Save Rohingya

Save Rohingya

Beberapa tahun ini dunia diramaikan oleh aksi-aksi keji  ISIS yang dalam gambaran media disajikan sebagai gerombolan teroris yang membawa misi agama (baca : Islam) yang hendak menegakkan Daulah berdasar aturan syariah dalam tafsiran versi mereka. Dunia, baik itu Barat maupun negeri-negeri Islam kompak satu suara menolak ISIS dan memberi label mereka sebagai gerakan teroris. Padahal jika kita bijak menyikapi, sebenarnya awal munculnya bibit gerakan semacam ISIS ini adalah ketidakadilan yang dialami oleh para anggotanya setelah porak-porandanya Irak pasca diagresi oleh negara-negara “Pemilik tafsir kebenaran tunggal” yang dikomandoi AS. Bolehlah kita tak setuju kepada ISIS, namun harus kita cermati bahwa sejinak-jinaknya sebuah bangsa jika diperlakukan tak adil maka tunggulah waktunya generasi penerus bangsa itu akan jadi bangsa pembalas yang bahkan bisa lebih keji dari penjajah negaranya. Dari pembukaan tulisan ini, ada satu titik kesimpulan yang hendak kita perluas cakupan bahasannya, yaitu ihwal keadilan.

Seperti diketahui bahwa banyak kisah dalam sejarah dunia yang menuliskan ceritera perlakuan tidak adil yang dialami sekelompok manusia tertentu di berbagai penjuru planet ini. Mulai dari ketakadilan ras dan warna kulit ala politik Apartheid di Afrika Selatan dahulu yang kini juga masih diterapkan oleh negara Zionis yahudi terhadap bangsa Palestina. Bahkan saat tulisan ini dibuat, negeri Zionis itu diwartakan masih menghadapi kasus rasial di dalam negaranya sendiri yang dilakukan oleh ras Yahudi mainstream kepada ras Yahudi keturunan Ethiopia. Kepada sesama Yahudi saja bisa rasis apalagi kepada non Yahudi (Goyim). Di Amerika Serikat yang mengaku negara paling demokratis pun tak luput dari kasus rasialisme. Yaitu perlakuan rasisme polisi kulit putih kepada warga kulit hitam. Kemudian ada lagi kasus yang sedang hangat dan berdampak bagi kita di Indonesia, yaitu kasus rasisme yang dialami oleh etnis Muslim Rohingya. Etnis yang oleh PBB dilabeli sebagai kaum (manusia) paling teraniaya di dunia ini memang layak mendapatkan perhatian serius oleh siapapun yang masih memiliki nurani kemanusiaan. Bagaimana tidak, di negara asalnya, Myanmar, etnis ini tidak diakui keberadaannya dan dianggap sebagai etnis pendatang dari Bangladesh meskipun nenek moyang mereka telah mendiami tanah Burma ratusan tahun yang lalu. Di Myanmar , HAM mereka tak diakui. Mereka diperangi oleh penduduk yang mayoritas beragama Budha. kerusuhan rasisme di Rakhine antara Rohingya Muslim dan umat Budha yang menjadi mayoritas di sana adalah bukti nyata. Sebenarnya tulisan ini tak hendak memunculkan sentimen SARA dalam hal ini suku dan agama. Namun ada fakta yang harus ditegakkan secara adil. Bayangkan saja, berdasar data yang dilansir UNHCR, setidaknya ada 1.275 imigran asal Myanmar dan Bangladesh yang terdampar di Indonesia dalam sepekan ini (Kompas, 17/05). Yang antara lain terdampar di Aceh utara pada hari Minggu (10/5) sebanyak 584 orang, 677 orang di Langsa Aceh dan 50  orang di Aceh Tamiang pada Jumat (15/5). Juga masih ditambah 1500 orang yang terdampar di Malaysia dalam sepekan ini. Artinya sudah ada sekitar 3000 orang imigran Myanmar dan Bangladesh yang sudah terdampar dalam sepekan ini. UNHCR memperkirakan masih ada 3.000-5.000 manusia perahu dari Myanmar dan Bangladesh lainnya yang sedang terombang-ambing di lautan kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia di dalamnya.

