Fight Racisme

Fight Racisme

Tagar #crimingwhilewhite (Berbuat Kriminal-lah selagi berkulit putih) sedang menjadi Trending Topic di Amerika Serikat dan juga di seluruh dunia. Rakyat AS mulai mengunggah berbagai kisah yang menunjukkan pebedaan perlakuan Polisi terhadap warga kulit putih. Karena kulit putih-menurut mereka- dapat melakukan berbagai tindak kejahatan tanpa takut ditahan Polisi. Hal ini mereka lakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap diskriminasi ras yang dilakukan aparat terhadap warga berkulit hitam Afro-Amerika. Jika ada yang bertanya apakah kado natal paling pahit tahun ini bagi Paman Sam, mungkin jawabannya adalah kasus Rasisme tersebut. Seperti yang sudah diwartakan dalam sebulan terakhir, Amerika Serikat sedang bergolak. Bahkan hingga kamis tengah malam (04/12) jumlah pengunjuk rasa yang turun ke jalan makin banyak dan bahkan meluas hingga ke kota New York dari yang awalnya hanya terlokalisir di kota Ferguson saja. Protes massa diawali keputusan juri utama pada Rabu silam yang menyatakan bahwa polisi berkulit putih bernama Daniel Pantaleo pembunuh warga kulit hitam bernama Eric Garner (43 tahun) yang menurut massa tidak bersalah. Protes hari kedua itu juga diwarnai teriakan sinis “Saya tak bisa bernafas, saya tak bisa bernafas” yang merupakan kata-kata terakhir Eric Garner sebelum tewas sesaat setelah dipitting dan dijatuhkan ke tanah oleh Polisi Daniel Pantaleo di Staten Island, New York City. Keputusan juri utama yang dianggap berat sebelah itu juga makin kentara karena sebelumnya juri utama juga membebas-tuduhkan seorang polisi kulit putih yang menembak mati remaja kulit hitam di Ferguson yang bernama Michael Brown (18 tahun) pada Agustus lalu. Dan di tengah kasus protes massal yang masih memanas itu, publik AS dikejutkan lagi dengan kematian warga Afro-Amerika di kota Arizona di tangan polisi kulit putih. Warga kulit hitam bernama Rumain Brisbon (34 tahun) itu ditembak mati polisi saat mengadakan penyelidikan kasus narkoba di dekat sebuah supermarket kecil. Polisi beralasan Brisbon membawa senjata di sakunya dan menyuruhnya tetap menahan tangan di saku sebelum akhirnya ditembak mati oleh polisi. Dan belakangan diketahui bahwa yang ada di saku celana Brisbon hanyalah obat biasa bukan senjata. Hal ini tentu makin memanaskan situasi di negeri adidaya itu. Dan saat tulisan ini masih disusun, massa ternyata masih melakukan aksi hingga Senin (08/12). Aksi kali ini bahkan makin merata hingga California. Unjuk ras ricuh pun juga terjadi di kota Oakland dan Berkeley. Dan nampaknya aksi-aksi mereka akan terus berlanjut hingga hasil investigasi dari kepolisian berhasil mengusut aksi aparat yang berlaku rasis itu.

 

Ku Klux Klan Return

Amerika Serikat memiliki sejarah kelam mengenai rasime warna kulit. Dan pemain utama dalam diskriminasi ras itu adalah kelompok Ku Klux Klan yang dicetuskan pada tahun 1863 oleh 6 pemuda mantan anggota konfederasi di kota kecil Pulaski, Tennessee. Awalnya genk ini hanya beranggotakan para pemabuk yang suka menebar hura-hura. Dan para anggotanya memiliki julukan-julukan konyol seperti Grand Cyclops, Grand Magi, Grand Turk, dan Grand Scribe dan mereka menamai komplotannya sebagai “Setan Kubur”. Kelompok ini memilih nama Kuklos dari bahasa Yunani yang berarti lingkaran. Dan mereka memplesetkannya hingga menjadi Ku Klux Klan karena dianggap sangar dan memang menyeramkan di seluruh Amerika Serikat. Kebencian kelompok rasis yang dianggap sebagai jelmaan Neo Nazi itu bermula dari dendam kesumat ras kulit putih di negara-negara bagian wilayah selatan AS dan kaum Konfederasi terhadap ras kulit hitam pasca perang sipil. Saat itu orang-orang kulit hitam dibantai Ku Klux Klan karena iri terhadap kemenangan ras kulit hitam yang telah bebas dari jerat perbudakan. Pada masa kejayaannya, Ku Klux Klan berhasil menggaet 3 juta anggota.

