“Perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa”

Keep Your Memory

Keep Your Memory

Demikian kalimat masyhur dari seorang penulis kenamaan asal Ceko, Milan Kundera. Mengapa saya mengutip kata-kata indah tersebut ? Karena saya merasa bahwa apa yang dikatakan oleh Milan Kundera tersebut benar adanya dan sesuai dengan kondisi Indonesia saat ini. Negeri yang terlalu penuh dengan masalah. Kita semua tentu mafhum bahwa negeri ini telah sedemikian parahnya hingga semua permasalahan yang silih berganti menyambangi negeri ini hampir-hampir tak pernah selesai dengan tuntas. Belum selesai kasus yang satu, muncul kasus yang lain. Hingga wajar saja jika para pengamat menjuluki rezim saat ini sebagai maestro pembuat kasus dan jagoan dalam hal pengalihan isu/kasus. Kita tentu ingat dengan kasus besar Bank Century yang menghabiskan uang negar sekitar 6,7 Triliun Rupiah. Apakah kasus tersebut sudah selesai teratasi. Belum, bukan. Alih-alih selesai, kasus yang menyeret sejumlah nama besari negeri itu seperti telah di peti-es kan. Tidak lagi terdengar rimbanya. Banyak yang menduga bahwa kasus Century ini memang sengaja dibuat agar tidak tuntas karena implikasinya sangat besar. Mengapa demikian? Karena banyak nama besar yang akan benar-benar hancur karirnya jika kasus ini benar-benar digarap serius. Tidak hanya pemilik bank yang menjadi terdakwa, tak tanggung-tanggung, bahkan seorang pejabat yang saat ini menjabat sebagai wakil presiden dan seorang mantan Menteri Perekonomian yang kini menjadi petinggi Bank Dunia juga didakwa sebagai aktor intelektual di balik kasus besar tersebut. Maka menjadi wajar jika kasus ini sengaja ditutup dengan cara perlahan-lahan membuat rakyat lupa dengan memunculkan kasus-kasus baru yang tak kalah membuat pusing otak rakyat.

Itulah hebatnya penguasa, kawan. Ingat sekali lagi, “Perjuangan melawan kekuasaan (penguasa) adalah perjuangan melawan lupa.” Oh iya, sekedar mengingatkan bahwa dalam kasus Century tersebut sementara hanya Robert Tantular sang pemilik Bank saja yang ditahan, sedangkan 2 aktor intelektual yang paling besar andilnya dalam kasus itu (seperti yang kita tahu) masih bebas berkuasa hingga saat ini.

***

Kasus yang sedang hangat sekarang adalah kasus korupsi besar yang sedang menghantam sebuah partai besar yang sedang berkuasa saat ini. Mulai dari kasus Wisma Atlet, Hambalang, kasus gratifikasi seorang kadernya yang kini mempopulerkan “Apel Malang” dan “Apel Washington”, kasus Nazarudin, kemudian ada juga kasus Nunun Nurbaeti dan Miranda S. Goeltom dalam kasus cek pelawat pemilihan Gubernur BI dan seabrek kasus besar lainnya. Semua kasus tersebut hingga kini masih sedang dalam proses peradilan dan tidak ada yang bisa menjamin kapan selesainya. Karena seperti yang sudah-sudah, banyak kasus yang saking lamanya berjalan hingga rakyat jenuh dan dibuat lupa akan kasus-kasus tersebut. Di sini selain peran penguasa yang jago menutup kasus di tengah jalan dan ahli mengalihkan isu, peran media juga ternyata sangat besar. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa rakyat tahu akan kasus-kasus yang sedang hangat di pusat kekuasaan di Jakarta juga dari Media Massa. Dan sebaliknya banyak pula dari kasus-kasus tersebut yang pada akhirnya terlupakan karena rakyat tidak dapat memantau lagi perkembangannya sebab media massa sudah tidak lagi mengabarkannya. Nah, dari sini kita dapat mengambil sebuah kesimpulan besar, sekali lagi kesimpulan besar, bahwa diakui atau tidak otak kita saat ini memang telah dikontrol media. Karena penguasa sejati dari sebuah negara sebenarnya adalah media. Merekalah para pembentuk opini rakyat. Media dapat membuat yang benar jadi salah dan sebaliknya yang salah dijadikan benar pun tidaklah sulit bagi media. Maka dari itu, di era informasi yang berkembang pesat ini (dengan berkembangnya internet), kita sebagai rakyat harus pintar-pintar menyaring berita dari sebuah media massa. Karena media itu berpihak. Memang benar jika media mengklaim berpihak kepada kebenaran, namun terkadang hal itu hanya berlaku pada tataran jargon semata. Karena di lapangan terkadang sangat berbeda.

