Lobang Kebajikan

Lobang Kebajikan

The Hole Maker

Di sebuah penjara nan gelap, dua tahanan tersebut saling duduk agak berjauhan. Tahanan tersebut masing – masing adalah seorang lelaki muda dan seseorang yang dapat dikatakan telah berumur lanjut yang lebih pantas disebut bapak lelaki muda itu. Mereka ada dalam ruangan terisolir ini karena sebab yang berbeda. Yang muda karena terjerat tuduhan berladang secara illegal di lahan yang diklaim sebagai milik perusahaan besar asing di republik tempatnya menyambung hidup, padahal lahan tersebut yang semula merupakan lahan tidur telah digarap secara temurun oleh keluarga mendiang bapaknya.

Sedangkan si lelaki tua yang mulanya seorang penarik becak dipenjarakan karena tanpa sengaja di suatu hari saat dirinya sedang menarik alat transportasi roda 3 tersebut, becaknya menyenggol body sebuah mobil mewah bermerek mahal yang sebenarnya kesalahan lebih pantas diarahkan kepada sang pengemudi mobil karena dalam mengemudikan dia ugal-ugalan hingga menyerempet sang tua pengayuh becak tersebut dan lebih fatalnya juga telah mengakibatkan sebuah kecelakaan beruntun yang memakan beberapa orang korban jiwa . Namun seperti sudah menjadi rahasia umum di negeri ini, bahwa kekuasan dan rupiah dapat merubah terdakwa menjadi korban dan sebaliknya dalam sebuah proses peradilan yang nampaknya tidak jauh berbeda dengan pagelaran sandiwara.

Dari kisah tersebutlah 2 anak Adam itu akhirnya harus rela menghuni hotel prodeo. Namun jangan bayangkan seperti bui para tersangka koruptor atau para pejabat berdasi yang ternyata fasilitasnya lebih lengkap daripada kamar kos para mahasiswa kere pinggiran kota, sel tempat 2 tahanan ini sungguh sangat memprihatinkan dan lebih patut jika disebut tidak manusiawi. Selain tempatnya yang ada di sudut paling ujung Lapas, sel mereka juga sangat minim pencahayaan yang membuat mereka hanya dapat mengandalkan cahaya matahari pagi yang menelusup melalui celah-celah dinding sel yang bolong .

Syahdan, suatu malam sang lelaki tua merasa prihatin kepada anak muda yang telah beberapa tahun ini menjadi teman dalam berbagi suka dan duka. Beberapa minggu mendatang masa tahanan lelaki muda itu akan rampung dan dia akan dapat merengkuh kembali kebebasannya di dunia luar sana yang penuh ketidakpastian.

Namun beberapa malam ini entah mengapa sang lelaki muda nampak gelisah dan kelihatan kurang bergairah. Dia nampak sering merenung sambil memeluk sarung kusam yang selama ini setia menemaninya sembari bersandar di dinding tembok, sesekali dia alihkan pandangannya ke arah si lelaki tua dan seketika itu pula air mukanya berubah menjadi lebih sendu.

Sang lelaki tua yang mengetahui tentang gelagat aneh anak muda di depannya ini dengan penuh kasih sayang layaknya seorang bapak kemudian bertanya, “Anakku, ada apa kiranya dengan dirimu? Akhir-akhir ini kamu terlihat sangat sedih dan nampak seperti pemuda yang tidak punya semangat hidup. Padahal sebentar lagi kamu akan keluar dari tempat ini dan dapat melanjutkan hidup dan cita-citamu?”

Pemuda itu diam sesaat, ditatapnya dalam-dalam mata lelaki tua dihadapannya yang telah ia anggap sebagai bapaknya sendiri.

“Aku merasa berat meninggalkan anda sendirian di sini, karena hanya bapaklah satu-satunya keluargaku yang kupunyai di dunia kini.”

“Sudahlah anakku, usiamu masih muda dan kau masih memiliki jalan panjang untuk merengkuh tujuan hidupmu. Yakinlah bahwa di luar sana nanti akan kau dapati manusia-manusia lain yang lebih hebat yang dapat kau jadikan saudaramu. Ingat seorang muslim adalah sahabat bagi muslim yang lainnya,” lelaki tua itu mencoba membesarkan hati si lelaki muda dengan kalimatnya yang teduh.

“Sesungguhnya bukan hanya itu yang membuatku gamang. Anda tentu sudah mafhum bagaimana masyarakat negeri ini memperlakukan orang-orang seperti saya yang merupakan mantan seorang tahanan. Lantas apakah yang dapat aku perbuat untuk dapat mendayakan diriku sebagai seorang manusia seutuhnya tanpa harus dilihat dari sisi negatif sebagai seorang bekas napi,” jawab lelaki muda itu yang masih gelisah dengan masa depannya kelak.

“Coba kau pegang batu ini,” lelaki tua menyerahkan sebongkah batu seukuran tangan dan paku kepada si lelaki muda.”Lobangi dinding itu dengan batu dan paku ini perlahan-lahan,” sembari menunjuk di dinding penjara di belakang mereka.

Si lelaki muda menurut saja dengan apa yang dititahkan oleh lelaki tua tersebut. Perlahan dia lobangi dinding tersebut dan setelah beberapa saat dinding itu akhirnya berlubang juga meski hanya seukuran paku. Tiba-tiba segaris cahaya dari arah lobang dinding menembus ruangan tersebut. Lelaki muda itu masih bingung dengan makna dari semua perintah si lelaki tua tadi.

“Apa maksud dari semua ini?” dengan keheranan si lelaki muda bertanya.