Mencermati kasus manusia perahu asal Myanmar ini, kita sebagai manusia Indonesia (Pancasilais) harusnya merasa miris. Sila kedua Pancasila mengatakan bahwa negara kita adalah negara yang manusianya menjunjung tinggi kemanusiaan yang adil dan beradab. Bagi kita, pengusiran sekelompok manusia dari tanah airnya karena masalah etnisitas adalah sebuah kebiadaban zaman modern. Sungguh tak masuk akal ketika menyaksikan apa yang terjadi di Myanmar. Mereka (warga Myanmar) seakan tak mau hidup berdampingan dengan manusia lain yang berbeda etnis dengan mereka tanpa alasan yang dapat diterima oleh nurani kemanusiaan. Bukankah tidak ada yang tahu saat kita dilahirkan ke dunia ini mengapa Tuhan menjadikan kita beretnis A atau B atau lainnya. Bukankah kita juga tak bisa memilih sesuai kehendak sendiri saat kita dilahirkan ke dunia dulu? Menarik mendengar pernyataan Cak Nun (Emha Ainun Najib) dalam acara Banawa Sekar di TV9 Nusantara pada hari Jumat kemaren (15/05), dalam acara Sinau Kedaulatan di kampus Unair itu beliau menyatakan bahwa kaum Katholik, Kristen, Hindu, Budha, dan Konghucu dapat dipastikan adalah kaum paling bahagia saat kaum Muslim menjadi mayoritas seperti di Indonesia ini. Karena Muslim itu sifatnya mengayomi, bandingkan dengan keadaan kaum Muslim saat menjadi minoritas di negara-negara lain, banyak dari mereka yang didiskriminasi. Hal ini sangat benar sekali. Semua tentu mafhum bahwa nusantara ini berhasil diislamkan dengan cara damai. Hal ini secara tidak langsung meniru Nabi saat penaklukan Mekah (Fathu Mekah) yang dengan elegan membebaskan kota Mekah tanpa tetesan darah. Hal yang sama juga dilakukan Muslimin saat menaklukan Andalusia Spanyol. Kaum Yahudi dan Kristen bisa hidup damai di Andalusia saat Islam menjadi mayoritas di sana. Semua ini karena dalam Al qur’an diajarkan bahwa tidak ada paksaan bagi non muslim untuk masuk Islam. Dan ketika kaum non muslim hidup di bawah naungan pemerintahan Islam maka darah dan harta mereka juga wajib dilindungi. Bahkan Nabi sendiri menantang bermusuhan di akherat kelak bagi siapapun yang melanggar hak-hak Kafir Dzimmi yang hidup dalam naungan kaum muslimin.Coba bandingkan ketika Raja Ferdinand dan Ratu Isabella menguasai Spanyol (Andalusia). Mereka berdua memaksa penduduknya yang Islam dan Yahudi agar menjadi Katholik atau jika tidak berkenan maka mereka akan dipenggal, inilah yang kemudian dalam sejarah dikenal sebagai Dewan Inquisisi yang kejam. Dalam penggambaran ini penulis tak hendak menyatakan bahwa umat Budha yang menjadi mayoritas di Myanmar adalah umat yang intoleran dan rasis. Karena dalam setiap agama dapat dipastikan bahwa pasti ada oknum yang berpaham ekstrim maupun moderat. Nah, kaum Budha ekstrimis inilah yang menjadi sumber masalah dalam masalah Rohingya. Karena kebencian etnis pasca mandegnya 49 tahun pemerintahan militer yang berakhir pada 2011 lalu ini nyata-nyata dipimpin oleh Bhiksu Budha radikal yang bernama Bhiksu Wirathu. Bhiksu Wirathu merupakan Bhiksu nasionalist pemimpin gerakan 969. Gerakan yang oleh Intelektual Budha Myanmar, Dr. Maung Zarni, disebut sebagai Neo Nazi nya Myanmar ini adalah gerakan pemboikotan terhadap bisnis Muslim dan umat Islam. Bhiksu Wirathu pernah dipenjara selama 9 tahun sebagai tahanan politik. Dia ditahan karena dianggap sebagai provokator kerusuhan anti Muslim pada tahun 2003. Kini dia menjadi kepala Biara Masoeyein Mandalay yang membawahi 60 bhiksu dan memiliki pengaruh pada sekira 2.500 umat Budha. Ada satu pernyataan menarik dari Bhiksu Wirathu ini, dia menyatakan bahwa dia tak ingin Myanmar seperti Indonesia, dahulu Indonesia beragama mayoritas Budha namun setelah Islam masuk kini Muslim menjadi mayoritas di Indonesia. (http://www.eramuslim.com/berita/laporan-khusus/biksu-wirathu-saya-tidak-ingin-myanmar-seperti-indonesia-dahulu-budha-matoritas-kini-setelah-islam-masuk-muslim-menjadi-mayoritas-di-indonesia.htm#.VVqFW-asWSo). Pernyataan yang sarat kesan kebencian, bukan?

***

Kabar terbaru mengenai kasus manusia perahu Rohingya dan Bangladesh adalah ditemukannya kuburan massal di wilayah Thailand yang ternyata adalah jasad para korban perdagangan manusia yang mana korbannya adalah etnis Rohingya yang selama ini sudah sangat teraniaya dan bahkan tak diingini di negaranya (http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2015/05/150504_thailand).  Menyikapi hal ini UNHCR tak mau tinggal diam. Lembaga yang mengurusi pengungsian ini bersuara keras terutama kepada 3 negara yang lautannya menjadi wilayah terdamparnya para manusia perahu. Indonesia, Malaysia dan Thailand diseru UNHCR agar lebih bertindak aktif menyelamatkan para manusia perahu yang masih terombang-ambing di lautan. Thailand memberi bantuan makanan dengan mengirim angkatan lautnya mendekati perahu Rohingya yang sedang terombang-ambing di tengah lautan. Namun mereka menolak menerima mereka di wilayahnya. Malaysia yang menjadi jujugan manusia perahu dikabarkan juga tidak mau wilayahnya dimasuki para pengungsi itu. Indonesia yang sepekan ini terlihat lebih manusiawi dengan cara mau menyelamatkan mereka ke wilayah Aceh dan merawat serta memberi bantuan makanan karena para pengungsi itu sangat kelaparan setelah terombang-ambing di lautan selama 3 bulan.