Banyak contoh kasus dari “kenakalan” media-media tersebut. Salah satunya adalah ketika ada seorang agamawan (Aa’ Gym) memilih berpoligami, maka serta merta media memberitakannya dalam headline mereka. Namun anehnya banyak ulasan dari media terhadap poligami Aa’ Gym tersebut yang tendensius dan terkesan memojokkan sang Ustadz sebagai lelaki yang tega menduakan istrinya. Poligami dianggap mencederai keadilan bagi wanita. Dan anehnya lagi dari kasus Aa’ Gym tersebut, ada sebuah media (infotainment) yang melakukan wawancara terhadap seorang pengacara terkenal (sebut saja FA) yang merupakan istri dari penyanyi lawas Nia Daniaty. Yang aneh dari opini sang pengacara itu adalah, dia mengecam poligami yang dilakukan sang Ustadz dan menganggapnya sebagai bentuk penghianatan kepada harga diri wanita yang menurutnya semua wanita anti dimadu. Opini semacam itu memang sah-sah saja di republik yang menjamin kebebasan berpendapat ini. Namun yang aneh, sang pengacara itu tidak berkaca diri terlebih dahulu. Padahal selang beberapa waktu sebelum kasus poligami yang dilakukan secara Gentle oleh Aa’ Gym tersebut, si pengacara itu tengah tersandung kasus perselingkuhan dengan seorang janda yang membuat sang istri, Nia Daniati, melayangkan gugatan cerai namun pada akhirnya karena mediasi dan pernyataan maaf dari si pengacara tersebut perceraian itu urung terjadi. Nah, dari sini kita sebagai rakyat yang cerdas seharusnya mampu membandingkan. Manakah yang lebih menyakiti wanita, poligami secara gentle dan disetujui oleh istri pertama beserta keluarga ataukah perselingkuhan di belakang istri yang tentunya merupakan tindakan pengecut sejati.

Hal tersebut saya sarikan dari opini Bu Sirikit Syah, seorang pakar praktisi Media di sebuah majalah Islam. Karena saya yakin pendapat yang selayak Counter Attack tersebut sangat sedikit peluangnya tuk dimuat di media massa mainstream di negeri ini karena tidak sesuai selera keredaksiaan mereka. Dari sini saja kita telah mampu menilai bagaimana cara kerja media kita saat ini. Apa yang sesuai selera mereka maka akan diekspos sebesar mungkin meski dan yang tidak sesuai maka jangan harap akan terliput. Contoh kasus hangat dari kelakuan media yang seperti ini terjadi beberapa minggu lalu dimana saat ada 60 massa dari golongan homo, lesbi, bencong, waria dan para aktivis Liberal berdemo menuntut pembubaran sebuah Ormas Islam yang mereka cap radikal maka saat itu hampir semua media massa meliputnya bahkan ada sebuah stasiun televisi yang menyiarkannya secara langsung. Lantas ketika beberapa hari kemudian tepatnya pada hari Jum’at (09/03/2012) sekitar 2 ribuan umat Islam dari berbagai ormas melakukan demo tandingan dengan tema utama Indonesia Tanpa JIL/ Indonesia Tanpa Liberal, maka tak satupun media meliputnya kecuali hanya media-media Islam. Mengapa demikian, karena menurut Habib Rizieq Shihab yang turut memimpin demo tersebut, mereka tidak akan diliput televisi saat demo karena 2 ribuan lebih umat Islam yang demo tersebut bukan dari kaum bencong, homo, waria dan lesbi sehingga suara mereka tak akan didengar. Ternyata 2 ribu-an orang berbanding dengan 60 aktivis Liberal, masih menang yang 60 orang tersebut. Inilah salah satu contoh nyata keberpihakan yang dimaksud oleh media-media kita. Keberpihakan tersebut nampaknya bukan kepada kebenaran an sich namun lebih kepada kepentingan sang pemilik media. Maka mulai saat ini jika masih menginginkan berita yang berimbang dan benar-benar dapat dipercaya, ada baiknya kita mencari berbagai sumber berita alternative sebagai pembanding. Karena jika tidak maka selamanya kita akan dikendalikan oleh media. Bukankah yang bisa menguasai media maka dia pula akan menguasai dunia.

