Usamah Bin LadenMengejutkan, itulah hal pertama yang saya rasakan saat kali pertama membaca sebuah berita yang diturunkan laman hidayatullah.com mengenai sisi lain kematian Usamah Bin Ladin yang selama ini dinyatakan tewas oleh serangan pasukan NAVY SEALS AS. Karena ternyata ada sebuah pandangan baru mengenai kisah kematian sosok fenomenal tersebut. Hal itu terungkap dalam hasil wawancara Gulf News dengan salah seorang warga Mesir mantan pengawal Bin Ladin, yang dipublikasikan pada hari Senin (27/5/2013). Dalam wawancara itu, tokoh salah satu kelompok Islam itu juga menceritakan bagaimana manjanya tentara Amerika Serikat dan mengomentari beberapa isu di Mesir terkait dengan Al-Qaidah. Tokoh bernama Nabil Naim Abdul Fattah, mantan pemimpin Jihad Islam Mesir (1988-1999) itu mengatakan bahwa Usamah bin Ladin tidak tewas karena ditembak mati oleh pasukan khusus Amerika Serikat SEALS dalam ‘Operasi Geronimo’, melainkan karena Bin Ladin sendiri yang meledakkan diri ketika pasukan AS melancarkan serangan ke rumah persembunyiannya di Abottabad, Pakistan, pada 2 Mei 2011.

“Cerita tentang pemakaman Bin Ladin di laut itu meragukan. Presiden Amerika Serikat Barack Obama berbohong ketika dia mengatakan bahwa Bin Ladin dikubur di laut. Bagian tubuh Bin Ladin tercerai-berai, seperti [tubuh pelaku] serangan bom bunuh diri, jadi tidak meninggalkan jejak bagi AS untuk mengidentifikasinya,” kata Abdul Fattah. Abdul Fattah yang pernah menjadi pengawal pribadi Bin Ladin ini  mengaku bahwa dirinya tidak berada di Abotabad saat peristiwa itu terjadi. Namun, dia mengatakan mendengar apa yang terjadi dengan Bin Ladin dari saudara salah satu keturunan milyuner Arab Saudi itu. Dia membenarkan bahwa pemimpin Al-Qaidah itu sepanjang waktu mengenakan sabuk berupa bom selama sepuluh tahun sebelum kematiannya dan bertekad tidak akan menyerahkan dirinya kepada Amerika Serikat.

“Intelijen AS merencanakan untuk menangkapnya hidup-hidup, tetapi mereka salah perhitungan. Dia meledakkan diri agar tidak ditangkap. Dan juga, dia ingin menyimpan rahasia-rahasianya sampai mati dan dia punya banyak sponsor dari negara-negara Teluk yang mengiriminya uang. Dia ingin menyelamatkan mereka dari segala macam kesulitan. Dia bersumpah di depan Ka’bah untuk menjaga semua rahasianya sampai mati,” kata Abdul Fattah.

Pria asal Mesir itu juga menyoroti kemungkinan bahwa salah seorang pendukung Bin Ladin ada yang berkhianat.

“Sulit untuk menyusup ke dalam lingkaran terdalam sekitar Bin Ladin. Pengawal-pengawal pribadinya hanyalah orang-orang Yaman atau Saudi yang tidak akan bisa disogok oleh pihak musuh manapun,” tegas Abdul Fattah.

Abdul Fattah lalu menjelaskan bagaimana Amerika Serikat akhirnya bisa menjangkau Bin Ladin.

“Seorang saudara laki-laki dari seorang tahanan warga Kuwait yang berasal dari Pakistan di Teluk Guantanamo, dulu dekat dengan Bin Ladin. Orang itu pernah muncul di Kuwait pada tahun 2008, saat CIA meminta pihak berwenang Kuwait tidak menahan orang itu atau melacaknya. Orang itu kerap mengunjungi keluarganya dan pergi ke Pakistan dengan paspor palsu. Intelijen AS memantau teleponnya dan menyadap semua pembicaraannya untuk mengetahui semua kontaknya. Mereka (AS) kemudian mengetahui bahwa pria itu biasa mematikan telepon selulernya di suatu tempat tertentu di mana mereka tidak bisa melacaknya lagi.”

