Toleransi Islam

Toleransi Islam

Hari ini satu hari mendekati hari Natal. Banyak kita saksikan kaum Kristen sibuk dengan berbagai keperluan menghadapi hari raya mereka tersebut. Unik, di negeri yang dihuni mayoritas Muslim ini semarak Natal tak kalah bahkan lebih meriah dari 2 hari raya umat Islam. Mulai dari acara televisi, hingga kesibukan pusat-pusat perbelanjaan tak mau ketinggalan tuk ikut menyemarakkannya. Hal ini sangat lumrah kita saksikan di sekitaran kita. Karena Indonesia ini memang sebuah rumah besar yang dihuni mayoritas Muslim “Moderat”. Jadi kegiatan apapun yang berhubungan dengan perayaan keagamaan akan didukung oleh pemerintah Republik ini dan dipersilahkan oleh masyarakat luas dengan dalih toleransi beragama.

Namun yang menjadi masalah adalah jika toleransi itu terlampau kebablasan. Seperti adanya ajakan untuk melakukan Natal bersama dan doa lintas agama.Kami umat Islam jelas dilarang untuk mengikuti ajakan tersebut. Meskipun ada himbauan dari pengurus PBNU Pusat yang menyatakan bahwa iman warga NU (Mayoritas di Negeri ini) tidak akan luntur hanya dengan mengucapkan selamat Natal kepada teman-teman kita dari kalangan Kristen. Dan meskipun pak Kyai tersebut dapat menjamin akidah kita tidak akan terganggu, namun kami toh harus lebih patuh kepada Tuhan kami yang melarang hal itu. “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan:“Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga.” Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (QS Al-Maidah Ayat 73).

Dan mengucapkan selamat Natal itu sendiri adalah sama juga dengan kami mengatakan dan mendukung bahwa Tuhan itu beranak dan salah satu dari 3 oknum. Padahal inilah pokok Akidah kami yang mana kami dilarang menyekutukan Allah dengan siapapun dan apapun. Seperti yang sudah dihafal oleh setiap muslim dari anak-anak hingga orang dewasa dalam surah Al Ikhlas yang memproklamirkan sebuah puncak teringgi bentuk Ketauhidan seorang manusia. Bahkan ada ultimatum keras dari Tuhan yang menyatakan, “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al-Masih putera Maryam.” (QS Al-Maidah Ayat 17 ). Maka dari itu semua harap dimaklumi jika kami enggan dan tidak mau ikut-ikutan dalam perayaan-perayaan agama lain, karena bagimu agamamu dan bagiku agamaku adalah sebuah Credo yang telah kami pegang kuat semenjak berikrar sebagai seorang Muslim. Maka keterlibatan kami dalam hal toleransi beragama adalah cukup dengan tidak mengganggu kegiatan-kegiatan tersebut.

Masalah Toleransi

Jika kami dituduh tidak toleran dengan keyakinan kami ini. Maka kami dapat membantahnya dengan halus. Umat Islam di Indonesia ini adalah Muslim yang paling toleran di dunia. Anda dapat lihat, meskipun Islam mayoritas di negeri ini namun toh hari libur nasional tiap pekan malah jatuh pada hari Minggu (hari “suci” nya kaum Kristen) dan bukan hari Jum’at (Hari “suci”nya umat Islam. Di hari Minggu kaum Kristen dapat beribadah dengan tenang dan serba bersih karena persiapan ibadah mereka lebih leluasa di hari libur. Sedangkan Muslim saat menunaikan Sholat Jum’at banyak dari mereka yang pakaiannya bercampur debu, keringat dll karena saat itu mereka sedang dalam waktu hari kerja efektif. Ini fakta, bukan. Penanggalan Nasional pun menggunakan penanggalan Masehi dan bukan Hijriah. Hukum Positif dan undang-undang di negara kita juga banyak yang masih warisan dari kolonial Belanda yang notabene Protestan. Sedangkan untuk menerapkan Hukum Islam secara Formal saja sangat sulit di negeri ini karena dibenturkan dengan ideologi dasar negara yang berupa Pancasila. Padahal jika kita konsisten dengan amanah konstitusi kita, maka hukum warisan Penjajah Belanda tersebut malah bertentangan dengan Preambule UUD 45 yang sangat mengutuk keras penjajahan dan watak penjajah itu sendiri termasuk produk hukum penjajah. Dan masih banyak lagi contoh yang lain. Toh dari semua itu, Muslim Indonesia tetap patuh kepada semua aturan negara dan bertoleransi dengan semua Paradoks yang kami sebutkan di atas. Apakah masih kurang Toleran Muslim Indonesia ini. Dan untuk menutup tulisan ini maka kutipan dari Penyair dan Pemikir Islam kontemporer, Muhammad Iqbal, berikut mungkin dapat  mewakili sikap kami. Beliau mengatakan, “Toleransi yang benar timbul karena keluasan Intelektual dan pengembangan Spiritual. Itulah Toleransi orang kuat secara spiritual yang sembari tetap menjaga batas-batas keyakinannya sendiri, dapat menerima dan bahkan memahami segala bentuk keyakinan yang berbeda dengan keyakinannya sendiri.”

Demikian semoga dapat menjadi perenungan bersama. “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.” (QS.Al Kafirun).(ms)
Diseduh Oleh : Musyaf Senyapena
Diseduh Di      : Senyapandaan