Sekarang izinkan saya bertanya, siapakah yang menguasai media kita. Tentu jawabannya bisa beragam. Namun saya yakin pendapat anda akan sama dengan pendapat saya jika kita melihat 2 media televisi besar saat ini yang menjadi sumber referensi masyarakat negeri ini dalam mendapatkan berita. 2 channel TV tersebut menjadi yang terdepan dalam kancah pewartaan, yang satu milik seorang pengusaha besar yang juga ketua umum partai besar yang dulu pernah berkuasa 32 tahun. Bukan hanya TV, namun beberapa media online juga berafiliasi kepada grup media miliknya, termasuk 1 channel TV lain. Yang ke- 2 adalah TV nasional yang saat ini pemimpin umumnya juga membentuk sebuah partai besar yang terus berkembang. Media ini juga memiliki media berita cetak dan online dan ini masih pula ditambah bergabungnya pemilik grup media besar lain yang membawahi setidaknya 3 Stasiun TV Nasional dan beberap a TV Lokal. Hal ini kar ena si bos grup media itu  juga bergabung dalam jajaran petinggi partai baru tersebut. Nah, inilah yang dikhawatirkan oleh para pengamat media. Akankah media mereka yang notabene adalah media terdepan di negeri ini masih akan dapat bersikap netral dalam mewartakan berita. Atau jangan-jangan akan dijadikan sebagai alat politik para bos nya. Apalagi jika kelak mereka berhasil menduduki kursi Pemerintahan. Entahlah, yang jelas mulai saat ini marilah mulai kritis dan cerdas mencari berita agar kita tidak dipermainkan oleh media.

