The Mystery Of Hajj

The Mystery Of Hajj

Kabar “mengerikkan” itu datang juga. Kerajaan Arab Saudi akhirnya tetap ngotot memangkas kuota jama’ah haji sebesar 20 persen bagi semua negara . Indonesia yang merupakan salah satu negara dengan Jama’ah haji terbesar juga terkena imbasnya. Pihak NKRI yang diwakili Menteri Agama, Surya Dharma Ali, menegaskan bahwa pihak Saudi sudah tidak mau berkompromi mengenai masalah pemangkasan kuota haji 2013 ini. Kabar ini diterima Kemenag dari Dubes Arab Saudi untuk Indonesia yang merupakan terusan dari Menteri Haji Arab Saudi, Bandar Bin Muhammad Haiiar. Saudi beralasan bahwa ini semua demi keselamatan dan kenyamanan para Jama’ah Haji, karena dengan adanya renovasi Masjidil Haram nantinya jumlah jama’ah akan semakin banyak yang dapat ditampung dan juga semakin nyaman dalam beribadah.

Dari skenario pemangkasan ini pihak Indonesia sudah dapat merinci nilai kerugiannya. Total kerugian Indonesia diperkirakan sekitar 800 Miliar. Dengan rincian, pemrintah sudah membayar 50 persen ongkos sewa pemondokan, tender catering, serta transportasi udara dan darat. Kerugian dari pihak penyelenggara haji regular (pemerintah) Rp 492 Miliar. Sedangkan dari pihak swasta (biro haji) yang juga termasuk penyelenggara haji khusus, kerugian ditaksir sekitar 150 Miliar.

Kerugian-kerugian tersebut masih ditambah dengan “kerugian psikologis” yang dialami para Calon Jama’ah (CJHI). Betapa tidak dapat dibayangkan mengenai perasaan kecewa mereka. Daftar tunggu semakin lama beriring dengan makin cepatnya marathon usia dan ajal mereka. Namun inilah Takdir Allah, Haji adalah ibadah yang unik dan terkadang di luar perhitungan logika matematis manusia. Haji bukan hanya ibadah yang bercirikan keberlimpahan materi an sich bagi para pelakunya. Namun ini juga perkara takdir. Karena hanya manusia-manusia yang memang diundang oleh Allah lah yang dapat ke sana. Meskipun terkadang banyak dari jama’ah tersebut yang secara materi sangat kekurangan. Dari peristiwa inilah kita semua belajar dan diingatkan kembali bahwa panggilan menunaikan Haji adalah hak mutlak Allah, Dia akan tetap mempermudah mereka yang memang Dia undang ke Baitullah meskipun dengan adanya pemangkasan kuota sekalipun. Dan akan sebentar menunda bagi mereka yang Dia takdirkan tuk tertunda. Itulah misteri Haji.

Sisi Lain Haji

Di luar bahasan mengenai silang sengkarut pembatasan kuota Haji yang dialami semua negara tersebut. Ada beberapa sisi yang menarik dari ibadah Haji tersebut. Salah satu sisi menarik itu adalah mengenai kaitan antara Haji dan Pergerakan Kemerdekaan sebuah bangsa. Dahulu dalam sejarah bangsa ini. Para pribumi yang baru pulang dari Tanah Haram akan selalu diwaspadai dan diintai oleh Penjajah Hindia Belanda. Hal ini karena para Haji Pribumi tersebut ditakutkan kelak akan menjadi “provokator” perjuangan untuk melawan / memberontak terhadap Pemerintah Hindia Belanda. Dan bangsa Imperialis macam Belanda sangat takut akan hal itu. Belanda yakin akan hal itu karena mereka telah mempelajari Islam dengan seksama melalui Agennya yang terkenal, Snouck Hurgonje sang orientalis dan Munafikkin terbesar Belanda yang pernah lama bermukim di Mekkah guna mendalami Islam hingga ke akar-akarnya tuk di kemudian hari dia carikan formula guna merusak umat Islam melalui kebijakan-kebijakan jahat Pemerintah Belanda. Tak tanggung-tanggung, Hurgonje bahkan berikrar masuk Islam di Mekah dan menikahi wanita pribumi Islam guna menutupi penyamarannya. Dialah yang memberi fatwa bagi Penjajah Belanda saat perang melawan Negeri Kaum Muslim, Aceh, agar mematikan para Ulama’ nya terlebih dahulu karena lokomotif perlawanan Muslim Serambi Mekah adalah para Ulama’ yang merupakan pelanjut Risalah Langit.

