Stop Tayangan Tak Bermutu

Stop Tayangan Tak Bermutu

Pernahkah anda merasa jenuh atau bahkan muak dengan tayangan TV di negeri ini. Secara jujur mungkin kita semua banyak yang merasakannya. Tayangan – tayangan yang dapat membuat kita malas menonton, toh sangat banyak di negeri ini. Mulai acara infotainment yang kurang mendidik dan menyebarkan budaya pop dan permisiv (serba boleh), sinetron yang bertema Monothon dan parahnya lagi ditayangkan setiap hari dan di saat Prime Time pula. Acara-acara music di pagi hari yang juga kadang kurang layak ditonton generasi muda dan masih banyak lagi tayangan-tayangan sejenis yang harusnya selalu kita kritisi. Banyaknya tayangan tak bermutu di negeri ini bukanlah isapan jempol belaka. Menurut Henny Supolo, Penggiat Pendidikan, tujuan undang – undang Nomor 32 Tahun 2002 mengenai penyiaran adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa (seperti amanah pembukaan UUD 45). Dan hal tersebut harusnya menjadi acuan kegiatan penyiaran. Bukan malah dengan menjadikan peringkat acara sebagai acuannya. Menurut Henny – pada acara Indonesia Broadcasting Expo 2013 (IBE), Kamis (18/04) di Jakarta- stasiun TV hendaknya menghindari tayangan yang mengumbar kekerasan, diskriminasi, dan pelecehan.

Di lain pihak, Ade Armando, anggota Dewan Pakar Panitia Kerja Rancangan Undang – undang Penyiaran, menyatakan bahwa preferensi tayangan TV saat ini hanya ditentukan 2 faktor utama, yaitu Orientasi bisnis dan kepentingan Politis semata. Tayangan yang muncul berupa acara yang sensasional dan mendongkrak imaji politis si pemilik TV (seperti pencitraan para calon presiden yang banyak muncul terutama di TV yang kebetulan merupakan milik si tokoh). Sedangkan anehnya di lain sisi, konten berita dikurangi, tayangan talk show dan acara documenter yang merupakan sebuah potret nyata suatu kisah yang mendidik juga dihilangkan. Seharusnya stasiun TV tidak menyiarkan tayangan tak mendidik terutama pukul 07.000- 21.00 yang merupakan waktu utama keluarga berkumpul. Karena di Amerika yang Liberal saja Stasiun TV masih diwajibkan oleh hukum untuk menayangkan 10 persen tayangan edukatif dari keseluruhan tayangan yang diprogramkan, demikian pendapat Ade Armando.

Mahfud MD sang mantan ketua MK yang juga menjadi narasumber dalam IBE 2013 tersebut, menyatakan keprihatinannya pada banyaknya tayangan tidak edukatif di TV. Banyak adegan dewasa yang vulgar tertayang tanpa memperhitungkan kemungkinan acara seperti itu potensial ditonton anak-anak. Tokoh asal pulau garam yang mengaku hobi nonton acara lawak seperti OVJ dan Bukan Empat Mata tersebut juga mengusulkan perlunya disusun sebuah perangkat hukum untuk pengawasan dan mensyaratkan penambahan tayangan edukatif. Perangkat hukum dapat diupayakan oleh KEMENINFOKOM berupa Peraturan Menteri. Dan sebelum perangkat itu tersusun, sementara diperlukan usaha pengawasan dari KPI untuk menilai materi penyiaran.

Dari kesimpulan pendapat para tokoh yang berkompeten tersebut kita menjadi tahu bahwa memang tayangan mendidik di negeri ini sangat minim sekali, hal ini salah satunya juga diakibatkan oleh para pihak pemasang iklan yang kurang berminat memasang iklannya pada acara-acara edukatif yang sayangnya di negeri ini masih rendah peringkat minat ditontonnya. Padahal hal itu jelas – jelas merupakan sebuah penghianatan terhadap tujuan undang – undang Nomor 32 Tahun 2002 mengenai penyiaran yang berfungsi tuk mencerdaskan kehidupan bangsa seperti amanah UUD 45. Dan dari sini juga kita menjadi tahu kenapa tayangan perseteruan paranormal berbini 9 dengan mantan muridnya, serta acara-acara perceraian artis dan sinetron tak mendidik namun menjanjikan imaji yang menggiurkan benak, selalu diputar tanpa henti, karena disitulah minat pemasang iklan lebih tinggi dibanding dengan acara-acara edukatif yang sepi peminat. Maka, mari bersama bijak memilih tayangan dan tak segan dan tanpa bosan mengkritisi tayangan tak bermutu di negeri ini. Agar generasi Indonesia mendatang dapat terselamatkan. Semoga. (ms)

Diseduh Oleh : Musyaf  Senyapena
Diseduh Di      : Senyapandaan

Sumber            : Kompas, 19 April 2013