Superioritas kaum kulit putih yang memperbudak kulit hitam di masa lalu nampaknya masih sulit dihilangkan bahkan hingga saat ini. Dulu sebelum perbudakan dihapus, sekelompok centeng selalu berpatroli di area perkebunan para juragan dari kaum kulit putih. Yang bertujuan mencegah terjadinya pemberontakan para budak kulit hitam. Para centeng tak segan mencambuk bahkan membunuh para budak yang ditangkap sedang melanggar jam malam. Dan setelah perbudakan berhasil dihapus maka para kaum kulit putih lah yang paling merugi karena kehilangan sumber-sumber kekayaan yang selama ini mereka nikmati. Dan ini tentu menimbulkan kesumat di dalam hati mereka dan bermuara dengan terbentuknya Ku Klux Klan. Perlu diingat bahwa Presiden AS yang getol memperjuangkan penghapusan perbudakan,, Abraham Lincoln, akhirnya juga tewas dibunuh. Dan salah satu alasan terkuat motifnya adalah karena upayanya menghapus perbudakan yang tidak disukai dan konon juga karena dia tidak ikut bergabung menjadi anggota Freemason seperti yang dilakukan hampir sebagian besar Presiden pendahulunya. Selain Ku Klux Klan, yang menjadi “pembasmi” kaum kulit hitam juga berasal dari kalangan Legislatif negara-negara bagian di selatan Amerika. Mereka membuat undang-undang diskriminatif yang mereka namai Black Codes yang memberangus kemerdekaan kaum kulit hitam dan berambisi memperbudak mereka selamanya. Inilah gaya Neo Nazi, watak sama bengis dan merasa ras mereka superior hingga mampu memperbudak manusia lain yang kebetulan dilahirkan bereda ras atau dalam hal ini kulit. Sebenarnya ada tokoh-tokoh berani yang vokal menyuarakan agar rasisme itu dihentikan. Pada  medio 60 an muncul Martin Luther King Jr. dengan semboyannya yang terkenal “I Have A Dream” itu. Dan dari tokoh Islam ada Malcolm X. Mereka berdua muncul di masa Ku Klux Klan generasi III memuncak pada tahun 50-60 an. Dua tokoh yang selalu menyuarakan persamaan hak dan anti rasisme itu tewas dengan cara yang sama, ditembak. Martin Luther King tewas pada 4 April 1968 dan Malcolm X tewas didor saat akan berceramah pada 21 Februari 1965.

Hari ini Amerika memiliki Presiden kulit hitam pertama dalam sejarahnya. Yang mana terpilihnya Obama awalnya diharapkan mampu merekonsiliasi agar rakyat AS mampu bersama tanpa ada diskriminasi ras. Namun hal itu kini nampakya diuji. Negara yang mengaku sebagai kiblat demokrasi yang menjunjung tinggi HAM itu ternyata tak ubahnya negara yang sedang berusaha menutupi borok lamanya. Hal ini sangat ironis, karena di saat yang sama, ribuan manusia (05/12) sedang mengenang secara meriah setahun mangkatnya tokoh anti rasisme dunia, Nelson Mandela. Tokoh Afrika yang mampu meruntuhkan Apartheid di negaranya, jika masih hidup, mungkin dia tak akan percaya jika masih ada Apartheid baru yang belum runtuh yang uniknya malah terjadi di negeri adidaya AS. Yang masyarakatnya maju namun otak Neo NAZI nya ternyata mampu menutup nuraninya yang harusnya mengakui bahwa manusia itu sederajat.

