat malah mengurusi masalah cara berbusana wanita. Entahlah, disini saya hanya bisa menduga-duga apa alasan polemik rok mini ini menjadi agak serius dalam pembahasan para wakil rakyat.

***

Kita tentu masih ingat dengan kasus maraknya pelecehan seksual di angkot belakangan ini. Dan kita tentu ingat bahwasannya Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo saat itu juga mengeluarkan statemen bahwa wanita yang memakai pakaian ketat (termasuk Rok Mini) adalah salah satu penyebab maraknya kasus pemerkosaan dalam angkot, selain Foke (Fauzi Bowo) ada juga seorang Bupati di daerah Nanggroe Aceh Darussalam yang mengeluarkan pernyataan hampir serupa. Sontak saja pernyataan tersebut dibalas oleh beberapa wanita yang berdemo di Jakarta menggugat pernyataan 2 pejabat tersebut. Para demonstran yang merupakan pengguna rok mini dalam kesehariannya tersebut menyatakan bahwa yang layak disalahkan adalah mata para lelaki yang sukanya jelalatan dan bukan karena rok mini yang menyebabkan maraknya kasus pelecehan seksual dalam angkot. Kemudian ada pula para aktivis perempuan yang juga merasa tidak terima jika perempuanlah yang salah dalam kasus maraknya pelecehan seksual tersebut. Mereka merasa bahwa kasus ini di-plintir sedemikian rupa guna menutupi kebobrokan para pemangku tanggung jawab di negeri ini yang tidak becus melindungi kehormatan dan kenyamanan masyarakatnya. Termasuk juga tidak mampu menyediakan sarana transportasi massa yang nyaman dan memadai bagi rakyatnya, utamanya perempuan. Para aktivis wanita mempertanyakan bagaimana bisa para wanita yang menjadi korban juga masih dipersalahkan sebagai pemicu timbulnya kasus pelecehan terhadap dirinya akibat cara berpakaiannya.

***

Sebuah Konklusi

DPR VS ROK MINI

DPR VS ROK MINI

Saya di sini sebenarnya tidak terlalu berhak memberikan sebuah solusi dari permasalahan ini. Namun sebagai anak bangsa saya juga berkewajiban urun ide terhadap masalah yang sedang terjadi di negeri tercinta ini. Menurut saya, permasalahan Rok Mini di Parlemen kita harusnya dapat diselesaikan secara cepat dan lebih baik jika tidak ter-ekspos terlalu luas hingga masyarakat mengira bahwa para wakil rakyatnya hanya mengurusi hal yang remeh-temeh macam rok mini. Namun karena sudah terlanjur tersebar luas maka ada baiknya hal itu diselesaikan sebijak mungkin. Saya termasuk yang mendukung dilarangnya Rok Mini di Parlemen. Karena DPR adalah representasi dari rakyat dan lebih luas lagi adalah sebagai garda terdepan citra dari sebuah bangsa. Jika para wakil rakyat cara berpakaiannya kurang sopan dan cenderung seronok, maka wajar saja jika bangsa lain menilai rendah bangsa kita. Sama dengan maraknya kasus korupsi di lingkup parlemen, yang kena imbasnya siapa? Tentu semua rakyat Indonesia. Negara Indonesia dicap negara lain sebagai negara korup juga akibat kelakuan para wakil rakyatnya. Hal ini dalam kaidah Bahasa disebut sebagai Pars Pro Toto alias sebagian untuk semua. Sebagian manusia yang korup maka seluruh rakyat Indonesia dicap sebagai koruptor, mengapa demikian? Karena kita satu negara. Nah, ini juga berlaku untuk kasus rok mini tadi. Kemudian untuk masalah para aktivis yang membela rok mini di atas. Kita harus memandangnya secara luas. Para aktivis tersebut tentu cara berpikirnya sangat sempit. Di dunia ini ada istilah Butterfly Effects yang mana akibat dari kelakuan manusia sekecil apapun pasti akan berdampak kepada manusia lainnya entah saat itu juga atau di lain waktu di tempat yang berbeda. Ini pula yang berlaku dalam kasus Rok Mini. Jika ada wanita yang berpakaiannya sudah sopan dan menutup aurat tapi masih menjadi korban pelecehan seksual, maka ada 3 kemungkinan. Pertama ; memang karena akhlak pelakunya (lelaki) yang rusak dan berniat jahat, kedua ; karena adanya Butterfly Effects tadi, karena si pelaku sering melihat para wanita berpakaian seronok dan telanjang di tempat lain sehingga efek dari hal tersebut terbawa kemanapun dia pergi dan saat menjumpai seorang wanita yang meski berpakaian sangat tertutup sekalipun pikiran kotor akan terus terbayang dalam otaknya, ketiga ; kasus maraknya pelecehan seksual juga akibat dari tidak becusnya penguasa negeri ini menyediakan angkutan rakyat yang memadai bagi rakyatnya yang menjamin kenyamanan, keselamatan, dan kehormatan rakyatnya. Sehingga peluang melakukan kejahatan di dalam angkutan makin besar. Bukankah kejahatan bukan hanya karena ada niat dari pelakunya namun juga karena adanya kesempatan.