Berpindah ke pihak penjajah Indonesia berikutnya, Inggris. Tak jauh berbeda dengan Belanda. Pihak penjajah Inggris pun sudah tahu mengenai kekuatan serta letak kelemahan terbesar negeri jajahannya tersebut. Hal itu adalah Islam. Islam akan mereka matikan sehebat-hebatnya atau setidaknya diredup-samarkan semaksimal mungkin agar negeri kaya bernama Indonesia itu lemah dan terpuruk. Mereka juga menyadari bahwa alumni Haramain (HAJI) lah para calon “provokator” agar pribumi bangun –melek- tuk melawan penjajahan. Sir Thomas Standford Raffles, dalam bukunya yang terkenal, History of Java, menulis: “Setiap orang Arab dari Makkah, begitu pula orang Jawa, yang kembali menunaikan ibadah haji di sana, diterima sebagai orang suci di Jawa, dan sikap cepat percaya dari kalangan orang awam sudah sedemikian rupa sehingga mereka sangat sering menghubungkan berbagai kekuatan dialami kepada pribadi- pribadi yang demikian. Sehingga tidak sulit bagi mereka membangkitkan negeri untuk memberontak.” Dia melanjutkan, “Para ulama Muhammedan hampir tanpa terkecuali ditemukan paling aktif dalam pemberontakan. Banyak dari mereka, umumnya keturunan campuran Arab dan orang pribumi, pindah dari satu negeri ke negeri lain di pulau-pulau bagian timur dan umumnya karena intrik-intrik dan desakan merekalah para pemimpin pribumi tersebut untuk menyerang atau membunuh orang-orang Eropa, sebagai orang kafir dan pengacau.”

Dari pernyataan tersebut (tahun 1811-1816) sudah sangat jelas ternampak bahwasannya penjajah Inggris melalui Gubernur Jenderalnya, sangat takut dengan pribumi alumni Haramain (bertitel Haji). Karena mereka ibarat manusia super yang baru saja lulus dari program penggemblengan yang khusus melahirkan calaon-calon lokomotif utama perlawanan terhadap imperialism. Sikap paranoid Raffles itulah yang pada akhirnya membuat dia menyetujui kebijakan pelarangan putra-putri Bupati yang sudah ber-Haji agar tak dapat menduduki jabatan administratif. Dan hari ini, kebijakan rasis macam itu ironisnya masih dilanjutkan –meski agak berbeda konteks- oleh para Raffles-raffles pribumi yang membuat kebijakan pelarangan perawat berjilbab di rumah sakit miliknya, melarang siswi berjilbab di sekolahnya, melarang polisi wanita berjilbab di kesatuannya dan banyak lagi contoh kasus kebijakan paranoid rasis para pelanjut Raffles-isme tersebut.