“Setelah berbulan-bulan memantau orang itu, Amerika gagal menemukan rumah Bin Ladin. Mereka kemudian mengatur sebuah kampanye vaksinasi massal untuk melindungi anak-anak dari cacar air. Saat mereka menemukan anak-anak Arab di suatu daerah, mereka kemudian memeriksa DNA-nya untuk mengetahui asal-usul garis keturunannya. Begitu mereka mengetahui Bin Ladin dan keluarganya ada di suatu tempat di Abottabad, mereka memutuskan untuk menyerbu tempat itu.”

“Bin Ladin dan orang-orangnya mempertahankan diri mereka sendiri. Mereka menembaki helikopter yang mengangkut unit pasukan khusus AS. Saat SEAL membunuh dua orang pengawalnya dan menembak pahanya, dia kemudian mengaktifkan sabuk peledaknya,” cerita Abdul Fattah tentang saat-saat terakhir kehidupan Bin Ladin.

Abdul Fattah menuntaskan ceritanya tentang kematian Bin Ladin dengan merujuk sebuah sumber yang dekat dengan salah seorang pengawal Bin Ladin yang terbunuh. Dia menolak untuk menyebutkan nama orang tersebut, dengan alasan untuk melindunginya.

Abdul Fattah berkata bahwa “suatu hari nanti isteri Bin Ladin akan menceritakan kisah itu.

***

“Jika kita berhasil menarik Amerika ke kubang Afghanistan, maka kita akan bisa melakukan apa-apa yang belum pernah dilakukan sebelumnya,” kata Abdul Fattah mengulangi ucapan Bin Ladin saat di Mekkah dahulu.

“Di kalangan orang-orang yang pergi ke Afghanistan dan memerangi USSR [dulu Uni Soviet sekarang Federasi Rusia-red], kami biasa mengatakan bahwa orang-orang Amerika itu gila. Mereka melihat dan menyaksikan bagaimana Soviet dipermalukan dan pergi. Orang-orang Soviet lebih gigih ketimbang orang Amerika. Prajurit Soviet mau minum air dari comberan, sementara tentara Amerika akan menangis jika air mineral mereka diambil. Mereka bahkan menggunakan air mineral untuk mandi. Orang-orang Rusia kebalikannya, mereka akan meminum air selokan yang mengalir ke jalan-jalan,” papar Abdul Fattah menceritakan lembeknya mental tentara Amerika Serikat.

“Malangnya, apa yang dikatakan Bin Ladin justru menjadi kenyataan, karena Allah memberikan Amerika seorang presiden yang sangat bodoh [George W. Bush] yang mengirim orang-orang Amerika ke Afghanistan, di mana mereka akan dikalahkan,” kata Abdul Fattah, menyindir Amerika.

“Kalian akan dikalahkan, bukan karena kalian memerangi Taliban, tetapi karena kalian melawan geografi, dan tidak ada orang yang bisa mengalahkan geografi.” kata Abdul Fattah kepada seorang penasehat media Presiden Obama yang bertemu dengannya di Mesir dalam sebuah konferensi pers tahun 2012 lalu.

***

Mengenai Ayman Al-Zawahiri sang pengganti Bin Ladin, Abdul Fattah menilainya belum memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin Al-Qaidah yang efektif menggantikan Usamah bin Ladin. Dia juga menilainya cuma omong doang.

“Yang dia (Ayman Al-Zawahiri) lakukan hanya mengirimkan pesan yang direkam dan saya secara pribadi mengetahui sosoknya. Dia tidak memiliki karisma dan kesungguhan. Dia mudah terombang-ambing dengan pendapat orang lain. Lima atau enam orang ada disekelilingnya untuk memberitahukan apa yang harus dilakukannya. Dia bukan Bin Ladin. Ada perbedaan yang sangat besar di antara mereka.”

“Ketika Muhammad Al-Zawahiri [saudara laki-laki Ayman Al-Zawahiri] dibebaskan dari penjara setelah revolusi Mesir, sejumlah anak-anak muda mengelilinginya karena dia saudara laki-lakinya Ayman. Aparat keamanan kemudian membiarkan dia bebas berkeliaran dan mengontak orang-orang, supaya bisa melacak siapa saja orang-orang yang berada di sekitarnya,” kata Abdul Fattah menjelaskan bagaimana intelijen memanfaatkan saudara tokoh Al-Qaidah pengganti Bin Ladin itu.