***

Menurut saya yang perlu didukung juga adalah adanya pemisahan antara wanita dan pria dalam fasilitas umum yang terkait guna mencegah terjadinya pelecehan terhadap wanita. Ini pula yang diatur dalam Islam guna melindungi wanita.
Dan sebagai penutup dari tulisan ini saya hanya ingin mengangkat kisah masyhur pada zaman Nabi. Dikisahkan dalam hadis nabi bahwa suatu hari ada seorang wanita (budak hitam) datang kepada Rasulullah guna mengadukan hajatnya. Wanita tersebut selama ini mengidap penyakit ayan (Epilepsi). Dia meminta agar Nabi berkenan mendoakannya agar penyakitnya sembuh total. Maka apa jawab Nabi, “Maukah kutunjukkan kepadamu cara agar kau dapat masuk surga?”, si wanita menjawab,” Tentu, ya Rasulullah.” Nabi berkata,”Bersabarlah terhadap penyakitmu maka Engkau akan masuk Surga.” Kemudian Rasulullah menawarkan 2 pilihan kepada si wanita, apakah dia mau didoakan sembuh dari penyakitnya atau bersabar dan dijanjikan surga atasnya. Maka wanita itu memilih tetap bersabar atas penyakitnya agar kelak dapat menggapai surga. Namun ada satu permintaan dari wanita itu kepada nabi agar didoakan ketika dirinya tidak sadar diri saat epilepsinya kambuh supaya auratnya tidak tersingkap yang mengakibatkan dapat dilihat oleh orang lain. Maka Rasul pun mendoakan wanita itu agar saat kambuh auratnya tidak lagi tersingkap alias tetap tertutup. Subhanallah, wanita itu lebih memilih bersabar atas penyakitnya namun tidak ingin auratnya tersingkap saat dia kambuh padahal saat itu dia tak sadarkan diri. Coba kita bandingkan dengan keadaan kita saat ini. Masih banyak wanita yang dengan sadar diri (sekali lagi, dengan sadar diri) menampakkan auratnya secara bangga dengan cara memakai rok mini, hot panths, V Neck, bikini dll di depan umum yang bukan lingkup Mahramnya. Lantas timbul pertanyaan, bisakah para wanita seperti ini masuk surga ? Wallahu A’lam itu urusan Allah. Namun yang jelas Nabi pernah bersabda bahwa ada 2 golongan yang tidak dapat masuk surga bahkan mencium baunya pun tidak bisa. Padahal bau surga itu dapat tercium dari jarak yang sangat jauh. Dan salah satu dari 2 golongan tersebut adalah seorang wanita yang berpakaian namun telanjang. Nah, silahkan simpulkan sendiri Hadis ini.

Mari bersihkan Parlemen dari Korupsi dan Rok Mini agar Indonesia lebih beradab dan mulia. (ms/senyapandaan)

Diseduh Oleh : Musyaf  Senyapena

Diseduh Di      : Senyapandaan