“Semua itu hanya sebuah tamsil (perumpamaan) dari hidup yang sebentar lagi akan kau tempuh di luar sana. Meskipun saat itu banyak yang memandangmu sebagai seorang mantan penjahat sekalipun, usah kau hirau cibiran-cibiran itu. Ingatlah titah nabi kita bahwa manusia terbaik adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya,” ujar sang lelaki tua menasihati.

“Lantas apa yang dapat aku lakukan agar tetap bisa bermanfaat bagi masyarakat nanti. Selain latar belakang yang gelap seperti ini, aku juga hanya memiliki keterampilan berladang, dan itu pulalah yang menghantarkanku ke sini,” ujarnya sambil menerawang kembali ke masa lalunya saat masih berladang dahulu.

“Jadilah cahaya inspirasi bagi manusia di sekitarmu. Dan jika kau tak sanggup melakukannya, maka jadilah engkau LOBANG tempat dimana cahaya (inspirasi/kebaikan) dapat lewat melaluimu. Seperti lobang pada dinding tersebut yang dapat membuat cahaya baru masuk ke ruangan ini. Dan jika kau masih merasa tak sanggup, maka jadilah engkau PAKU yang dapat membuat lobang tempat cahaya (inspirasi/kebaikan) lewat. Dan jika kau masih merasa tak mampu melakukannya, maka jadilah engkau seperti BATU yang dapat digunakan untuk memukul paku guna melobangi dinding agar cahaya (inspirasi/kebaikan) dapat masuk ke ruangan-ruangan yang masih gelap. Dan jika kau dapat menjadi salah satu dari 4 hal tersebut maka kelak tiap ruang gelap di balik dinding dinding hati manusia perlahan akan tersinari cahaya kebaikan dan kau akan dicatat di langit sebagai manusia pembuat LOBANG tempat cahaya kebaikan masuk ke dalam tiap hati manusia. Dan kau masuk dalam para mereka yang dijuluki oleh nabi yang mulia tersebut sebagai manusia terbaik,” lelaki tua menasihati pria muda dihadapannya tersebut secara panjang lebar melalui tamsil lobang di dinding penjara tersebut.

Si lelaki muda nampak puas dan terlihat api semangat hidup mulai berkobar kembali di air mukanya yang kian cerah setelah mendung kegamangan menghinggapinya beberapa hari ini.

……………………………………………………………………………………

Beberapa tahun berselang, tersiar kabar bahwa si lelaki tua yang bijak tersebut telah mengkhatamkan umurnya. Dan si lelaki muda tersebut telah berhasil menghidupkan sekira 200 hektar lahan tidur menjadi sebuah hutan yang juga berrfungsi sebagai Taman Nasional tempat berbagai spesies flora dan fauna hidup di sebuah wilayah yang sebelumnya adalah lembah-lembah yang belum pernah terjamah dan berhasil pula menghijaukan kembali hutan-hutan kecil di beberapa di wilayah perbukitan yang semula gundul.

Hal tersebut memang bukan atas usahanya sendiri melainkan melalui kelompok-kelompok peduli keselamatan lingkungan yang dia dirikan bersama orang-orang yang terinspirasi oleh dirinya.

Nampaknya dia telah berhasil melaksanakan wasiat si lelaki tua. Untuk manjadi Sumber cahaya (inspirasi/kebaikan), atau Lobang tempat cahaya (inspirasi/kebaikan) lewat, atau menjadi Paku yang digunakan untuk membuat lobang agar cahaya (inspirasi/kebaikan) dapat lewat, ataupun menjadi batu yang digunakan untuk memukul pku yang digunakan untuk membuat lobang tempat dimana cahaya (inspirasi/kebaikan) dapat lewat.

Nilai-nilai dalam kisah di ataslah (mencoba menerapkan filosofi Si Pembuat Lobang kebaikan) yang coba disajikan dalam blog (Kedai Pikir) ini. Saya sang penyeduh bukanlah seorang ustadz, intelektual, cendikiawan, ilmuwan dan sederatan nama gelar terhormat lainnya. Saya hanyalah seorang manusia yang Muslim yang hanya bertugas menyampaikan apa yang harus disampaikan selama hal itu mengandung nilai-nilai kebajikan dan kebenaran seperti sabda Nabi,” Sampaikanlah dariku walau satu Ayat!”.

Jadi tidak ada motif menggurui atau sok lebih tahu, hanya saling mengingatkan dan menyebarkan kebajikan saja motif penyeduh. Semoga saya dan anda yang menyebarkan artikel maupun alamat blog ini dicatat sebagai agen2 dan distributor kebajikan. Amin

7 Tanggapan to “musyafISMe”

  1. levi Says:

    ijin unt sharing k yg lainnya y..

    u’re great..

    1. musyafucino Says:

      enggeh monggo silahkan,

  2. Anggarda Says:

    Syafiiiiiiiii’iiii… add ane di fesbuk ya????

    hahaha. . lama ge temu temen smp nih..😀😀

    1. musyafucino Says:

      insyaallah tapi alamat fb ente q blm tau,bro

  3. dewandy shimasaki Says:

    jadikan kami anggota anda

    1. musyafucino Says:

      Anda, saya dan semua berhak menjadi “Agen-agen” kebajikan. semoga wadah berfikir musyafucino ini adalah sebuah wadah kebajikan sehingga layak disebarluaskan hingga pesan-pesan dan semangat yang diusung musyafucino menginspirasi banyak kawan-kawan yang lain.Semoga. makasih mas😉

  4. windah Says:

    Syafii,,,,,i like it,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s