Marhabban Ya Ramadhan Mubarrak

Alhamdulillah sebentar lagi Ramadhan, meski diperkirakan akan ada sedikit perbedaan awal puasa (seperti yang sudah-sudah), namun diharapkan semua umat Islam dapat menyikapinya dengan bijak, demikian para Ulama kita berujar. Seperti pada tahun-tahun yang lalu, di Indonesia ini ada sebuah fenomena yang sangat unik tuk dicemati di saat Ramadhan, selain kenaikan harga sembako akibat ulah nakal para spekulan tentunya. Fenomena apakah yang saya maksud ? mungkin kita semua hampir sepakat, fenomena media kita. Bulan Ramadhan yang selalu dikoar-koarkan sebagai bulan suci nan mulia tak ubahnya hanyalah sebuah pemanis bibir media semata. Ini fakta, kita lihat saja beberapa minggu sebelum Ramadhan menjelang, media kita memberikan “warning”  melalui iklan-iklan yang mereka tampilkan berupa produk sarung, sirup, tayangan televisi khusus ramadhan dll. Dan yang terakhir disebut inilah yang perlu kita kritisi bersama – Tayangan televisi  – .

Negeri ini nampaknya saat ini memang milik para Dagelan dan Biduan. Betapa tidak, tiap hari mulai pagi hingga menjelang pagi pasti akan kita dapati wajah-wajah para mereka yang berprofesi sebagai biduan dan dagelan. Apakah itu salah ? Jelas tidak, karena itu HAM dan kebebasan media. Namun jika setiap waktu masyarakat kita disuguhi “fatwa-fatwa” 2 kaum profesi tersebut, dikhawatirkan masyarakat kita hanya akan menjadi masyarakat pragmatis dan bermental “Hura-Hura”  semata. Mereka akan lebih suka hiburan daripada Pelajaran dari tuturan para Cendikia. Ciri bangsa yang sakit dan resah adalah bangsa yang lebih suka hiburan (guyonan dan nyanyian) daripada pelajaran dari para cendikiawan dan agamawan. Lebih doyan tontonan daripada tuntunan. Secara logika, bukankah ini mengindikasikan bahwa bangsa kita memang telah sakit. Sehingga panggung-pentas-podium-media hiburan akan lebih dicari daripada taman-taman ilmu dan hikmah. Dan khusus menyikapi Ramadhan kali ini, keresahan semacam ini tentu makin wajar.

Seperti yang dilansir Hidayatullah.com (Senin, 16 Juli 2012), Menteri Agama  Suryadharma Ali  juga mencemaskan tayangan-tayangan televisi selama Ramadhan. Dia menduga kuat tayangan televisi selama Ramadhan masih didominasi acara guyonan atau lawak. Dia menilai bahwa acara-acara tersebut kurang produktif untuk kekhusyukan umat Islam yang sedang menjalankan puasa. Potensi kemunculan tayangan dagelan-dagelanan berkedok siraman rohani, menurut Menag, muncul karena muatan bisnis yang cukup kental. Dia meyakini acara-acara ini dari kacamata rating masih sangat menggiurkan bagi pemasang iklan. Dia juga menambahkan, seharusnya tayangan televisi selama Ramadhan lebih menonjolkan tayangan-tayangan siraman rohani. Tayangan rohani yang dimaksud adalah yang benar-benar pengajian. Penceramah-penceramah yang selama ini identik dengan lawakan, diharapkan bisa lebih memberi siraman rohani.Demikian Menag menggarisbawahi. Kecemasan sang Menteri Agama ini memang ada benarnya. Fakta di TV kita, acara humor, belanja, sinetron yang diembel-embeli khas ramadhan dan semua yang serba berlawanan dengan kesucian bulan Ramadhan porsi tayangnya lebih besar daripada acara-acara pengajian. Bahkan di saat Prime Time menjelang berbuka puasa pun, porsi dakwah paling banter biasanya 7 menit (berlabel KULTUM). Masih kalah dengan acara-acara humor parodi, ngabuburit dan kuis-kuisan. Saya tak hendak memukul rata semua stasiun TV kita seperti itu. Namun bukankah mayoritas faktanya memang seperti itu.

Menilik fenomena ini, ada sesuatu yang unik, kalo hadis Nabi mengatakan bahwa Ramadhan di awalnya akan kita jumpai Rahmat Allah, pertengahannya kita jumpai ampunan Allah dan di akhirnya akan kita temui jaminan pembebasan dari api neraka. Nah kalo TV kita beda lagi, selama puasa nanti pada awal puasa kita akan jumpai dagelanan, di pertengahannya masih bertemu lawakan, dan pada akhir ramadhan bahkan hingga akhir hari raya, kita akan tetap setia ditemui oleh dagelanan lagi. Dan hebatnya lagi, hal itu terjadi hampir 24 jam penuh mulai dari sahur hingga buka dan menuju sahur kembali. Inilah uniknya negeri Muslim terbesar di dunia ini. Ironis, semoga ada pelajaran yang dapat kita ambil dari unek-unek ini. Salam. (Musyaf  Senyapena)

Bahan Racikan :

(http://www.hidayatullah.com/read/23699/16/07/2012/menag-kritik-acara-tv-saat-ramadhan.html)