Untuk memperkuat data mengenai peran para alumi HARAMAIN sangat berperan dalam perlawanan terhadap penjajah, kita dapat menyebut sederet nama seperti KH. Hasyim Asy’ari; KH. Ahmad Dahlan; Syeikh Yusuf Makassar yang ke Tanah Suci pada tahun 1644 dan baru kembali ke Indonesia sekitar tahun 1670 dan Abd al Rauf Singkel asal Aceh sang pembawa tarekat Syattariyah ke Indonesia dan penerjemah tafsir Jalalain dalam bahasa Melayu adalah beberapa tokoh alumni Haramain (HAJI) yang memang pada akhirnya berperan besar dalam memimpin anak-anak bangsa ini melawan penjajah dan memerdekakan negerinya, meskipun merdeka dalam arti yang sempit tentunya. Mengapa dikatakan merdeka dalam arti sempit. Karena di belakang hari –hingga sekarang- cita-cita perjuangan mereka toh akhirnya hanya disimpan dan diwujudkan hanya dalam bentuk “TEKS” dalam buku-buku sejarah. Sebaliknya warisan penjajah Belanda cs lah yang banyak diproklamirkan serta diterapkan menjadi hukum dalam “KONTEKS” besar bernama NKRI. Tidak dapat dipungkiri saat ini aturan-aturan hukum positif di negeri ini banyak yang berasal dari warisan Belanda. Sedangkan hukum Islam jangankan diterapkan, disuarakan saja maka bedil-bedil DENSUS akan menerjang setelah sebelumnya didukung dengan fatwa para tokoh-tokoh sekuler negeri yang memvonis itu aspirasi sesat, radikal, anti Pancasila dll. Padahal dalam hati mereka tahu benar bahwa Piagam Jakarta 22 Juni 1945 yang tertera kata-kata “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” hingga hari ini masih hidup dan Konstitusional melalui Dekrit Presiden (Soekarno) 5 Juli 1959 yang menyatakan,” Kami berkeyakinan bahwa Piagam Jakarta 22 Juni 1945 menjiwai Undang-Undang Dasar 1945 dan merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan konstitusi tersebut.” Dengan Dekrit Presiden tersebut telah jelas bahwa umat Islam tetap berhak memperjuangkan Syariat Islam di negeri Indonesia ini.

                                                                                          ***
Membincang seputar HAJI memang tidak akan ada habisnya. Keterkaitan sejarah Haji bangsa ini dahulu dan kini sungguh sangat jauh. Dahulu HAJI adalah kawah candradimuka bagi para pemimpin perjuangan kemerdekaan Indonesia. Hari ini –tanpa bermaksud merendahkan- haji lebih condong kepada ritus ibadah ritual belaka, juga mengenai hal wisata rohani individual. Oleh-oleh Haji dahulu adalah jiwa-jiwa serta ilmu yang bersarang dalam otak yang berdampak kepada lingkungan sekitar bahkan hingga dimensi kebangsaan, sedangkan hari ini oleh-olehnya kebanyakan adalah materi, gelar, dan kesalehan pribadi masing-masing namun a- sosial. Hingga sangat wajar jika fenomena alumni Haji hari ini sering dijadikan bahan olok-olok oleh media melalui tayangan-tayangan film/sinetron yang selalu menggambarkan sosok pak haji kebanyakan sebagai sosok pelit, mudah marah dll. Inilah de-sakralisasi Haji saat ini. Maka tak heran jika para alumnus Haji saat ini tidak disegani dan ditakuti layaknya dahulu oleh para musuh-musuh Islam.

                                                                                          ***

Sebuah kesimpulan dari seduhan ini adalah marilah bersama merenungi kembali makna nyata HAJI. Karena dalam ke-sejarah-annya Haji adalah sebuah hal yang sangat erat dan saling bertaut antara semangat beragama/religius dan berkebangsaan yang merdeka. Haji adalah sebuah ritual sakral dan bernilai besar dalam catatan emas sejarah republik ini, yang ironisnya hari ini makin dipersempit dari makna dan fungsi sebenarnya. (ms)

Diseduh Oleh : Musyaf  Senyapena
Diseduh Di      : Senyapandaan

Referensi Terkait :
Jawa Pos 23 Juni 2013
http://www.voa-islam.com/counter/liberalism/2011/11/03/16565/haji-revolusioner-ditakutibarat-dan-dibutuhkan-umat/