I help to kill you

I help to kill you

Diseduh Oleh : Musyaf  Senyapena

Sabtu, 11 Oktober 2014, sekira pukul 19.30 an WIB ada berita berjalan/Running Text dalam acara Kompas Petang yang mewartakan bahwa PT. Gudang Garam Tbk. berencana menawarkan pensiun dini bagi para karyawannya karena alasan industri rokok yang makin menuju titik terburuk. Seperti yang diketahui bahwa Pemerintah juga sedang gencar melakukan pembatasan pada industri rokok melalui regulasi yang salah satu contohnya adalah mencantumkan label peringatan MEROKOK MEMBUNUHMU disertai gambar yang makin menyeramkan. Juga pembatasan jam tayang bagi iklan mereka di TV minimal baru boleh tayang jam setengah 10 an malam. Dikabarkan pula dalam warta tersebut bahwa Wakil Gubernur Jawa Timur Gus Ipul meminta agar pabrik rokok besar asal Kediri itu memikirkan kembali rencana perampingan karyawan itu karena dinilai akan berdampak besar terutama dampak pengangguran yang tak sedikit jumlahnya.

Sebelumnya, PT. Bentoel Tbk. asal kota Malang juga sudah menawarkan program pensiun dini kepada 1000 karyawannya dengan dalih efisiensi tenaga kerja. Pabrik rokok kawakan yang kini dimiliki oleh ABT (American British Tobacco) itu memiliki beberapa pabrik yang terbagi menjadi 2 Divisi kerja, yaitu Sigaret Kretek Tangan (SKT) dan Sigaret Kretek Mesin (SKM). Dan yang diefisiensikan oleh perusahaan adalah yang divisi SKT karena selain membebani keuangan perusahaan melalui jumlah karyawan yang banyak, juga karena target produksi yang konon juga menurun. Dari kasus ini banyak yang berfikiran bahwa pengangguran akan makin banyak karena seperti yang diketahui bahwa industri yang berkutat pada tembakau ini sudah “menghidupi” banyak orang. Bukan saja para pekerja dan keluarganya tapi juga masyarakat yang selama ini juga terciprat secara tidak langsung oleh bisnis tembakau itu sendiri. Dampak sosial lah yang sangat dipikirkan oleh Pemerintah. Hal ini pulalah yangg nampaknya menjadikan alasan mengapa NU sebagai ormas Islam terbesar di negeri ini masih abu-abu alias belum secara bulat secara kelembagaan untuk mengeluarkan fatwa haram merokok, NU masih sreg dengan hukum Makruh bagi rokok karena selain banyak warganya termasuk para kyainya yang merokok, juga karena lebih melihat pada dampak sosial seperti masalah pengangguran tadi. Berbeda dengan Muhammadiyah dan Majelis Ulama Indonesia yang telah mengharamkan rokok. Berdasar hasil sidang Ijtima’ MUI di Padang Panjang Sumatera Barat pada 2009, keharaman merokok itu terutama pada anak-anak, ibu hamil, dan juga merokok di tempat umum. Seduhan Lengkap

Iklan