Paradoks AS sebagai negara yang konon menjadikan HAM sebagai akidah utamanya makin kentara jika kita melihat hasil penelitian yang menyatakan remaja kulit hitam lebih sering ditangkap dan dipenjara dibandingkan remaja kulit putih untuk kejahatan yang sama. Asosiasi Persamaan Hak Sipil Amerika (ACLU) mengungkapkan, orang kulit hitam empat kali lebih mungkin ditahan karena kepemilikan mariyuana dibandingkan dengan orang kulit putih. Padahal berdasarkan Survei, orang kulit hitam yang menggunakan mariyuana lebih sedikit dibandingkan orang kulit putih. Di Ferguson, negara bagian Missouri, jumlah orang hitam yang dicari, dipinggirkan, dan dibui ternyata jauh lebih banyak daripada presentase jumlah penduduk total kota itu. Badan Statistik AS merilis jumlah populasi orang kulit hitam di negara itu hanya 13 persen dari keseluruhan jumlah penduduk. Dan pada tahun 2010, 28 persen tersangka kriminal yang ditahan adalah orang kulit hitam. Sebanyak 42 persen yang dihukum mati pada 2012 adalah kulit hitam. Dan sebanyak 32 persen orang yang terbunuh pada 2003-2009 dalam penangkapan pun adalah orang kulit hitam.

Hasil penelitian lain juga makin mencengangkan. Universitas Princeton meneliti ribuan pengusah di AS yang mencari pegawai. Hasilnya ditemukan bahwa warga kulit putih yang diyakini pernah melakukan kejahatan masih tetap sama diinginkannya dengan warga kulit hitam yang memiliki latar belakang bersih tanpa pernah terlibat aksi kriminal. Kondisi yang di luar nalar sehat itu hanyalah pengulangan sejarah saja. Karena pada abad ke 17 saat perbudakan masih marak, di Philadelphia polisi diberi hak untuk menghentikan dan menangkap pria kulit hitam yang keluyuran di jalanan. Meski lebih banyak warga kulit putih yang bertindak kriminal namun yang ditahan lebih banyak yang berkulit hitam.

***

AS Butuh Islam

 Sahabat Saad Bin Muadz adalah salah satu sahabat nabi yang berkulit hitam dan bahkan disebut kulitnya lebih legam daripada sahabat Bilal Bin Rabah sang Muadzin kebanggaan Islam itu. Kematian Sahabat berkulit hitam ini -menurut Sabda Rasulullah- mampu menggoyang Arasy Allah dan membuat malaikat di langit dan bumi menangis. Kesyahidannya memang mengharukan para sahabat yang laen. Karena hari kesyahidannya adalah hari dimana dia sedang mempersiapkan mahar perkawinannya. Namun uangnya malah dia belanjakan membeli peralatan perang ketika mendengar seruan Jihad dari Rasulullah. Saad sebenarnya hendak melangsungkan pernikahan sebelum kematian menjemputnya. Beliau berkali-kali ditolak wanita Madinah karena tak sudi dengan kulitnya yang hitam. Hingga beliau nelangsa dan berkata kepada Nabi,”Apakah hinanya aku ini karena hitamnya kulitku sehingga pinanganku ditolak berkali-kali.” Lalu Nabi menjawab,”Jangan bimbang Saad, engkau adalah orang yang aku jamin.  Lalu Rasul pun mengutus para sahabat guna mencarikan wanita tercantik di kota Madinah untuk dinikahkan dengan Saad Bin Muadz. Awalnya pinangan itu juga ditolak oleh ayah si wanita cantik karena Saad sangat hitam sedangkan putrinya sangat cantik. Namun begitu tahu jika Saad dijamin oleh Nabi maka seketika itu ayah si gadis menerimanya, Sami’na Wa Atho’na. Orang berkulit hitam pun dijamin dan dilindungi oleh Nabi.