***

Sebenarnya tidak semua media itu buruk, karena tidak dapat dipungkiri bahwa kita juga berhutang budi kepada media massa. Karena tanpa peran mereka, asupan informasi juga akan sulit kita terima. Saya jadi teringat dengan pernyataan Habib Rizieq Syihab saat terjadi kasus percobaan pembunuhan kepada para pengurus pusat Ormas yang dipimpinnya di Bandara Tjilik Riwut beberapa pekan lalu. Pasca kejadian itu, sang Habib yang dikenal tegas ini selain mendatangi Mapolda Metro Jaya guna melaporkan kasus tersebut, beliau juga mendatangi kantor Kemenag (Kementerian Agama RI) guna mengklarifikasi kasus itu dan melakukan dialog dengan para pengurus Depag sebagai institusi negara yang membawahi masalah agama. Setelah keluar dari gedung Kemenag, para wartawan menyerbu beliau tuk wawancara. Namun apa jawab beliau, sang Habib dengan tegas namun santun dengan mengucapkan kata maaf  terlebih dahulu,  berkata kepada para awak media tersebut bahwa dia tidak mau diwawancarai untuk saat itu. Hal itu dilakukan bukan karena tidak menghargai atau meragukan wartawan, namun beliau tidak percaya kepada para bos wartawan-wartawan itu (pemilik modal di media-media tersebut) karena berita-berita yang telah dikumpulkan sedemikian lengkap oleh para kuli tinta di lapangan nyatanya banyak yang dipotong-potong sesuai selera pemilik media melalui tangan redakturnya. Hal inilah yang sering dialami FPI yang selalu saja menjadi bulan-bulanan media. Demikian alasan sang Habib kandidat Doktor Pemikiran Islam dari Universiti Malaya, Malaysia tersebut. Alasan dari Habib Rizieq itu jika dinalar memang ada benarnya juga. Ambil contoh kasus terbaru FPI yang dihadang di bandara Tjilik Riwut dengan ancaman pembunuhan terhadap para pengurus pusat FPI tersebut, mereka jadi korban Rasisme dan Fasisme di tanah airnya sendiri, Republik Indonesia, saat hendak menebarkan risalah dakwah yang sebenarnya diberi kebebasan di negeri ini. Namun apa yang terjadi, oleh media kasus itu dipermak total sehingga FPI yang semula adalah korban tiba-tiba dijadikan tersangka dan minta agar dibubarkan. Perlakuan yang berbeda malah dialami para pelaku Fasisme tersebut, mereka toh aman-aman saja tanpa ditindak hukum. Nah, itulah hebatnya media massa. Membuat korban menjadi tersangka. Mampu membuat orang baik-baik tercemar namanya. Mampu mengangkat karier artis setinggi langit dalam hitungan sekian waktu dan saat itu juga mampu menjatuhkannya kembali. Poligami diributkan, perselingkuhan diberitakan sebagai kekhilafan. Masih ingat juga kan kasus video porno penyanyi dan artis besar tempo hari.  Dalam ksus itu hanya aktornya saja yang dibui, sedangkan si lawan main yang juga kekasih si penyanyi itu kini masih bebas melenggang di luar. Hanya beberapa bulan saja dia mengundurkan diri dari dari dunia ke-artis-an karena masyarakat menolaknya. Namun kini, setelah masyarakat dibuat lupa dengan kasus yang sempat heboh tersebut, artis tersebut kembali berkiprah di dunia yang sejenak dia tinggalkan itu. Bahkan sebuah produk pewangi (parfum khusus pria) kini memakainya sebagai bintang iklannya dengan tag line KETIKA BIDADARI LUPA DIRI. Entahlah yang lebih pantas sebenarnya apakah BIDADARI LUPA DIRI. Atau BIDADARI TAK TAHU DIRI. Sekali lagi, itulah hebatnya media dan itu pulalah lemahnya kita yang sering kalah melawan “penguasa” republik ini, ingat “Perjuangan melawan kekuasaan (penguasa) adalah perjuangan melawan lupa.” Dan penguasa itu termasuk media masa kita. Jadi mulai sekarang mari kita lebih kritis, cerdas, dan bijak memilih dan memilah berita. Tak ada kata boikot media karena itu tidak sesuai kaedah kebebasan berpendapat, berekspresi dan hak memperoleh informasi. Yang ada hanyalah kewaspadaan kita dalam menyaring konten dari berita-berita yang beredar. Karena tak semuanya bernilai benar dan shahih. Hal ini sesuai anjuran dari kitab suci yang berkata,“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurot[49]:6) .
Semoga mulai sekarang kita lebih bijak dalam menyaring konten berita. Ingat, hak kita memperoleh informasi yang sehat dan faktual. Jangan bersikap pasrah terhadap berita di media-media massa, kritis dan aktiflah mencari berita pembandingnya agar dapat disimpulkan berita manakah yang benar-benar berguna dan sesuai kenyataan tentunya. Dan yang terakhir, janganlah kita bosan mengingat-ingat berbagai kasus besar tanah air dan selalu menyuarakan agar kasus tersebut tidak ditutup dan harus dikhatamkan secara tuntas. Karena jika tidak, maka negeri ini lama-lama hanya akan menjadi negeri para pelupa. Wallahu A’lam. (ms/senyapandaan)

Diseduh Oleh : Musyaf  Senyapena

Diseduh Di       : Senyapandaan