Menurut Abdul Fattah, Muhammad Al-Zawahiri sendiri memiliki  pernyataan-pernyataannya yang saling bertentangan.

“Pertama dia mengatakan bahwa demokrasi itu bid’ah dan para pemilih dalam pemilu adalah orang-orang kafir. Kemudian dia mengatakan, akan memerangi siapa saja yang menyerang [Presiden Muhammad] Mursy. Padahal, Mursy sendiri sekarang menjadi Tuan Demokrasi. [Lantas] mengapa menuding kami para pemilih sebagai pelaku bid’ah. Seharusnya dia menudingnya [Mursy] lebih dulu,” kata Abdul Fattah.

***

Bin Ladin Wafat Al-Qaidah Lenyap

Mengenai kelompok-kelompok jihad yang disebut-sebut terkait dengan Al-Qaidah, menurut Abdul Fattah semua itu hanyalah pertunjukan media belaka.

Kelompok-kelompok di Sinai, Mesir, atau di tempat lain di dunia  mengaku terkait dengan Al-Qaidah hanya untuk menakut-nakuti orang, sebab kelompok itu dikaitkan dengan serangan 9/11. Namun yang sebenarnya, kata Abdul Fattah, kelompok-kelompok itu tidak ada kaitannya dengan Al-Qaidah dan bahkan sama sekali tidak mengetahui apa itu Al-Qaidah. Al-Qaidah sudah lenyap sejak kematian Usamah bin Ladin.

“Rezim sekarang di Mesir [Al-Ikhwan Al-Muslimun] ingin menggembar-gemborkan hal ini secara berlebihan, guna mengatakan bahwa alternatif [pihak lain-red] itu lebih buruk. Sama seperti ketika rezim terdahulu memperlakukan Al-Ikhwan Al-Muslimun. Mereka berkata: lainnya itu buruk, jadi lebih baik kalian bergabung dengan kami,” kata Abdul Fattah, menjelaskan bahwa semua kelompok di Mesir saling menjelekkan satu sama lain.

Duduk di dalam rumahnya yang miskin, di rumah susun yang terletak di samping gedung tinggi Patriakh Katolik Roma di Al-Zaher, salah satu kawasan paling tua di ibukota Kairo, Abdul Fattah mengenang sejarahnya dulu saat menjadi salah satu pemimpin organisasi Al Jihad Mesir, yang dituding terlibat dalam pembunuhan presiden Anwar Sadat pada tahun 1981, melakukan aksi teror di tahun 1990-an dan juga dituduh membantu kelahiran Al-Qaidah. Dia dulu “tangan kanan” Ayman Al-Zawahiri saat masih memimpin Al-Jihad, sebelum akhirnya memimpin Al-Qaidah sekarang.

“Saya yang mengirim Muhammad Atta ke Afghanistan,” kata Abdul Fattah dengan bangga. Muhammad Atta disebut-sebut oleh Amerika Serikat sebagai pilot pemimpin serangan 11 September 2001 atas gedung World Trade Center di New York.

Abdul Fattah dibebaskan dari penjara pada Maret 2011, beberapa pekan setelah Husni Mubarak dilengserkan dari kursi presiden. Mubarak dulu adalah orang yang memenjarakannya selama 20 tahun.

Al-Jihad sudah tidak lagi melakukan aksi-aksi keras di Mesir sejak bertahun-tahun silam. “Kami sudah lelah,” kata Abdul Fattah, yang sekarang berusia 57 tahun.

Mesir saat ini, menurut pria berjenggot lebat itu, sedang menuju ke arah demokrasi ala Barat. Sebab, “hanya pilihan itu yang tersedia,” pungkas Abdul Fattah.*

Sumber :

http://www.hidayatullah.com/read/28772/30/05/2013/usamah-bin-ladin-meledakkan-diri-dan-membawa-mati-semua-rahasia-%281/2%29.html

http://www.hidayatullah.com/read/28779/30/05/2013/usamah-bin-ladin-meledakkan-diri-dan-membawa-mati-semua-rahasia-%282/2%29.html