Akar Masalah

Sebenarnya dunia internasional paham bahwa akar masalah dari kasus Rohingya ini adalah Myanmar. Negara inilah yang harusnya dapat mengatasi permasalahan dalam negerinya sendiri. Jika alasan bahwa Rohingya adalah pendatang di tanah mereka meskipun sudah ratusan tahun Rohingya ada di wilayah yang sekarang menjadi Myanmar, tentu ini sangat Absurd. Logika ini mirip dengan yang digunakan oleh Zionis Yahudi yang mengklaim tanah Palestina adalah tanah  yang dijanjikan Tuhan (The Promised Land) bagi bangsa Yahudi, jadi warga Palestina (Kan’aan) harus keluar dari tanah Palestina karena mereka dinilai bukan pemilik tanah negaranya. Jika logika ini dipakai maka tatanan dunia akan kacau. Bangsa Indian berhak mengusir warga AS saat ini yang kebanyakan adalah keturunan imigran Inggris karena tanah Amerika adalah tanah asli nenek moyang Indian. Bangsa Aborigin juga berhak mengusir warga Australia yang kebanyakan adalah anak keturunan bangsa Inggris yang dahulunya adalah kaum buangan (Tahanan Politik) di tanah kangguru yang merupakan tanah asli kaum Aborigin. Dan tentunya masih banyak lagi tatanan sebuah negeri yang akan kacau jika logika absurd itu dipakai di zaman modern sekarang. Akar masalah yang lain adalah ketika agama dijadikan tameng untuk memuluskan ras bangsanya menjadi yang terunggul atas bangsa lain, maka segala cara akan menjad halal meskipun harus membunuh manusia lainnya. Kita yakin bahwa tak ada agama yang mengajarkan demikian. Namun kita juga yakin bahwa dalam setiap agama pasti ada oknum yang memakai jubah agamanya guna mencapai tujuan dunianya. Inilah yang harus diselesaikan Myanmar, agar agama Budha yang mayoritas dipeluk warganya tak ikut tercoreng namanya akibat kasus rasis tersebut. Jika Muslim Indonesia mengusir penduduk beragama lain pasti dunia akan memberitakan bahwa Islam (Dan umat Islam secara  keseluruhan) tidak manusiawi dan diskriminatif serta intoleran, namun ketika kaum Budha yang melakukannya seperti di Myanmar pada etnis Muslim Rohingya kenapa tidak disebut bahwa Budha adalah agama intoleran dan diskriminatif? Padahal ditengarai kuat bahwa Myanmar secara sistematis sedang melakukan Genosida kepada umat Muslim Rohingya. Kemana suara para pejuang HAM dan media sekuler. Kenapa mereka tak garang ketika menyuarakan masalah Rohingya. Apakah karena mereka (Rohingya) muslim sehingga berhak untuk ditindas. Myanmar punya pekerjaan rumah yang besar. Karena Myanmar yang mewakili negeri Budha yang fanatic sedang menuju menjadi Negara demokratis. Dan di sana juga ada tokoh wanita pejuang demokrasi dan HAM yang telah mendapatkan Nobel Perdamaian, Aung San Suu Kyi, yang anehnya bungkam soal masalah Rohingya di negaranya tersebut. Entah apa yang ada dalam benaknya. Apa karena Rohingya Muslim?

***

Kasus Rohingya adalah masalah kemanusiaan serius. Apapun agama mereka, tak laik diperlakukan seperti itu. Mereka manusia seutuhnya bukan Sub Human. Bahasa kemanusiaanlah yang harus dipakai dalam menuntaskannya. 3 Menteri Luar Negeri dari 3 negara yaitu Malaysia, Indonesia dan Thailand dijadwalkan bertemu di Kuala Lumpur (Kompas 18/05) guna mendesak Myanmar  agar menyelesaikan kasus Rohingya. Ini kasus dalam negeri mereka namun anehnya mereka tak mau mengakuinya. Ibaratnya ini adalah borok dalam tubuh Myanmar tapi negeri tetangganya yang dibuat repot. Yang punya borok tak mau menyembuhkan boroknya sendiri dan malah memaksa bangsa lain yang mengobatinya. Semoga ini dapat menjadi perenungan bersama bagi bangsa kita yang masih menjunjung asas kemanusiaan yang adil dan beradab. Juga yang kebetulan adalah bangsa Muslim terbesar. “Barangsiapa tak peduli urusan Kaum Muslimin, maka dia bukan dari golonganku.” (HR. Muslim). (ms)

Diseduh Oleh : Musyaf Senyapena

Diseduh Di      : Senyapandaan