Masalah rasisme mengenai warna kulit memang sudah berusia lama. Namun hal itu dihapus dengan sangat elegan oleh ajaran Islam. Hal ini pula yang membuat Cassius Clay JR. alias Muhammad Ali Clay si petinju terhebat di jagad menjadi lebih lembut hatinya setelah pulang dari menunaikan ibadah Haji. Saat diwawancarai dalam sebuah acara dia menjelaskan dengan berlinang air mata bahwa yang membuatnya berubah dan membuat publik AS heran dengan perubahannya adalah kala Ali menjumpai jutaan manusia jadi satu dalam ibadah haji. Ada yang kulitnya merah, kuning dan bermata sipit, ada yang sawo matang, ada yang berkulit putih juga ada yang berkulit hitam. Semua menjadi satu tak ada perbedaan dan menuju Tuhan yang satu. Dan dia juga terkesan saat menyantap hidangan dengan beberapa jamaah lain ras dan bangsa dalam satu nampan tanpa ada sekat Rasisme. Itulah indahnya Islam yang merubahnya. Perlu diketahui bahwa Muhammad Ali sebelum memeluk Islam sangat garang ketika menghajar lawannya di atas ring tinju, terutama jika lawannya orang kulit putih. Hal ini tidak terlepas dari masa kecilnya yang sangat termarjinalkan karena rasisme terhadap kaum Afro-Amerika sangat besar kala itu. Dan seperti diketahui bahwa dia akhirnya juga bergabung dengan Ellijah Muhammad dalam Nation Of Islam guna menyuarakan aspirasi kaum kulit hitam karena kekagumannya pada Malcolm X yang lebih dahulu bergabung dengan NOI. Malcolm X adalah tokoh  Muslim kulit hitam yang vokal menyuarakan kesamaan hak sipil tanpa pandang ras. Kiprahnya melawan diskriminasi ras terhadap kaum Afro-Amerika sejajar dengan Martin Luther King. Namun belakangan Malcolm X keluar dari NOI karena ditegur oleh ulama-ulama Sunni yang menganggap NOI agak menyimpang karena juga mendoktrin kebencian pada ras kulit putih. Hal ini tidak sesuai ajaran Islam yang anti diskriminasi ras. Kabarnya Muhammad Ali juga keluar dari organisasi itu. Kembali ke kisah Mihammad Ali, ternyata ihwal rasisme kulit pula yang membuat Ali menolak ikut Wajib Militer dalam rangka perang Vietnam dan membuatnya diskors oleh Komisi Tinju pada 1967-1970. Dia berkata,”Saya tidak ada masalah dengan orang -orang Vietcong. Lagi pula tidak ada orang Vietcong yang memanggilku Nigger (Negro).”

Dari kasus rasisme yang sedang melanda AS itu kita dapat menarik kesimpulan bahwa ketika Tuhan sudah dimatikan dalam kehidupan, maka yang berlaku dalam masyarakat itu adalah hukum jahiliyah alias kebodohan. Dan kebodohan besar pada zaman modern ini adalah masih menganggap ada pembeda yang mengharuskan kita tak sama dengan orang lain yang kebetulan hanya berbeda warna kulit dengan kita. Dalam Islam tak ada istilah masjid untuk orang kulit hitam dan ada masjid khusus untuk orang kulit putih seperti yang terjadi dalam masyarakat Kristen dimana di negara tertentu ada dikotomisasi tempat ibadah bagi masing-masing warna kulit. Kita dijadikan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa supaya saling mengenal. “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling bertaqwa di sisi Allah. “[al-Hujurat:13]. Dan konsekuensi dari perbedaan suku dan bangsa itu adalah pasti bermacam-macam pula bahasa, adat, budaya, dan juga warna kulit dan rambut kita.  Yang membedakan di sisi Tuhan hanyalah tingkat ketakwaan saja tanpa ada rasisme kulit. Maka tak heran jika Islam mampu mencetak orang-orang hebat yang dahulunya bahkan dirinya sendiri tak punya hak pada tubuhnya. Yang salah satunya adalah Bilal Bin Rabah si budak kulit hitam keturunan budak Ethiopia yang ahirnya mampu menjadi orang yang dijamin masuk surga dan bahkan suara sandalnya telah mampu didengar Nabi di surga. Dia adalah Muadzin kesayangan Nabi yang suaranya selalu dirindukan Nabi. Tak ada diskriminasi dalam Islam. Islam mampu membentuk pola pikir modern umatnya bahkan sejak 14 abad silam dimana tidak dibenarkan membeda-bedakan manusia hanya karena perbedaan ras (termasuk warna kulit). Semua manusia sama, sederajat dan diberi HAM yang setara oleh Ilahi tanpa bisa diganggu gugat. Mari terus kita ikuti “kemunduran” pola pikir manusia modern yang sedang terjadi di AS. Sang pengaku negara demokrasi nomor wahid dan penegak HAM yang nyatanya hanya berlaku di dalam pidato-pidato saja. Dan yang aneh pula kenapa Bangsa ini malah berkiblat pada mereka?! (Ms)

 

Sumber Racikan  :

Jawa Pos (07/12/14)

Kompas (06/12/14)

Kompas (09/12/14)

Diseduh Oleh : Musyaf Senyapena

Diseduh Di     : Senyapandaan